Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
ketika istriku tak lagi meminta uang 34


__ADS_3

Aku pulang dengan taxi kerumah, jam masih 7 pagi. Aku masih punya waktu satu jam lagi pergi ke kantor meminta cuti untuk sementara sampai mas Rahman sadar.


Aku tidak mungkin meninggalkan mas Rahman dan Rania pada ibu seorang diri, sedangkan aku bekerja.


Aku pulang dengan tubuh yang lelah, aku membuka pintu rumah lalu masuk ke dalam kamar. Aku merebahkan tubuh sejenak untuk meregangkan otot yang kaku.


Ting....


pesan masuk ke gawai, aku melihat siapa yang mengirimkan aku pesan.


[ Segera ke kantor, ada beberapa berkas yang harus kamu kerjakan ] pesan itu terkirim dari pak Anggara, aku tidak bisa cuti karena baru kemarin aku di angkat menjadi menejer. Apa kata karyawan lain seorang menejer baru cuti.


Aku menghembuskan nafas dengan kasar, aku menghubungi ibu untuk menjaga mas Rahman di rumah sakit sampai aku pulang kantor, nanti aku akan minta izin dulu untuk pulang lebih awal.


Aku bergegas ke kamar mandi agar aku cepat ke kantor biar semua pekerjaan ku selesai, aku mengguyur air ke seluruh tubuhku. Selesai dengan rutinitas, aku keluar dari kamar mandi.


Satu jam perjalanan, akhirnya aku sampai di kantor. Aku langsung menuju ke ruangan menggantikan pak Yanto, aku melihat sekeliling ruangan. interiornya sangat bagus.


Aku melihat berkas sudah tergeletak begitu saja di atas meja, aku pun memeriksanya atas perintah pak Anggara. Selesai mengerjakan tugas, saya berencana untuk meminta pulang cepat karena harus menjaga mas Rahman ke rumah sakit.


Perasaan aku dari tadi tidak enak, takut terjadi apa-apa dengan mas Rahman.


Drrttt...


suara ponsel bergetar membuat langkah ku terhenti, aku melihat gawai ternyata dari ibu mertuaku.

__ADS_1


"Ada apa, Bu?" tanyaku langsung setelah mengangkatnya.


"Apa, baiklah aku ke sana sekarang!" Aku berjalan menuju lift agar lebih cepat sampai ke lantai bawah.


"Mau kemana, Ratih?"


Langkah ku terhenti saat mendengar suara pak Anggara, aku membalikkan badan untuk menghadapnya.


"Mau ke rumah sakit soalnya mas Rahman sakit dan saya harus secepatnya ke sana," kata ku.


"Ya sudah, Bareng aku saja lagian mamaku masih disana," kata Anggara.


Aku memang butuh tumpangan agar segera sampai di rumah sakit. kata ibu, mas Rahman sudah siuman dan menanyakan aku. Syukurlah dia sudah melewati masa kritisnya.


Mobil terus berlaju tapi terasa lambat bagiku, aku menggerutu kesal.


"Pak Anggara boleh ngebut sedikit," kata ku.


"Memangnya kenapa?"


"Aku mau cepat sampai di rumah sakit," kata ku kesal.


"Kita sudah sampai di rumah sakit," kata Anggara terkekeh geli.


Aku menatap sekeliling, memang benar kami sudah sampai di rumah sakit dan ternyata aku dari tadi melamun, aku menggaruk tekuk yang tidak gatal lalu turun dari mobil Anggara.

__ADS_1


"Terimakasih sudah memberiku tumpangan, Pak," kataku pada Anggara lalu berjalan melewati koridor rumah sakit, hatiku berdebar seakan jalan ku sangat lambat untuk sampai ke kamar mas Rahman di rawat.


Ceklek...


Aku membuka pintu kamar tanpa peduli dia yang sedang sakit aku langsung memeluknya. Betapa rindu diri ini padanya.


"Mas, apa kamu tahu kalau aku sangat merindukan kamu dan aku juga mau minta maaf kalau aku sudah salah paham sama kamu selama ini," kataku.


Hening, tidak ada jawaban. Apa mas Rahman belum sadar tapi kata ibu dia sudah sadar.


"Ratih, siapa yang kamu peluk?"


Suara itu bukannya itu suara mas Rahman, kalau itu suara mas Rahman yang aku peluk ini siapa. Bukannya mas Rahman sedang sakit.


Aku melihat ke arah lelaki yang aku peluk, betapa kagetnya aku melihat dia ada disana dan merasa malu aku memukulnya hingga kesakitan.


"Ampun mbak, sakit tahu kok aku di pukuli,"


"Sakit kamu bilang, kamu ngerjain Mbak," kata ku tersenyum malu.


"Semua ini rencana mas Rahman, aku hanya ikuti saja," kata Dion menaikkan alisnya lalu mengarah pada mas Rahman yang duduk di kursi.


"Mas, kamu habis dari mana! kamu kan belum sembuh total," kataku. Aku berjalan ke arah mas Rahman lalu berlutut dihadapan dan memeluknya, bersyukur mas Rahman sudah melewati masa kritisnya.


"Assalamualaikum...!!

__ADS_1


__ADS_2