
Anggara berjalan ke meja kerjanya, ia menghubungi Yogi asistennya.
"Yogi, tolong keruangan aku sebentar?"
Anggara kembali meletakkan ponselnya di atas meja kerja, ia duduk dan membuka laptop di atas meja.
"Ada apa, Bos?" tanya Yogi setelah masuk dalam ruang Anggara.
"Tolong kamu urus visa untuk saya, karena saya mau terbang ke London kalau bisa secepatnya," kata Anggara pada Yogi.
"London, memang ada acara apa disana?" tanya Yogi melihat jadwal di buku tapi tidak ada.
"Sudah, kamu tidak usah banyak tanya'! lakukan saja apa yang saya perintahkan," kata Anggara masih berurusan dengan laptop di depan.
"Memangnya kapan, Bos?" tanya Yogi kembali.
"Tahun depan, Ya sekarang lah atau kamu mau saya pecat," Ancam Anggara pada sahabat sekaligus asisten yang setia mendampinginya.
"Oke, Bos!" kata Yogi keluar dari ruangan, ia menghubungi seseorang untuk mengurus visa untuk Anggara dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.
*** ***
Matahari sangat terik, Silvi merasa bosan karena terlalu lama menunggu Fadli yang kembali ke ruangan. perutnya merasa lapar karena tidak ada makanan yang tersedia disana.
"Aku keluar aja ah, dari pada disini sendirian," gumam Silvi berjalan keluar dari ruang Fadli, ia berjalan menelusuri lorong rumah sakit untuk ke kantin rumah sakit.
Silvi duduk di pojokan dan melihat Fadli sedang duduk di kantin rumah sakit bersama seorang perempuan, merasa di acuhkan Silvi berjalan ke arah Fadli.
"Enak ya? kamu disini sedangkan aku nunggu disana hampir berlumut," kata Silvi kesal.
"Silvi, kok kamu kemari?" tanya Fadli.
"Heh, kamu pikir sudah jam berapa sekarang hah," teriak Silvi di depan Fadli dan perempuan yang berdiri di sampingnya.
Fadli melihat ke arah jam tangannya ternyata sudah menuju pukul jam 12 siang, dia merasa bersalah karena lupa sudah membawa Silvi ikut bersamanya.
"Aku minta maaf tadi aku sedang...,"
"Cukup, aku tidak mau ketemu sama kamu lagi dan ingat jangan pernah temui aku lagi," kata Silvi dengan marah, dia merasa kesal karena sudah terlalu lama menunggu Fadli di ruangannya.
"Dasar lelaki brengsek, enak saja dia berduaan dengan perempuan sedangkan aku di suruh tunggu di ruangannya, dia pikir dia siapa?"
Silvi menggerutu kesal, ia terus berjalan melewati koridor rumah sakit dan kini ia sudah berada di depan gerbang rumah sakit. Dia memberhentikan taxi yang kebetulan lewat di depannya.
"Silvi tunggu, Sil? buka pintunya," kata Fadli mengetuk pintu taxi yang masih berdiri di depan rumah sakit, Silvi melihat Fadli melalui kaca jendela.
"Jalan, Pak!" perintah Silvi.
"Arghh, Sial! kenapa aku sampai lupa sama dia,"
Fadli menyugar rambutnya dengan kasar, ia merasa bersalah pada Silvi dan kesempatannya untuk membuktikan wanita yang selama ini dia cari gagal, semua karena kesalahannya.
Fadli kembali ke dalam, dia tidak mungkin meninggalkan pasien yang sedang dia tangani dan tadi di kantin dia sedang berbicara dengan kakaknya, Saras yang kebetulan berada di Jakarta.
*** ***
__ADS_1
Sesampai di rumah, Silvi melempar tasnya begitu saja di atas sofa. Amarahnya masih menggebu karena haus ia berjalan ke arah kulkas lalu membukanya mengambil botol minuman.
"Kamu kenapa, Sil!" tanya Bu Romlah.
"Ah, tidak ada apa-apa Bu?" kata Silvi.
"Sudah, kamu jangan bohong sama ibu? kamu pasti lagi kesal sama seseorang kan," kata Bu Romlah duduk di sofa.
"Kok ibu tahu," Silvi membulatkan mata lalu meneguk minuman yang ada di tangannya.
"Bagaimana ibu tidak tahu, lihat wajah mu di tekuk begitu," kata Bu Romlah.
"Ah, ibu bisa saja. Aku lagi kesal sama seseorang, masak aku di tinggal di ruangannya dan dia enak berduaan di kantin," kata Silvi menceritakan kejadian di kantin rumah sakit.
"Apa kamu menyukainya?"
"Suka, mana mungkin ibu! Aku terpaksa mengenalnya karena aku tidak sengaja menabraknya kemarin," kata Silvi.
"Oh, ya! kalau begitu kenapa harus marah pada dia?" kata Bu Romlah menggoda Silvi.
"Jangan bilang kalau ibu mengenal laki-laki itu?" kata Silvi menatap ibunya, mencari kejujuran dari sang ibu.
"Mbak mu kenal lelaki itu?" kata Bu Romlah.
"Mbak Ratih kenal si Fadli itu! kok bisa, sebaiknya aku tanyakan saja pada mbak Ratih nanti siapa lelaki tersebut," gumam Silvi dalam hatinya.
Silvi berjalan ke kamarnya, ia merebahkan tubuhnya untuk istirahat sebentar.Namun perutnya yang minta di isi terpaksa ia bangun kembali dan berjalan ke meja makan.
"Bu, masak apa siang ini?" tanya Silvi.
"Wah enak ini!" kata Silvi mengangkat tudung saji lalu mengambil piring dan menyendok nasi lalu meletakkannya di atas piring.
