Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 36


__ADS_3

"Maksud Mas apa?" kataku duduk di samping ranjang mas Rahman, Rahman duduk sambil mengusap kepala ku yang memakai hijab.


"Mas memang membeli rumah itu untuk kamu, sebenarnya mas ingin memberi kejutan tapi karena kamu sudah tahu jadi gagal deh," kata mas Rahman dengan wajah yang di tekuk.


"Mas sih pakai rahasia segala!" ujar ku dengan wajah cemberut.


"Mas lakukan ini semua agar suatu saat ketika mas benar-benar pergi, kamu bisa tinggal disana," kata Mas Rahman tersenyum kecut.


Mataku mulai memanas, hatiku menjadi hancur disaat mas Rahman kembali membicarakan yang tidak ingin aku dengar. Apa ia tidak ingin terus bersama.


"Aku tidak ingin mendengar kata-kata itu lagi, kamu harus yakin pasti sembuh. kita akan mencari sumsum tulang yang cocok untuk kamu atau kemoterapi, " kata mengecup tangan ku, air mata ini jatuh lagi.


Aku belum sanggup untuk kehilangannya, aku belum siap jika harus di tinggal pergi oleh mas Rahman.

__ADS_1


"Sudah, tidak usah menangis lagi. Setiap manusia itu sudah di tentukan kapan ajalnya, kita hanya menunggu waktunya saja," kata mas Rahman menghapus air mataku.


"Berjanjilah untuk tetap bersamaku, Mas. Jangan pernah tinggalkan aku walau hanya sesaat," kataku menggenggam tangannya.


Mas Rahman menghembuskan nafas dengan teratur, ia hanya diam lalu mengecup keningku.


Aku merasa nyaman disaat seperti ini.


"Bagaimana dengan keadaannya, Pak," tanya dokter Yadi yang baru saja datang untuk melihat kondisi mas Rahman.


Untuk penyembuhan mas Rahman, Kami mengambil jalan kemoterapi untuk menghentikan atau menghambat sel kanker yang sudah menjalar seminggu sekali.


Aku berharap dengan kemoterapi mas Rahman akan bisa sembuh kembali meskipun punya efek samping yang membuat rambutnya akan rontok, mual dan muntah dan tubuh semakin lemah.

__ADS_1


"Mas kamu mau tidak kalau di kemoterapi, semua ini untuk kesembuhan kamu Mas," kata ku, aku berharap mas Rahman mau di kemoterapi agar ia bisa bertahan lebih lama hidup bersamaku.


"Tapi Kemoterapi butuh uang yang banyak Sayang," kata mas Rahman.


Kemoterapi memang butuh uang yang banyak tapi aku akan berusaha untuk mas Rahman, tidak peduli jika aku harus memakai gaji ku selama ini.


"Sudah, mas tidak usah memikirkan semua itu! aku hanya ingin Mas sembuh. Masalah biaya biar aku yang pikirin," kataku.


Di saat orang yang kita sayang sakit, berusahalah untuk tetap berada di dekatnya tanpa meninggalkannya. Karena yang dia butuhkan saat itu hanya perhatian, seberapa kita bertahan dengan pasangan kita.


"Mas, aku cari ibu dan Rania dulu ya soalnya dari tadi tidak kemar. Takutnya ibu sudah pulang," kata ku berjalan depan pintu kamar mas Rahman, terlihat ibu dan mbak Siti sedang berbicara sambil tertawa. Entah kenapa, ibu terlalu sibuk hari ini.


"Ibu dari mana saja, " tanya ku pada ibu.

__ADS_1


"Dari taman, tadi kan kamu lihat sendiri kalau ibu ada di taman bersama Siti dan Rania. Oh ya, ibu sama Rania pulang dulu nanti malam ibu balik lagi kesini," kata ibu.


Aku hanya mengangguk, memangnya buat apa ibu seharian di taman hingga sore hari begini. Aku kembali masuk ke dalam dan melihat mas Rahman sudah tertidur lagi di atas ranjang rumah sakit. Sementara aku merebahkan tubuh ini di sofa yang ada di dalam kamar ini.


__ADS_2