
"Apa, pergi kemana? Kenapa ibu gak bilang padaku," kata Anggara berlari ke kamarnya mengambil kunci mobil lalu kembali menuruni anak tangga satu persatu.
Bu Sonya menggeleng kepala melihat tingkah putranya dan tahu kalau di antara mereka mempunyai perasaan satu sama lain tapi saling memendam.
"Semoga kamu menemukan dia?" Gumam Bu Sonya.
Anggara mengendarai mobilnya menuju rumah Stefani, berharap kalau dia ada disana. Perasaan bersalahnya karena sudah marah pada Stefani membuat di tidak bisa tidur, apalagi Stefani pergi dari rumahnya tanpa sepengetahuannya.
Satu jam perjalanan, Anggara sampai di rumah Stefani lalu turun. Ia memakai baju kaos dengan celana pendek menambahkan ketampanannya.
Tok...tok...tok...
Anggara mengetuk pintu rumah Stefani hingga tiga kali tapi tidak ada yang membukakan pintu, dia yakin ada orang di dalam rumah tersebut.
Ceklek... Pintu pun terbuka setelah 5 menit menunggu, terlihat seorang ibu-ibu berusia 45 tahun keluar dari rumah.
"Maaf, cari siapa ya?" tanya wanita tersebut tak lain adalah orang tua Stefani.
"Saya Anggara, Stefani ada gak Tante?" tanya Anggara.
Wanita tersebut menatap Anggara lalu menghembuskan nafasnya dengan teratur.
"Stefani tidak ada disini, mungkin dia berada di rumah temannya,"
"Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu Tante," kata Anggara pamit lalu berjalan ke arah mobilnya yang terparkir.
Sesekali Anggara menoleh ke arah kamar yang lampunya masih menyala, berharap Stefani keluar dari kamar tersebut tapi tidak, tidak ada orang yang berdiri di depan jendela.
Di balik jendela sebuah kamar bernuansa pink dengan gambar hello Kitty, sedang berdiri seorang perempuan. Siapa lagi kalau bukan Stefani, dia berjalan lalu duduk di atas tempat tidur miliknya.
"Apa yang sebenarnya terjadi sayang!" tanya tante Yuli.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Tante, Dia bos tempat Stefani bekerja mungkin dia mencari aku karena tadi aku gak bilang kalau aku berhenti bekerja," kata Stefani panjang lebar, ia tidak ingin tantenya tahu tentang masalah yang di hadapinya.
"Apa kamu mencintainya? Kamu bisa menceritakan semuanya pada Tante karena Tante sudah menganggap kamu seperti putri Tante sendiri. Apalagi kakak mu Sinta pergi meninggalkan rumah ini dan lebih memilih untuk tinggal di luar sana," kata Tante yuli mengingat putrinya yang keras kepala dan memilih hidup bebas di luar sana, kini ia mendengar kalau Sinta hamil di luar nikah membuat hati Tante Yuli hancur.
"Aku tidak apa-apa, Tan. Stefani mau membereskan pakaian, kan besok Stefani harus berangkat pagi-pagi ke London untuk kuliah," kata Stefani tersenyum.
"Kami benaran mau kuliah disana, paman kamu bisa saja menarik beasiswa kamu dan mengambil kuliah disini," kata Tante Yuli takut melepaskan Stefani.
"Tidak usah tante, aku mau kok kuliah disana lagian aku bisa jalan-jalan ke keliling London sambil kuliah Tante," kata Stefani tersenyum, dia pernah bermimpi bisa mengelilingi kota London tapi hari ini dia bisa kuliah disana berkat mendapatkan beasiswa.
"Ya sudah, Tante keluar dulu nanti kalau sudah selesai jangan lupa makan," kata Tante Yuli.
Stefani hanya mengangguk lalu meneruskan memasukkan bajunya ke dalam koper karena besok dia harus berangkat ke London.
Visa dan berbagai surat sudah di urus sebulan yang lalu, kini dia tinggal berangkat besok ke London.
