Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 75


__ADS_3

Aku tidak bisa tidur, aku melihat ke arah jam sudah menuju pukul 09 malam, aku ingin pulang malam ini juga. Sebaiknya aku temui Anggara saja karena aku tidak bisa menunggu terlalu lama karena putri dalam bahaya.


Aku berjalan ke kamar Anggara dan mengetuk pintu tapi tidak terbuka, apa dia sudah tidur. Aku harap-harap cemas karena ia tidak membuka pintu kamarnya.


Ceklek...


Pintu kamar Anggara terbuka itu tanda kalau Anggara masih belum terlelap dalam tidurnya.


"Ratih, ada apa?" tanya Anggara.


"Bisa kita pulang malam ini, putriku dalam bahaya," kata ku. Aku menceritakan apa yang terjadi lalu memutar rekaman Rania menangis.


Aku sangat hafal putriku jika ia merasa ketakutan. Aku menatap sendu ke arah Anggara berharap ia mau pulang malam ini juga.


"Baiklah, kamu bersiap-siap lah sekarang! Kita akan kembali pulang malam ini juga," kata Anggara.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk lalu tersenyum berjalan kembali masuk ke kamar, aku melihat Stefani masih tidur. Aku melihat ponselnya tergeletak begitu saja di atas nakas samping tempat tidur. Karena penasaran, aku membuka pesan wa milik Stefani walaupun di anggap tidak sopan tapi aku yakin dia tahu sesuatu tentang Riko.


Aku membaca deretan pesan pada nomor yang dia kenal dan nomor itu sama dengan nomor yang tadi mengirimkan pesan padaku. Apa artinya dia juga dalang di balik semua ini, sebaiknya aku kirim saja pesan ini pada Anggara agar dia juga bisa melihat sisi Stefani yang sebenarnya.


Aku kembali meletakkan ponsel Stefani di atas nakas dan aku mengambil koper di atas lemari lalu memasukkan beberapa potongan baju setelah selesai aku baru bangunin Stefani.


"Stef... Stefani!" Aku menggoyangkan tubuhnya agar dia mau bangun.


"Ada apa mbak...!" tanya Stefani dengan mata yang masih merem.


"Ayo, bangun. Kita pulang malam ini juga," kata ku menarik selimut di tubuhnya agar ia terbangun.


"Kalau begitu, aku mau siap-siap dulu?" Kata Stefani berlari ke kamar mandi. Aku menggantikan pakaian dengan baju one set, tak lupa pashmina berwana navy setia menemani one set yang ku pakai.


Selesai mengganti pakaian, aku berjalan keluar dan menarik koperku sedangkan Stefani masih di kamar, dengan begitu aku bisa memperlihatkan pesan yang tadi aku screenshot pada Anggara.

__ADS_1


Aku melihat Anggara sudah berada di depan mobilnya, aku pun berjalan ke arah mobil miliknya.


"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu?" Kata ku.


"Apa..?" tanya Anggara.


Aku membuka ponselku lalu memberikan pada Anggara, dengan teliti Anggara membacanya lalu kembali menatap ke arahku mungkin ia bingung.


"Maksud kamu apa?" tanya Anggara lagi.


"Tadi aku tidak sengaja membuka ponsel Stefani dan aku sangat terkejut membaca pesan tersebut, apa mungkin semua ini Stefani juga ikut terlibat. Bukankah dia juga pernah menjebak kami dulu," kataku.


Terlihat Anggara sedang berpikir tentang kejadian yang menimpanya dan kejadian ia dengan Ratih. Apa Stefani ikut terlibat, Anggara melihat Stefani menuju ke arah mereka dan mengembalikan ponsel Ratih.


"Tolong, kirimkan pesan tadi padaku?" Kata Anggara.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk lalu masuk ke dalam mobil begitu juga denga Stefani, ia tidak banyak bicara membuat aku semakin curiga padanya.


Anggara mulai menghidupkan mesin mobil Lamborghini miliknya, lalu keluar dari villa setelah satu minggu berada disana.


__ADS_2