Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
istriku tak lagi meminta uang 129


__ADS_3

Kami makan dalam diam, hanya terdengar dentingan sendok di atas meja. Aku merasa sungkan harus berada di tengah-tengah di keluarga pak Brata.


Selesai makan, aku membawa piring kotor ke dapur untuk di cuci di bantu oleh Bibik. Hari pertama aku disini membuat aku jenuh apalagi jika selamanya aku tinggal disini bisa mati berdiri aku.


______________&&&&&&&&&____________


"Mama ingin kita cepat menikah sayang," kata Fadli pada Silvi yang sedang makan siang siang bersama di resto, ia menatap Fadli lalu kembali makan.


"Kok di percepat Mas, apa terjadi sesuatu sama Mamanya Mas," tanya Silvi menghentikan mengunyah makanan di mulutnya.


"Tidak sayang, soalnya Mama mau Kembali ke Ausy jadi Mama ingin melihat kita menikah sebelum Mama kembali ke sana," kata Fadli menjelaskan alasan kenapa pernikahan mereka di minta untuk di percepat.


Silvi hanya diam, ia tidak enak jika mengatakan pada Ratih dan Rahman kalau pernikahan mereka di percepat lagi karena calon mamernya mau kembali ke Ausy. Apalagi beberapa bulan yang lalu baru saja menggelar acara pertunangan di hotel bintang 5 dengan meriah.

__ADS_1


"Kenapa, apa kamu keberatan sayang?" Tanya Fadli menatap wajah sendu Silvi.


"Tidak,Mas! Aku hanya sedang memikirkan biaya untuk acara pernikahan kita. Belum lagi WHOnya sangat mahal." Kata Silvi dengan wajah cemberut. Dia tidak bisa mengadu semua hal pada kakak iparnya apalagi Ratih sudah pindah rumah.


"Kamu tidak perlu memikirkan semua itu, biar mas yang bayar agar kita cepat nikah. Mas gak sabar kita bisa bareng," ujar Fadli mengelus puncak kepala Silvi, tapi Silvi merasa tidak enak jika semua di tanggung semua oleh Fadli.


Belum lagi untuk seserahan bisa menghabiskan uang puluhan juta, Silvi merasa tidak enak hati.


"Tidak usah, Mas. Kita patungan saja gimana?"


"Tidak, biar mas yang bayar semuanya. Uang Mas cukup kok untuk membayarnya," kata Fadli menghapus bibir yang baru saja selesai makan dan minum.


Karena tidak mau lagi beradu argumen, akhirnya Silvi mengalah dan mereka pun keluar dari cafe setelah membayar makanan tadi.

__ADS_1


**** ****


"Gak balik ke kantor, Mas?" Tanya ku penasaran melihat mas Afnan yang sudah berbaring di atas ranjang di dekat Rania yang tidur. Aku baru saja selesai melaksanakan shalat Zuhur dan kini, di rumah inilah aku bernaung untuk sementara.


"Gak, Mas pengen menghabiskan waktu disini! Sama kalian berdua," kata Mas Afnan mengecup kepala putriku yang sedang tidur, aku melipat mukena lalu meletakkannya di atas tempat tidur.


Sudah lama kami tidak berkumpul, kini hari ini dia tidak pergi ke kantor hanya untuk memaniku di rumah yang sangat mewah ini. Aku. Aku berjalan menaiki ranjang sedangkan ma Afnan sudah terlelap di atas tempat tidur.


Aku pun ikut tidur siang karena mataku pun tidak bisa untuk di ajak bersantai karena rasa kantuk yang mendera, beberapa kali aku menguap lalu merebahkan tubuh ini begitu saja.


Di saat mata ingin terpejam, tapi dering ponsel membuat aku terganggu. Dengan mata terpejam aku mencari ponsel untuk melihat siapa yang menghubungi ku ternyata dari Silvi


"Ya, ada apa Sil? tanya ku di sela-sela telepon.

__ADS_1


Mataku memang berat, rasanya tidak sanggup lagi untuk bertanya.


__ADS_2