Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
ketika istriku tak lagi meminta uang 74


__ADS_3

"Aku sudah menyuruh anak buah ku untuk mencari Rahman, semoga saja mereka cepat mengetahui Rahman ada dimana?" Kata Anggara.


"Terimakasih sudah mau menolong,"


Sekilas padangan kami beradu, lalu aku menoleh ke arah Stefani yang ikut bersama kami. Dia banyak diam setelah ia di sekap, aku merasa ia mengetahui sesuatu tentang Riko.


"Stefani kok melamun?" tanyaku memegang pundaknya, ia sedikit tersentak mungkin ia sedang memikirkan sesuatu.


"Ah, tidak apa-apa Mbak. Aku mau ke kamar dulu,"


Stefani beranjak dari sofa lalu berjalan ke kamarnya, aku hanya mengangguk sementara Anggara sudah berjalan ke kamarnya karena besok pagi-pagi sekali kami harus berangkat.


Ting...


Pesan masuk ke dalam ponsel lalu melihat ada nomor yang tidak di kenal, aku pun membuka pesan tersebut.


[ Apa kamu sudah siap kehilangan putrimu ]


Seseorang mengirimkan pesan ke ponselku, aku tahu kalau ini pasti Riko. Apa dia pikir aku tidak tahu kalau dia yang sudah menculik anakku.


Aku mengirimkan pesan pada nomor yang tidak aku kenal sama sekali.


[ Siap-siap untuk mendekam penjara ]

__ADS_1


Aku membalaskan pesan dan ikut memberi ancaman padanya agar dia tahu kalau aku bukanlah wanita yang lemah, aku akan membuat ia menyesal karena sudah membuat aku terpisah dari suami juga putriku.


Aku mematikan ponsel lalu ikut berjalan ke kamar untuk istirahat, aku melihat Stefani sudah terlelap tidur di saat aku masuk ke dalam kamar. Aku ikut berbaring di sampingnya, mencoba untuk memejamkan mata ini agar besok akan kembali segar.


*** ****


Di Jakarta.


"Argh...sial kurang ajar. Berani sekali dia mengancam aku,"


Riko menyugar rambut dengan kasar, ia tidak habis pikir pada Ratih yang di anggap akan lemah jika ia kehilangan orang yang dia sayang. Apa lagi Rahman yang sudah pergi tanpa kabar dan kini Rania tidak bersamanya.


"Ada apa sih, kok teriak-teriak," tanya pak Yanto yang datang entah dari mana.


"kalau begitu kamu foto putrinya dan kirimkan padanya agar dia merasa tersiksa, bukankah seorang ibu akan tersiksa jika mendengar putrinya menangis," kata Pak Yanto dengan tersenyum menyeringai.


Riko pun menyetujui usulan dari pak Yanto lalu berjalan ke kamar Rania dan Silvi.


Ceklek...


Pintu terbuka membuat Silvi yang sedang memejamkan matanya terbuka, sementara Rania sudah terlelap tidur. Anak yang tidak tahu apa-apa harus menerima akibatnya, Riko mengambil dari atas tempat tidur.


Reflek... Rania terbangun dan menangis dengan kejer, Silvi mencoba untuk mengambil Rania tapi pak Yanto menahan tangannya. Riko mengambil ponsel lalu merekam tangisan Rania yang sudah kejer, setelah semua selesai Riko kembali memberikan Rania pada Silvi.

__ADS_1


"Buat dia berhenti menangis!" Kata Riko meninggalkan kamar lalu menguncinya kembali.


"Aku yakin kamu akan menangis, Ratih?" Gumam Riko tersenyum lalu mengirim pesan pada Ratih.


*** ***


Bandung


Lagi-lagi pesan kembali masuk di aplikasi wa, aku mengambil lalu melihat ada rekaman yang di kirim oleh Riko. Rekaman apa, sebaiknya aku putar saja biar tidak penasaran.


Aku menekan tombol untuk menghidupkan rekaman tersebut dan aku syok mendengar tangisan Rania, apa Riko menyakiti Rania sehingga dia menangis.


Air mata ku jatuh seketika, hatiku sakit mendengar semua ini. Aku mencoba menghubungi nomor yang mengirim pesan tapi tidak angkat, aku terus mencobanya.


[ Bagaimana, apa kamu masih berani mengancam ku ]


Lagi-lagi pesan itu kembali masuk ke gawai milikku, hatiku mulai tidak tenang dan semua ini karena kesalahan yang aku perbuat sehingga Rania harus menanggungnya.


[ Jangan sakiti putriku, atau kamu akan mendapatkan akibatnya ] aku kembali mengancam Riko walaupun dengan tangan bergetar, aku tidak bisa seperti ini terus.


Aku mematikan ponsel rasanya aku tidak ingin mendengar apapun, aku hanya ingin besok akan cepat berlalu agar aku bisa bertemu dengan putriku.


Maafkan mama, kamu harus merasakan apa yang tidak kami ketahui sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2