Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 91


__ADS_3

"Silvi...," Aku menoleh ke belakang melihat Silvi berjalan ke arah ku dan dokter Fadli.


Ah, aku lupa. Dokter Fadli tidak mengenaliku karena aku tidak lagi menjadi Rara, lalu apa hubungan dokter Fadli dan Silvi. Apa Silvi sudah tahu kalau dokter Fadli si Mikky teman semasa sekolahnya dulu.


"Mbak masuk ke dalam saja, aku berangkat dulu ya," kata Silvi menarik Fadli yang masih berada di depan pintu. Dia sangat bingung melihat Silvi yang terus menariknya sampai ke mobil.


"Kenapa kamu harus menjemput ku," kata Silvi kesal soalnya dia malu jika ibunya melihat dia di jemput oleh seorang laki-laki yang baru dia kenal.


"Memangnya kenapa?" tanya Fadli sok polos.


"Kenapa katamu, aku gak suka kamu jemput dan aku bisa datang sendiri ke apartemen kamu," kata Silvi menahan kekesalan pada Fadli.


"Ya sudah, Maaf? Ayo masuk lagian aku menjemputmu karena aku tidak tahu yang mana nomor kamu," kata Fadli.


"Bukannya aku sudah menyimpannya di ponsel mu," kata Silvi masih berdiri di samping mobil milik Fadli.


"Nomor mu tak sengaja terhapus semalam?" ujar Fadli beralasan padahal dia memang sengaja ingin menjemput Silvi ke rumahnya.


"Ya, salam! sudah, ayo berangkat sekarang," kata Silvi masuk ke mobil Fadli tanpa disuruh oleh pemiliknya. Fadli hanya tersenyum lalu berjalan memasuki mobilnya dan duduk menyetir mobil.


Sepanjang perjalanan, Silvi hanya diam dengan perut lapar karena tadi syok Fadli menjemputnya ia sampai menunda makan. Kini dia merasa kelaparan dengan mengelus perutnya.


Fadli melihat Silvi seperti itu, ia memberhentikan mobil tepat di depan warung makan di pinggir jalan.


"Ayo, turun dulu! kita makan lagian aku juga belum makan pagi," kata Fadli membuka pintu begitu juga dengan Silvi. Dia sangat senang karena bisa makan enak pagi ini.


"Tadi itu siapa?" tanya Fadli memulai pembicaraan.


"Mbak Ratih, memangnya kenapa?" tanya Silvi di sela-sela dia makan.


"Gak, soalnya kayak pernah lihat aja tapi gak tahu di mana," kata Fadli mengingat wajah yang tak asing bagi Fadli.


"Mungkin hanya kebetulan saja?" kata Silvi memakan nasi kuning kesukaannya.


Selesai makan, mereka kembali berjalan menempuh jarak rumah sakit satu jam perjalanan.


"Lho, kok kita kesini? siapa yang sakit," tanya Silvi ketika mobil sudah masuk ke pelantaran rumah sakit.


"Kami ikut saja, tiga hari kamu bekerja sama aku jadi terserah aku dong mau aku ajak kemana!" ujar Fadli.


Dengan wajah cemberut, Silvi turun dari mobil dan berjalan ke arah Fadli. Silvi melihat ke seluruh arah rumah sakit.


"Ayo, kamu ikut aku?" kata Fadli berjalan di lorong-lorong rumah sakit menuju ruangannya, Silvi mengekor di belakang.


Kenapa harus ke rumah sakit, katanya aku harus bekerja di apartemennya lalu kenapa dia membawa aku kesini, batin Silvi.


Sesampai di ruangan bertulisan Dr. Fadli, Silvi bengong melihat papan nama. ia menoleh ke arah Fadli memakai jas putih, dia baru sadar kalau Fadli seorang dokter.

__ADS_1


"Kamu bekerja disini?" tanya Silvi berdiri di pintu ruangan Fadli.


"Baru hari ini aku bekerja disini, selama ini aku bekerja di rumah sakit di Jakarta timur," kata Fadli berjalan ke arah mejanya, ia menjadi dokter spesialis kanker dan juga saraf sehingga Fadli harus terjun ke rumah sakit ibunda karena tidak ada lagi dokter saraf.


Drrtt... Drrtt ..


Dering telepon rumah sakit berbunyi dan Fadli langsung mengangkatnya.


"Baik, saya segera ke sana?" Fadli mematikan telepon rumah sakit lalu kembali meletakkan telepon di tempatnya.


"Kamu tunggu disini, saya harus memeriksa pasien dulu," kata Fadli, Silvi hanya mengangguk lalu duduk di kursi yang ada di dalam ruang tersebut.


*** ***


"Sayang, Silvi langsung pergi saja kemana?" tanya Mas Rahman. Aku baru saja selesai makan dan kini mau berangkat ke kantor.


"Aku juga gak tahu Mas, mas tahu siapa yang menjemput dia!" tanya ku .


"Siapa, sayang!"


"Dokter Fadli," kata aku.


"Apa, kok bisa!" tanya mas Rahman lagi.


