
Kami ke rumah ibu bersama-sama dengan ibu Lydia, entah apa yang akan terjadi nanti jika ibu melihat Bu Lydia atau akan terjadi kekacauan disana nantinya.
Ah, aku tidak baik berprasangka dulu pada Bu Lydia karena belum tentu Bu Lydia merencanakan sesuatu yang akan membahayakan mas Afnan bukankah Bu Lydia sangat menyayanginya.
Kami sampai di depan rumah dalam waktu 30 menit, kami turun bersama-sama karena sebelum berangkat aku sudah menghubungi Silvi datang.
Ting...tong....
Mas Afnan menekan bel rumah lalu keluar Silvi membuka pintu.
"Mbak, Mas, Ayo masuk!" Kata Silvi tersenyum namun matanya mengarah ke arahku seakan ingin menanyakan siapa wanita yang ada di sampingku.
"Ma, ayo masuk!" Kata Mas Afnan mempersilahkan Bu Lydia masuk ke rumah. aku berlalu ke dalam menemuo ibu dan membuat minuman untuk Bu Lidya, terlihat ibu baru saja keluar dari kama.
"Ratih, kalian sudah datang?" tanya ibu.
"Iya Bu, baru saja tapi di depan ada Bu Lydia! Mamanya Mas Afnan," kata ku.
Ibu terlonjak kaget saat aku mengatakan ibu Lidya juga ada di depan, beliau menatap ke arah ku seakan meminta jawaban yang aku katakan itu tidak benar.
"Ibu kok bengong! Kenapa?" tanya ku.
"Ah, tidak apa-apa? Sebaiknya ibu temui Rahman dulu!" Kata ibu.
Aku merasakan ada sesuatu yang di sembunyikan oleh ibu tapi apa, aku juga tidak tahu. sebaiknya aku buatkan saja minuman dulu untuk mereka.
__ADS_1
______________&&&&&&&&&_______________
Bu Romlah sampai di depan ruang tamu dan kaget melihat perempuan yang sedang duduk di sofa sendirian, memperhatikan setiap desain ruang tamu tersebut.
"Mbak Lidya...!" Merasa namanya di panggil, Lidya menoleh ke asal suara dan kaget melihat orang yang sudah tidak pernah ia temui selama 20 Tahun kini di pertemuan dalam keadaan yang tidak tepat.
"Ro...mlah, benarkah itu kamu?" tanya Bu Lydia dengan suara terbata. Ia merasa degup jantungnya semakin berdetak belum lagi ia harus bertemu dengan orang yang selama ini ia hindari.
Entah, ada rahasia apa di antara mereka! Sepertinya Bu Lydia cukup takut jika bertenu dengan Bu Romlah.
"Iya, aku Romlah. Dimana putraku, Mbak?" tanya Bu Romlah setelah menetralisir amarah yang ada di hatinya, ia mencoba berbicara dengan baik-baik.
"Maksud kamu apa? Putra siapa yang kamu maksud," kata Bu Lydia merasa takut jika rahasianya mengambil putra Bu Romlah terbongkar.
20 tahun yang lalu, Bu Romlah dalam keadaan hamil 9 bulan membutuhkan biaya persalinan karena harus operasi tapi ia tidak mempunyai biaya. Suaminya hanya bekerja sebagai tukang panggul di pasar saat ini dan tidak punya uang.
Karena saat itu tidak ada biaya, terpaksa Bu Romlah dan suaminya merelakan putranya di ambil oleh Bu Lydia dan ia pun pergi jauh dari kehidupan Romlah padahal ia sudah berjanji memberikan izin menjenguk putranya.
"Putra yang kau ambil, Mbak! Dimana dia sekarang," kata Bu Romlah sedikit mengerasi suara, mendengar ada keributan Rahman langsung turun ke bawah begitu juga dengan Ratih dan Silvi.
"Aku tidak mengambil putramu, dia putraku bukankah aku sudah membayar persalinan kamu waktu itu," kata Bu Lidya mengingatkan pada Romlah jika ia sudah berjasa padanya.
"Tapi mbak, aku ingin bertemu dengannya! Dia putraku," kata Bu Romlah lagi.
"Putra siapa, Bu?" tanya Rahman datang bersama Ratih dan Silvi. Bu Lidya diam, tubuh menegang seakan tersengat listrik.
__ADS_1
"Adikmu," ujar Bu Romlah datar menatap Bu Lidya.
"Maksud ibu, Apa? Lalu apa hubungannya dengan Bu Lidya." Kata Rahman.
"Duduk lah, akan ibu cerita semuanya!" Kata Bu Romlah menyuruh anak-anak di sofa.
Bu Romlah mulai menceritakan kejadian 20 tahun yang lalu, tentang adiknya yang di ambil oleh Bu Lydia. Rahman dan Silvi kaget mendengar itu semua, 20 tahun Bu Romlah menyimpan rahasia yang sebesar itu.
Setelah mendengar penjelasan ibunya, Rahman menatap Bu Lydia. Ia menggenggam tangan Bu Lydia lalu menatap matanya.
"Mama, katakan jika Afnan itu adalah adikku," Rahman menatap Bu Lydia.
Bu Lydia hanya diam, ia tidak menjawab sepatah kata apapun. Afnan memang anak Bu Romlah, 5 tahun menikah Bu Lydia saat itu tak kunjung hamil lalu mengambil Afnan sebagai ganti karena ia telah membayar biaya rumah sakit saat itu.
Sehingga setelah 5 tahun merawat Afnan, ia baru hamil dan melahirkan Amelia Putri semata wayangnya.
"Katakan yang sebenarnya, Ma! Demi aku," Mohon Afnan, Silvi dan Ratih hanya diam tanpa menyela apapun.
"Iya, dia anaknya Romlah! Adik kamu," kata Bu Lidya menatap Rahman, ia merasa bersalah belum mempertemukan Afnan pada orang tuanya tapi ia sudah meninggal.
Bu Lydia hanya takut jika Romlah akan membawah masalah ini ke jalur hukum, apalagi Bu Lydia mengambil Afnan tanpa pengacara atau surat-surat hak asuh sehingga jika di bawa ke ranah hukum akan bersalah.
"Dimana anakku, Mbak," tanya Romlah lagi.
"Dia sudah meninggal satu tahun yang lalu, mengingat kanker leukemia stadium empat," kata Bu Lydia datar.
__ADS_1
Bu Romlah menutup mulut, menahan tangis. Ia tidak menyangka jika putranya sudah meninggal sebelum ia bertemu dengannya. Semua larut dalam kesedihan, pembicaraan tentang pernikahan Silvi pun di tunda.
Bu Lydia dan Rahman pulang kekediaman pak Brata begitu juga dengan Ratih, mereka pulang dalam keadaan diam. Tidak ada pembicaraan, hanya terdengar suara jangkrik di malam hari.