
Siapa telfon, Ra?" tanya Rania.
"Teman aku, Kak! kenapa?" Aira balik bertanya.
"Gak, Kok kakak dengar seperti suara Dilon," kata Rania.
"Suara kak Dilon, mana mungkin! mungkin kakak itu merindukannya sehingga mengira kalau teman aku sama seperti kak Dilon,"
Kata Aira gugup, pasalnya ia takut jika kakaknya tahu kalau yang berbicara dengan dirinya adalah Dilon.
'Rindu, mana mungkin,' batin Rania berkata.
Rahasia apa yang di sembunyikan oleh Aira sehingga membuat ia gugup jika kakaknya tahu kalau Dilon menghubunginya.
Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah cafe. Aira langsung turun begitu juga dengan Rania setelah memarkir mobil miliknya.
Mereka masuk ke dalam dan mencari meja untuk duduk, Aira menunjukkan meja di tengah pengunjung yang lain. Hanya meja itu yang tersisa sedangkan yang lain sudah terisi penuh dengan pengunjung yang lain.
"Kak, kita duduk disana aja deh! Lagian semua meja udah penuh," ujar Aira menunjukkan meja kosong, Rania mengangguk lalu mereka berjalan ke meja tersebut lalu menghempas bokong mereka di atas kursi.
"Mau pesan apa, dek?" tanya Rania.
__ADS_1
"Terserah Kakak saja, aku kan baru sampai disini. Mana tahu aku menu disini?" Ujar Aira.
"Hmm... Bisa saja kamu malas lihat buku menu?" Ujar Rania membuka buku menu.
Rania sangat tahu jika di ajak makan di luar pasti Aira paling malas lihat buku menu kecuali jika dia pergi sendirian, tapi jika ada orang yang terdekat dengannya maka ia lebih memilih menyuruh memesan makanannya tentu orang yang menjadi anggota keluarganya.
"Kak, cowok kakak lama gak sih datang?" tanya Aira.
"Hmm... Bentar lagi juga datang," ujar Rania sambil melihat buku menu lalu memanggil pelayan dan memesan minuman mereka.
"Mbak, kita pesan jus jeruk dua sama spaghetti ya!" ujar Rania memberikan buku menu pada pelayan.
Aira hanya diam, ia asik dengan ponsel yang ada di tangannya tak peduli ada orang kanan kiri, ia menjadi wanita cuek jika saat berada di layak ramai tapi sangat hamble jika dia sudah kenal dengan seseorang.
"Hai, sudah lama nunggu ya?" Seseorang datang menghampiri Rania dan Aira, Rania menoleh ke asal suara begitu juga dengan Aira.
"Ah, gak juga! Ayo duduk, Nik," ujar Rania menyuruh Niko duduk di bangku kosong.
Aira hanya diam lalu kembali terlihat biasa saja.
"Dia siapa?" tanya Niko membuat Aira kembali menatap sekilas ke arah Niko.
__ADS_1
"Dia Aira, Adikku! Aira kenalkan ini teman kakak Niko," ujar Rania memperkenalkan mereka berdua.
Lagi-lagi Aira diam tanpa berkata, ia merasa Niko bukanlah pria yang baik untuk kakaknya.
"Niko! Aira!" Akhirnya mereka saling memperkenalkan diri setelah diam beberapa menit. Rania tersenyum lalu mereka kembali duduk.
Satu jam berlalu membuat Aira di landa kebosanan, tidak ada teman ia bicara. ia bagaikan nyamuk di antara mereka berdua, jika ia tahu akan seperti ini maka ia lebih memilih tidur di rumah. Tawa cekikikan terdengar di antara mereka membuat Aira semakin kesal.
"Kak, pulang yuk!" ujar Aira.
Rania yang sedang berbicara dengan Niko melihat ke arah adiknya dan melirik jam masih jam 8 malam.
"Pulang, tapi ini masih jam 8 malam Aira?" ujar Rania.
"Memangnya kenapa? aku bosan disini hanya menjadi nyamuk kalian berdua, lagian ketemuan kok disini?" Aira bersungut kesal bukan karena menjadi nyamuk tapi ia kesal karena lelaki yang mengirim pesan ia terus menganggu ya dari tadi.
"Bagaimana, Nik! Aira ngajak pulang ni?" ujar Rania tidak enak dengan Niko.
"Ya udah, gak papa! lagian besok-besok kita bisa ketemu lagi," kata Niko tersenyum.
Rania hanya mengangguk, lalu mereka pulang dengan mobil masing-masing. Sementara Aira asik bermain dengan ponselnya, ia begitu penasaran dengan lelaki yang terus menghubunginya sejak dia di Amrik.
__ADS_1