
Semulia itukah hati kamu, Mas!!
Tubuh ku runtuh di lantai rumah sakit mendengar kejujuran ibu, aku bodoh selama ini terlalu gelap mata dengan kelakuan buruknya padahal di balik semua itu ia berjuang untuk membahagiakan aku sendirian tapi aku tidak pernah perduli.
Aku berjalan ke ruang UGD, mas Rahman masih disana. Selang infus dan beberapa alat medis menempel di tubuhnya, ia tidur begitu nyenyak mungkin sudah lelah selama ini untuk membuat aku bahagia.
Maafkan aku yang tidak becus menjadi istrimu Mas, aku hanya menilai keburukan kamu tapi lupa dengan kebaikan yang ada pada mu.
Aku menggenggam tangan mas Rahman yang lemah, berharap ia bisa melewati masa kritisnya.
"Mas, bangun aku ada disini untuk kamu, Mas! jangan tinggalin aku," kata ku lirih memohon agar dia tetap kuat. Aku menyesal karena tidak mendengar penjelasannya dulu sehingga memilih pergi dari rumah sakit.
"Bangun, Mas," kata ku lirih.
Tidak ada jawaban, hanya terdengar suara infus yang jatuh. Wajahnya sangat pucat, aku hanya bisa berdoa agar kami masih di beri kesempatan untuk bisa bersama. Aku mencium kening sebagai ganti rindu ini.
__ADS_1
"Maaf mbak, pak Rahman akan di bawa ke ruang ICU dulu," kata suster memegang brankar milik mas Rahman.
"Apa tidak bisa di bawa keruang VIP saja agar aku lebih leluasa untuk menjaganya," kata ku menanyakan perihal mas Rahman yang mau di bawa keruang ICU.
"Baiklah, Bu. kami tanyakan sama dokter yang menangani pak Rahman dulu," kata perawat tersebut.
Aku hanya mengangguk berharap kalau mas Rahman tidak di bawa ke ruang ICU. Aku tidak ingin berpisah dengannya walaupun sedetik.
"Maaf, kami tidak bisa Bu. Alat disana tidak lengkap Sementara pak Rahman sedang dalam keadaan kritis," kata suster tersebut.
"Ibu pulang saja, biar aku disini nemenin mas Rahman. Besok ibu pergi lagi sama Rania kesini," kata ku meminta ibu pulang. Kasian kalau Rania di titipin sama tetangga terus menerus, dia masih kecil tapi harus mendapatkan kurangnya kasih sayang dari papanya.
Aku kembali berjalan menuju ruang ICU, hanya satu orang yang di boleh masuk ke sana untuk menemani pasien yang sedang kritis.
Aku duduk mengusap lembut pipi mas Rahman, ku tatap wajah yang selalu menyimpan kesakitan sendirian tanpa mau berbagi dengan ku. Air mata ku jatuh saat mengingat bagaimana perilaku aku terhadapnya.
__ADS_1
Kenapa kau siksa dirimu dan aku begini, Mas. Cepat lah sadar agar kita bisa berkumpul bersama lagi. Apa kamu tidak rindu pada putri kita, aku berbicara sendiri seakan aku ingin dia tahu bahwa aku ada di sampingnya.
Aku berharap waktu ini masih panjang, aku akan melakukan apapun untuk kesembuhannya. Apapun itu, embun Dimata ini terus jatuh. Tiap-tiap tetesan yang membuat aku takut kehilangannya.
🌷🌷🌷
Pagi sangat cerah, tapi tak secerah dan secercah harapan ku saat ini. aku terbangun di saat matahari menembus jendela kaca rumah sakit. Aku melihat mas Rahman masih nyenyak dalam tidurnya, aku hanya duduk menatap wajah tampannya meski dalam keadaan kritis.
"Bagaimana keadaan Rahman, Apa dia sudah melewati masa kritisnya," tanya ibu yang baru datang memangku Rania, terlihat Siti juga ikut bersama ibu.
"Maaf ya, Mbak." kata mbak Siti.
"Seharusnya yang minta maaf itu aku bukan mbak, aku yang sudah berangkat buruk pada mbak.
"Ahh tidak apa-apa, Mbak.
__ADS_1
Aku mengambil Rania lalu menciumnya, semalaman ia bersama ibu. Aku berjalan ke luar untuk membeli makanan dan setelah itu pulang ke rumah untuk mengambil beberapa helai pakaian ganti selama dirumah sakit.