Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
ketika istriku tak lagi meminta uang 46


__ADS_3

Pak Yanto, kok mereka ada disini? Apa lagi Sinta dan Riko juga ada di satu meja yang sama, aku harus mengetahui tentang mereka. Aku mencari meja kosong yang tidak jauh dari mereka, aku memakai masker untuk jaga-jaga agar tidak ketahuan.


Aku duduk membelakangi mereka bertiga, biar mas Rahman lama di kamar mandi agar aku bisa leluasa untuk mendengarkan pembicaraannya.


"Bagaimana, apa kamu sudah mendapatkan nya?"


"Belum, Pa. Kemarin saat aku sedang mengutak-atik laptopnya Anggara, dia malah datang untung saja aku tidak ketahuan." ujar Sinta.


Apa, Sinta memanggil pak Yanto dengan sebutan papa, apa pak Yanto orang tua Sinta tapi kok aku tidak tahu. Kenapa begitu banyak sekali teka-teki membuat kepala aku pusing.


"Iya, sayang. Kamu harus bisa mencuri file itu agar kita memenangkan tender proyek yang akan di lakukan dua Minggu lagi," kata Riko.


Aku terus saja mendengar pembicaraan mereka, saat ini aku belum bisa menemukan titik terang. Mas Rahman juga belum kembali dari kamar mandi, apa dia sudah pingsan disana.


"Nanti aku usahakan untuk bisa mencuri file perusahaan Anggara, Pa, Mas," kata Sinta.

__ADS_1


Aku tidak pernah menyangka kalau Sinta ikut andil dalam semua ini dan apa hubungannya dia dengan Riko padahal selama ini dia tidak pernah bercerita apa-apa padaku kalau dia sudah punya kekasih, apa Riko dan Sinta saudara.


"Maaf, sudah lama menunggu?"


Seseorang datang membuyarkan lamunan, ku lihat ke arah laki-laki tersebut ternyata yang datang adalah pak Sanjaya. Apa lagi ini, apa yang mereka ingin sebenarnya.


"Bagaimana, apa kamu sudah mendapatkannya," tanya pak Sanjaya.


Sinta menggeleng lemah, pak Sanjaya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia menyesap rokok yang ada di tangannya.


"Bagaimana dengan proyeknya yang ada di Jakarta Selatan," tanya pak Sanjaya.


"Buat Anggara mengalami kebangkrutan dan ganti semua barang dengan barang yang murah dan naikkan harga belinya agar kita bisa meraup keuntungan lebih banyak," kata pak Sanjaya tersenyum.


Semua ikut tersenyum dengan perkataan pak Sanjaya, bukankah pak Anggara sudah memberikan separuh hartanya untuk mereka.

__ADS_1


"Bagaiman suatu saat kalau kita ketahuan," tanya Riko.


"Apa yang selama ini papa lakukan ketahuan, selama ini papa mampu membodohi mereka. Tentunya mereka tidak tahu kalau aku menikahi Sonya hanya untuk mengambil hartanya, aku pikir aku bisa mendapatkan setengah bagian dari harta mereka tapi mereka memberikan hanya 30 persen."


Semenjak itu, papa mulai bermain curang untuk mengambil sebagian hak papa tapi sayang kamu malah membuat papa terusir dari rumah itu.


"Maafkan aku, Pa?" ujar Riko.


"Harapan kami hanya pada kamu, sayang. Kau pasti bisa mengambil file perusahaan Anggara," kata Riko.


"Nanti aku usahakan lagi, Mas?" kata Sinta.


Terlihat mas Rahman keluar dari arah kamar mandi, aku berjalan menemui lalu membuka masker. Untung saja tadi aku merekam pembicaraan mereka jadi aku bisa mengirim pada pak Anggara.


"Mas kok lama banget," tanyaku dengan wajah cemberut pura-pura lelah menunggu.

__ADS_1


"Maaf, tadi mas sakit perut jadi lama ke kamar mandinya. kita ke belakang saja biar mas kenalin kamu sama karyawan di sini."


Mas Rahman menarik tanganku, membawanya masuk ke dalam restoran miliknya. aku menatap sekelilingnya, semua harus di ganti dengan bagus. Aku akan menyulap restoran ini menjadi lebih bagus nanti.


__ADS_2