****
Malam terus berlalu, aku membawa ibu makan di luar di restoran milik kami, Silvi dan ibu sangat senang menyicipi semua makanan yang di hidangkan.
"Wah, restoran ini sudah ramai kembali. Dulu hampir gulung tikar karena Rahman terlalu percaya pada temannya," kata Bu. Menyantap ayam goreng.
Aku hanya tersenyum sambil menyuapi Rania, sedangkan Silvi terus makan dengan lahap. Hatiku merasa tidak tenang, rasa rindu pada mas Rahman semakin menggebu.
"Kalau saja mas Rahman ada disini pasti seru lagi?" Kata Silvi membuat aku terenyuh, makanan yang ku makan rasanya sangat sakit saat aku menelannya.
Silvi benar jika saja mas Rahman ada disini pasti semua akan indah tapi kemana lagi aku harus mencarinya, apakah aku harus memasang poster agar orang-orang yang melihat mas Rahman bisa menghubungiku.
"Maaf ya Mbak, gara-gara aku mbak jadi sedih," kata Silvi membuyarkan lamunan ku.
"Mbak tidak apa-apa kok, ayo makan lagi setelah ini kita pulang untuk beristirahat," kata ku kembali menyantap hidangan walaupun rasanya terasa hambar ketika di makan.
__ADS_1
Kami berjalan ke arah taxi yang sudah menunggu di depan cafe karena tidak ada mobil, untuk membeli mobil uangnya belum cukup. Aku yang sedang memasukkan dompet ke dalam tas tidak sengaja menabrak seseorang sehingga dompet aku terjatuh.
Bruk...
"Maaf, aku tidak sengaja," kata ku melihat seorang laki-laki menutupi kepalanya dengan jaket lalu mengambil dompet aku yang jatuh.
"Ini dompetnya, Mbak?"
Bukannya mengambil dompet mataku tertuju pada jam tangan yang ada di tangannya, jam tangan itu mirip sekali dengan jam tangan mas Rahman.
"Mbak, ini dompat mbak!" Lagi - lagi aku melamun, aku mengambil dompet sambil melirik ke arah jam tangan yang ada pada lelaki tersebut.
Kenapa harus memakai penutup kepala, jadi aku tidak bisa mengenalinya.
"Ah, terimakasih?" Kata ku.
Aku mencoba untuk mencari cara untuk melihat lengannya, jika ia benar mas Rahman pasti ada tangan lahir di tangan tapi bagaimana caranya.
"Ayo, mbak. Ini sudah malam lhoe?" Teriak Silvi.
Terpaksa aku harus pergi, gerak gerik lelaki tersebut sangat mencurigakan dengan memakai jaket dan penutup kepala, sebaiknya aku datang lagi ke restoran besok.
Aku menaiki taxi yang sudah lama menunggu, hanya butuh waktu 30 menit kami sudah sampai ke rumah. Pikiran ku masih berkelana dengan jam yang di pakai oleh lelaki tersebut, mungkin itu mas Rahman tapi jika benar kenapa dia harus bersembunyi dari ku.
Apa mas Rahman sangat membenciku sehingga untuk bertemu dengan ku saja tidak mau, Apakah kesalahan yang tidak aku perbuat harus aku yang menanggungnya. Besok sebelum ke kantor, aku akan ke restoran untuk melihat omset bulan lalu apa sudah berkembang atau masih sama waktu mas Rahman mengelola restoran itu.
Tak lama kemudian, kami sampai di depan rumah dan kami segera turun dari mobil lalu ibu membuka pintu gerbang, tadi Siti tidak mau ikut karena banyak kerjaan dan aku sengaja membungkus makanan untuknya agar dia juga bisa merasakan makanan restoran.
Dia memang pernah berbuat kesalahan tapi semua orang bisa berubah jika ada niat yang baik. Aku membawa Rania ke kamar atas sedangkan ibu masih duduk di sofa ruang tamu.
"Bu, memangnya benar kalau mas Rahman tidak pernah menghubungi ibu," tanya Silvi pada ibunya.
__ADS_1
"Apa kamu mencurigai ibu?"