
Perasaan aku tidak tenang, jam sudah menuju pukul 8 malam tapi mas Rahman juga belum pulang. Janji mas Rahman akan menghubungi ku tapi sampai saat ini tidak juga di hubungi, aku menelepon nomor mas Rahman tapi tidak aktif.
"Apa Rahman sudah ada kabar?" tanya ibu.
Aku yang
sedang mondar mandir di depan pintu menoleh ke arah ibu.
"Belum, Bu?" kata ku.
"Apa Rahman sebelum pergi mengatakan dengan siapa dia bertemu?" tanya ibu.
Aku baru teringat kalau mas Rahman tadi sore ke luar menemui Anggara. Kenapa aku bisa sampai lupa, aku mengambil ponsel untuk menghubungi Anggara saja. Semoga saja mas Rahman ada bersamanya.
Tut...Tut..Tut...
Panggilan terhubung ke ponsel Anggara tapi tidak angkat, aku mulai gelisah tidak bada kabar dari mas Rahman. Kalau sudah seperti ini aku tidak akan membiarkannya, aku harus menyusul mas Rahman ke hotel itu.
__ADS_1
Apa aku harus menjadi detektif mendadak seperti Upin dan Ipin, Ah tentu saja harus karena aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada mas Rahman. Aku berjalan ke kamar untuk mengganti pakaian, tidak mungkin aku pergi dengan baju gamis.
Sebaiknya ku pakai baju one set saja, jika nanti terjadi sesuatu aku bisa membela diri bukankah aku pernah mengikuti ilmu beladiri waktu dulu. Tentu saja aku masih ingat betul caranya.
Aku berjalan ke kamar kalau mengganti pakaian, tak lupa juga aku mengambil tas dan ponsel Silvi. Sementara aku mengingatkan ibu untuk tetap mengunci pintu agar tidak ada orang yang lain masuk kerumah agar Silvi tidak berteriak histeris jika melihat orang yang tidak di kenal.
Daun jam perjalanan, aku sampai di tempat ini. Hotel yang cukup menawan, aku berjalan menuju repsionis untuk menanyakan kabarku.
"Permisi, mbak. Saya mau bertanya kamar 204 di lantai mana ya!" tanyaku.
"Lantai 204 ada di lantai atas mbak,"
Aku berjalan menuju lift, aku berdiri untuk menunggu lift terbuka.
Ting...
Pintu lift terbuka, tak lupa aku memakai masker agar orang-orang tidak mengenali aku. Aku berdiri di belakang, mata ku tertuju pada seseorang yang berdiri di depanku.
__ADS_1
Pak Yanto, untuk apa dia kemari! Apa dia yang melakukan ini semua tapi aku tidak boleh berprasangka buruk, sebaiknya aku selidiki saja nanti.
Tak lama kemudian pintu lift terbuka, aku berjalan keluar dari lift. Aku melihat ke sekeliling arah tapi mas Rahman juga belum kelihatan. Apa mereka tidak jadi mengintai lelaki yang sudah merusak masa depan Silvi.
Aku terus berjalan membuntuti pak Yanto, mungkin ia bisa saja bekerja untuk mencelakai Silvi. Aku terus berjalan berharap akan bertemu dengan mas Rahman. Namun langkah ku terhenti saat seseorang membekap mulutku dari belakang.
Aku mencoba melepaskan tangannya di mulutku, siapa dia. Aku terus memberontak mencoba melepaskannya, tapi tenaga ku cukup kuat.
"Lepaskan aku," kata ku berteriak.
"Tolong lepaskan aku," kata ku sekali lagi.
"Kamu kenapa datang kemari?" bisik mas Rahman di telinga ku, aku melihat mas Rahman ada di belakang.
"Mas Rahman, apa kamu baik-baik saja," tanya ku ketika melihat mas Rahman lalu membolak-balik badannya takut ia ada yang terluka.
"Aku tanya kamu untuk apa kesini?" tanya mas Rahman lagi.
__ADS_1
Aku khawatir sama kamu makanya aku nyusul kesini, aku telepon nomor kamu tapi tidak di angkat.
"Mas lihat itu...!"