
Tak lama kemudian, mereka berdua sampai di warung makan Bandung. Tempatnya memang tak seindah restoran tapi makanannya lezat sama seperti masakan restoran.
"Ayo, turun!" Kata Anggara. Stefani membuka pintu mobil lalu turun bersama Anggara, mereka berjalan memasuki warung makan tersebut.
"Pak Anggara, kemari juga?" Tegur seseorang laki-laki ternyata itu adalah Rahman, Anggara terkejut melihat Rahman juga ada disana.
"Pak Rahman, disini juga pergi sama siapa?"
Pertanyaan beruntun keluar dari bibir Anggara, Rahman tersenyum menanggapinya.
"Sama keluarga kebetulan lagi weekend bukannya Ratih sudah minta izin beberapa hari!" tanya Rahman.
"Ahh, iya, saya lupa. Saya pikir ada apa meminta cuti beberapa hari," kata Anggara.
Sedikit berbincang-bincang, Rahman Kembali ke mejanya sedangkan Anggara mencari meja makan yang lain.
"Kok lama, Mas," tanya ku pada mas Rahman.
"Tadi ketemu sama pak Anggara, mereka juga ada disini?" Kata mas Rahman.
__ADS_1
"Sama siapa?" tanya ku lagi.
Kami baru saja selesai makan, makanan disini sangat enak dan menggugah selera.
"Sama Stefani, mungkin mereka kesini ada kepentingan," kata mas Rahman.
Aku hanya mengangguk, mungkin saja mereka memang benar-benar ada kepentingan kesini. Lagian Anggara sangat cocok dengan Stefani, semoga mereka berjodoh.
"Ayo, kita pergi!" kata mas Rahman.
Kami berjalan keluar dari warung makan Bandung, aku menggendong Rania dan Silvi berjalan di sampingku, kami menaiki mobil rencananya kami mengelilingi kota Bandung.
Mobil sudah berjalan, kami mengelilingi kota bandung yang kenal dengan kota kembang. Mobil kami berhenti di tempat wisata kota-kota Bandung.
Hari ini aku menghabiskan waktu bersama bersama, kini kembali berjalan ke mobil yang terparkir.
"Mas, Apa sebaiknya kita kembali ke villa dulu?" tanya ku pada mas Rahman.
"Kita lagi Weekend jadi habiskan waktu mu untuk bersenang-senang," kata Mas Rahman.
__ADS_1
"Tapi Mas aku takut kamu drop lagi?" kataku.
Aku memang benar-benar takut, disini tidak ada orang yang aku kenal. jika terjadi sesuatu dengan mas Rahman siapa yang akan menolong ku, lagian Rania masih satu tahun lebih.
"Besok saya kita ke pantai, habis dari sini kita supermarket saja soalnya gak ada minuman di villa," kata ku.
"Baiklah, Ayo kita pulang!" kata Mas Rahman.
Aku berjalan cepat menuju mobil karena cuaca sangat Manding takut kehujanan.
"Mas, Ayo cepat?" Tidak sahutan dari bibir mas Rahman, aku membalikkan badan melihat mas Rahman sudah jatuh pingsan.
Aku berlari kearahnya yang jauh dua meter, aku meminta tolong pada orang-orang di sekitar tidak ada yang mau menolong. Aku harus bagaiman, aku tidak sanggup jika mengangkat mas Rahman sendirian.
"Ratih, suamiku kamu kenapa?"
Tiba-tiba Anggara datang bersama Stefani, entah dari mana mereka tapi aku bersyukur ada mereka disana.
"Mas Rahman pingsan tolong bantu aku bawa ke mobil," kata ku mengangkat tubuh mas Rahman, di bantu oleh Anggara juga setelah dan ada beberapa bapak yang sudah baik hati menolong.
__ADS_1
Aku langsung membawa mas Rahman ke rumah sakit yang ada di kota Bandung, tidak mungkin aku bawa pulang ke Jakarta dalam kondisi seperti ini.
Perjalanan ke rumah sakit pun membutuhkan waktu yang sedikit lama membuat aku semakin khawatir, aku mengambil minyak kayu putih untuk mengolesnya di hidung Mas Rahman berharap dia akan segera sadar.