Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 132


__ADS_3

Kejadian semalam membuat semua orang syok termasuk aku, ternyata selama ini ibu menyimpan begitu besar rahasia dari kami ternyata beliau punya anak satu lagi selain mas Rahman dan Silvi, ternyata Afnan adalah adik dari Mas Rahman tapi sayang nya ia sudah meninggal karena mengidap penyakit yang sama dengan mas Rahman.


Aku sedang membuatkan nasi goreng pagi ini, Bu Lydia dari semalam hanya diam setelah bertemu dengan ibu. Mungkin dia tidak menyangka jika bertemu kembali dengan ibu setelah dua tahun berlalu.


Selesai membuat nasi goreng, aku menyajikannya ke atas meja makan. Lalu baru memanggil mas Rahman untuk makan karena ia harus pergi ke kantor nanti siang aku akan kembali datang menemui ibu membahas sesuatu yang tertunda semalam.


"Mas, Ayo makan dulu?" Kata ku melihat ia turun dari tangga, lalu datang pak Brata dan Amelia tapi Bu Lydia sendiri tidak terlihat.


Apakah beliau menguruh diri di kamar atau beliau sakit. Entahlah nanti aku akan menemuinya jika ia tidak keluar dari kamarnya.


"Wah, nasi goreng kayaknya enak ni!" Kata Amelia melihat nasi goreng dengan asap yang masih mengepul ke atas, ia mengambil piring lalu menyendok nasi goreng ke dalam piringnya.


Aku hanya tersenyum ke arahnya lalu mengambil nasi goreng lalu ku berikan pada mas Rahman dan pak Brata, baru setelah itu aku ikut makan bersama - sama mereka.


"Mama kamu dari semalam hanya diam dan bersikap murung setelah pulang dengan kalian, apa terjadi sesuatu di rumah kalian," tanya pak Brata di sela-sela makan, aku dan mas Rahman saling berpandangan, Amelia melihat ke arah kami.


"Semalam Bu Lidya bertemu dengannya teman lamanya?" Kata ku.


"Siapa...!" tanya Pak Brata penasaran.

__ADS_1


"Bu Romlah, ibunya mas Rahman," kata ku.


Uhuukk..... Uhuukk....


Pak Brata terbatuk-batuk mungkin keselek dengan nasi yang di makannya, aku langsung menuangkan air lalu memberikan pada pak Brata.


"Romlah, jadi Lydia sudah bertemu dengannya?"


Aku mengangguk sedangkan mas Rahman hanya diam, sepertinya ia sangat marah pada Bu Lidya.


"Apa pak Brata sudah bertemu dengan ibu," Tania ku penasaran.


Mungkin saja ibu sudah bertemu dengan pak Brata sehingga tidak kaget seperti yang terjadi pada Bu Lidya semalam.


Aku hanya mengangguk, tidak ingin menanyakan sesuatu yang lebih jauh lagi. Aku ikut bersama mereka sedangkan Rania masih tidur di atas tempat tidur.


________________&&&&&&_______________


Matahari mulai naik sepenggal galah, aku sudah bersiap-siap untuk menemui ibu lagi. Aku juga akan membawa Rania karena tidak mungkin aku menitipkannya pada Bibik, pasti beliau banyak sekali pekerjaan yang belum selesai- selesai.

__ADS_1


"Mbak, mau ke mana?" Langkah aku terhenti kala mendengar suara Amelia.


"Mau ke rumah ibu, Kenapa?" Tanya ku balik.


"Boleh aku ikut, aku hanya ingin kenal sama ibu kandungnya mas Afnan," kata Amelia tersenyum, aku hanya diam lalu kembali menatap ke arahnya.


"Boleh, ayok," kataku mengajak Amelia ikut bersamaku.


Dia perempuan yang baik, dua hari aku di rumahnya tidak ada rasa tidak suka padaku.


Kami berangkat dengan mobil Amelia, mobil mulai membelah jalanan kota Jakarta yang cukup padat siang ini.


Dalam 30 menit, kami sampai di rumah ibu. Aku melihat Silvi dan ibu sedang duduk di teras. Aku keluar dari mobil begitu juga dengan Amelia.


"Assalamualaikum, Bu?" Ucapku menyalaminya. Lalu disusul oleh Amelia di belakang ku.


"Dia Amelia, anaknya Bu Lydia," ujar ku.


Ibu hanya diam lalu menyuruh kami masuk, Amelia duduk di sofa sedangkan aku pergi ke dapur untuk membuat minuman untuk Amelia. Wajah ibu nampak pucat mungkin dari semalam ibu tidak bisa tidur karena memikirkan anak-anaknya.

__ADS_1


Setelah membuat minuman , aku kembali ke depan untuk memberikan minuman pada Amelia.


"Ibu.....?"


__ADS_2