Silvi makan dengan lahap, ia memang sangat lapar dari tadi tapi karena marah pada Fadli dia sampai lupa niatnya ke kantin untuk makan siang.
*** ***
Matahari mulai tenggelam ke dasarnya, Ratih dan Rahman baru saja kembali ke rumah. Seharian di luar membuat keduanya sangat lelah, Bu Romlah menggendong Rania. Mereka sudah berkumpul di meja makan.
Ting... Tong...
Suara Bel berbunyi, Mereka yang hendak makan harus terhenti kan.
"Siapa malam-malam begini bertamu?" tanya ku pada ibu.
"Biar ibu yang buka," kata Bu Romlah bangkit dari kursinya berjalan ke depan untuk membuka pintu.
Lima menit berlalu ibu juga belum datang, memangnya siapa sih bertamu jam segini. Aku hendak berjalan ingin menemui ibu tapi langkah ku terhenti kala melihat seseorang lelaki datang bersama ibu.
"Rahman...!" Dokter Fadli kaget melihat mas Rahman yang berada disini sedangkan Silvi juga kaget melihat Fadli juga ada disini.
"Dokter Fadli, kok tahu aku tinggal disini?" kata Mas Rahman.
Dokter Fadli menoleh ke arah Silvi yang hanya diam, sekalipun ia tidak melihat ke arah Dokter Fadli.
"Aku gak tahu kalau ini adalah rumah mu dan aku kesini mau ketemu sama Silvi," kata Dokter Fadli, sepertinya keduanya sedang ada masalah terlihat Silvi yang begitu cemberut. Apa mereka sudah saling kenal keduanya.
__ADS_1
"Silvi, jadi kalian sudah saling kenal kalau begitu kenapa kalian gak.. Aw...,"
Aku menginjak kaki Mas Rahman agar dia tidak banyak bicara, Mas Rahman tidak mengerti situasi antara Silvi dan juga dokter Fadli.
"Silvi, temui dokter Fadli dulu? jika ada masalah selesai dulu," kata ku memberi ruang di antara mereka berdua, ibu pun mengangguk setuju tapi tidak dengan Silvi.
"Aku tidak punya hubungan dengan dia, Mbak," kata Silvi.
"Nak Fadli, ayo duduk dulu. kita Makan bersama," ibu mencoba memecah keheningan, mas Rahman masih mengasuh sakit kakinya.
"Tidak usah repot-repot, Tante. Aku kesini mau jemput Silvi, mau ajak dia makan malam bersama," kata Fadli meminta ijin.
"Silvi, kamu tunggu apalagi?" kata ibu.
"Tapi Bu...
"Silvi..," kata ibu dengan mata melotot.
"Baiklah, tunggu sebentar! aku ganti baju dulu," kata Silvi berjalan ke kamarnya. Di dalam kamar dia memilih baju yang cocok untuk pergi dengan Fadli.
Silvi memilih celana jeans dan kemeja yang menutupi bokongnya, sampai saat ini dia belum mau berhijab. Ratih sering memberinya arahan tapi hatinya juga belum terbuka.
Selesai menggantikan pakaian dan berdandan, Silvi keluar dengan menenteng tas selempang. Rambutnya yang panjang di biarkan tergerai begitu saja. Fadli sempat terpana melihat kecantikan Silvi tapi dengan sekejap dia bisa mengontrol sikapnya.
"Apa sudah siap?" tanya Fadli tersenyum, Silvi hanya mengangguk.
"Dokter, ingat bawa adikku pulang tanpa kekurangan apapun!" kata Mas Rahman tersenyum, aku senang Silvi bisa bersama dokter Fadli tapi yang aku takutkan jika Dokter Fadli tahu jika Silvi tidak suci lagi.
Dokter Fadli mengangkat tangan seperti hormat pada atasannya, Mas Rahman tersenyum geli melihat tingkah Dokter Fadli.
"Siap, akan aku bawa di ke pelaminan!" kata Dokter Fadli ceplos.
"Maksud kamu apa?" tanya Silvi melotot.
"Bukan apa-apa, Ayo pergi! Tante kita berangkat dulu," kata Fadli pamit pada ibu dan juga kami semua.
Kami mengantarkan mereka sampai ke depan, aku menggendong Rania. Senyum bahagia terlihat di wajah ibu, mungkin beliau merasa senang ada lelaki yang mau mendekati Silvi sejak pasca kejadian itu.
*** ***
"Maaf, untuk kejadian tadi siang?" Fadli meminta maaf karena sudah membuat Silvi marah.
"Tidak apa-apa? kenapa kamu masih menemui ku," tanya Silvi.
"Memangnya kenapa, apa ada yang marah jika aku mengajak kamu berjalan berduaan," kata Fadli menoleh ke arah Silvi, lalu kembali menyetir ke depan.
"Tapi aku tidak.."
"Sudah, diam sebentar lagi kita sampai," kata Fadli memotong pembicaraan Silvi, mobil mengarah pada sebuah danau yang tidak jauh dari taman. Banyak remaja yang nongkrong disana.
Mereka berdua turun dari mobil, Silvi hanya diam melihat seluruh tempat yang mengingatkannya 7 tahun silam.
"Bukankah ini tempat terakhir kali aku dan Mikky bertemu, sepulang sekolah dia mengajak ku kesini dan kami berdua berfoto sebagai tanda kami berdua sudah menjadi sahabat," Gumam Ratih dalam hatinya.
ia terus berjalan lalu duduk di bawah pohon besar, tempat dia dan Mikky dulu duduk. Dia larut dalam bayangan Mikky, hingga beberapa orang mengganggunya.
__ADS_1
"Mikky....!!"