"Aku juga gak tahu, Mas? ya sudah aku berangkat dulu ke kantor," kata ku mencium tangannya dengan takzim, aroma maskulin melekat ditangan mas Rahman.


"Tidak usah, Mas. lagian sebentar lagi taxi juga sampai kok," kataku berdiri di depan rumah sedangkan mas Rahman menaiki sepeda motor menuju kantor.


"Ya sudah kalau begitu, Mas duluan ya?" kata Mas Rahman menghidupkan mesin motor lalu meninggalkan aku yang ingin menaiki taxi.


Aku menaiki taxi, nanti sepulang kantor aku akan membicarakan tentang keinginan membeli mobil agar kami lebih leluasa jika bepergian.


Dua jam perjalanan, aku sampai di kantor. Sebulan lamanya aku tidak ke kantor, aku merasa rindu dengan suasana seperti dulu tapi kenapa aku tidak melihat Sinta di kantor.


"Pagi, Wi?" ucapku pada Dewi yang sedang duduk di meja kerjanya.


"Pagi juga, Ratih kamu sudah kembali ke kantor?" Dewi memeluk ku dengan erat, sudah lama sekali aku tidak melihat mereka.


"Iya, ada apa kok heboh gitu?" tanya ku pada Dewi, dia memang sedikit bar-bar dan paling tahu gosip di kantor tapi anaknya sangat baik.


"Gimana gak heboh, pak Anggara selama ini murung mulu dan Kamu tahu, dia melampiaskan semua pada karyawan." kata Dewi semangat.


"Masak sih, kayaknya biasa saja," kataku.


"Kalau tidak percaya, tuh lihat," kata Dewi menunjukkan seseorang karyawan yang sedang mendapat amukan Anggara, dia tidak biasa seperti ini. Mungkin ada sesuatu yang menganggu pikirannya.


Aku berjalan ke arah Anggara, ku lihat wajah penuh banyak beban itu dan raut wajah semerawut.

__ADS_1


"Anggara, ada apa ini?" tanya ku.


"Ratih, untunglah kamu sudah datang? kamu kembali ke tempat kerja mu sekarang," kata Anggara.


Karyawan tersebut hanya mengangguk lalu kembali ke meja kerjanya, aku melihat tubuh yang tidak terurus selama ini.


"Kamu tolong ke ruangan aku sekarang?" kata Anggara.


Aku berjalan masuk ke dalam ruangannya.


"Ada apa, kok penting banget?" tanyaku duduk di sofa di dalam ruangannya.


"Apa kamu kabar Stefani?"


Mataku membulat kala Anggara menyebut nama Stefani, apa dia merindukan gadis itu sehingga dia menjadi seperti ini. Ku rasa dia memang mencintainya.


"Memangnya kenapa, apa kau mencintainya?" kata ku mengambil ponsel lalu membuka aplikasi berwarna hijau. Moga saja Stefani online sehingga tersambung.


Ya, kemarin aku menemukan akun sosmed Stefani lalu meminta nomornya. Dia menjadi wanita sangat cantik di negeri Belanda, ia benar-benar mengejar mimpinya disana.


Panggilan pun terhubung, terlihat Stefani sedang berada di kampus.


"Halo Stefani, bagaimana kabar mu sekarang?" tanyaku sesekali melihat ke arah Anggara yang bingung menatap ke arahku.


"Alhamdulillah Baik, kalau mbak bagaimana kabarnya sekarang,"


"Alhamdulillah juga baik! oh ya, sepertinya ada seseorang yang kini sangat merindukan kamu dan apa kamu tahu, dia akan mati berdiri jika tidak melihat mu," Kata ku berjalan pada Anggara yang masih bingung lalu memperlihatkan Stefani yang sedang berbicara denganku.


"Mbak ada-ada saja, mana mungkin ada orang yang merindukan aku di negeri Belanda ini,"


"Apa kau ingin tahu orangnya?"


"Ah, tidak usah. Mbak sudah dulu nanti kita berbicara lagi,"


"Ah, iya baiklah. See you,"


Stefani mematikan ponselnya, aku melihat ke arah Anggara yang masih menatap aku dengan bingung.


"Dari mana kamu mendapatkan nomornya?" tanya Anggara.


"Maksudmu apa? aku ini sahabatnya dan kamu orang yang sudah berpura-pura dengan perasaannya, aku tahu kalian saling mencintai," kata ku.


"Hah, Bagaimana kau tahu?" tanya Anggara lagi.


"Aku ini perempuan tentu aku tahu, berikan ponsel mu," Aku mengambil ponsel yang ada di tangannya lalu mencatat nomor Stefani dan menyimpannya di ponsel Anggara.


"Kejarlah dia, jangan sampai dia menemukan tempat yang nyaman di pundak orang lain," kata ku lalu berjalan keluar, biarlah dia menjadi lelaki yang bodoh untuk seseorang yang dia cintai.

__ADS_1


"Ratih benar, aku harus mengejar cinta ku! tunggu aku Stefani?"


__ADS_2