Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 77


__ADS_3

Mentari pagi sudah terbit, Aktivitas kembali seperti biasanya. Suasana pagi jalan kota Jakarta kembali padat, di sebuah rumah terlihat dua orang sedang beradu mulut.


"Aku bisa menjelaskan semuanya, Pak?" Kata Stefani mengejar Anggara yang sudah berada di samping mobilnya.


"Menjelaskan apa, kamu ingin menjelaskan kalau kamu tidak bersalah begitu karena keegoisan kamu Ratih harus kehilangan suaminya," kata Anggara merasa kecewa dengan sikap Stefani. Dia merasa di bodohi dengan sikap lugu wanita tersebut.


Seandainya dia mau mengatakan dari awai mungkin Anggara tidak akan kecewa dengan sikap Stefani.


"Aku minta maaf, aku akui aku salah karena tidak mengatakan pada kalian kalau aku mengetahui semua rencana Riko karena...,"


"Karena apa? Katakan," kata Anggara menahan amarah pada Stefani.


Semalam dia hanya diam dan tak banyak berbicara karena dalam perjalanan pulang, ia hanya ingin mereka tidak mengalami kecelakaan.


"Kamu tidak bisa mengatakannya bukan kalau begitu masuklah karena aku harus ke kantor," kata Anggara membuka pintu mobil miliknya, Stefani hanya diam dan lidahnya kelu untuk berbicara. Seakan hatinya sakit melihat kemarahan Anggara padanya, ia tidak menyangka jika semua itu akan menjadi bomerang bagi dirinya sendiri.


Anggara menghidupkan mobil lalu meninggalkan pelantaran rumahnya, ia harus ke kantor karena seminggu ini ia mengalihkan tugas pada Yogi asisten sekaligus sahabatnya.


*** ***


Di kediaman Ratih


Ratih baru saja terbangun dari tidurnya, ia menikmati secangkir teh panas bersama ibu mertuanya di depan rumah. Hari ini, dia akan mencari dimana keberadaan mereka.


"Jadi kemana kamu akan mencari mereka," tanya ibu.


"Entahlah, Bu. Semoga ada informasi dari Anggara dimana mereka di sekap dan masalah mas Rahman nanti aku akan mencarinya juga," kata ku pada ibu.


"Semoga mereka cepat ketemu, nanti hubungi jika kamu sudah menemukan mereka," kata ibu lagi.


Aku hanya mengangguk lalu bersiap-siap untuk mencari mereka, tadi Anggara sudah menghubungi ku dan sudah mengetahui dimana mereka di sekap oleh Riko.

__ADS_1


Kali ini aku tidak akan membiarkan dia lolos, akan aku masukkan dia ke penjara atas segala perbuatannya.


Aku berjalan keluar dan terlihat Bu Sekar juga ada di depan rumahnya, Bu Sekar terlihat tegang melihat aku dan aku pun menyebrangi jalan menuju rumahnya.


"Pagi Bu Sekar,"


"Pagi juga, Ada apa kesini?" tanya Bu Sekar dengan senyum di paksakan.


Aku yakin kalau Bu Sekar tahu dimana keberadaan putriku di sekap oleh putranya.


"Saya mau bertemu dengan Riko, Rikonya ada," Aku sengaja bertanya demikian untuk melihat reaksi Bu Sekar.


"Ri...ko tidak ada disini, sebaiknya kamu pergi dari sini!" Kata Bu Sekar mengusir ku.


Terlihat Bu Sekar merasa ketakutan di saat aku menanyakan tentang Riko, padahal tanpa di beritahukan aku juga sudah tahu dimana Riko. Kami hanya sedikit bermain-main dengannya.


Ting...


Pesan masuk ke gawai ku ternyata pesan dari Anggara untuk mengajak ku untuk ketemu sebelum kami pergi tempat penyekapan Silvi dan putriku.


Benarkan apa yang aku bilang, dia sedang bermain-main dengan mempermainkan rumah tanggaku dan juga anakku, dia anggap kalau dia menculik anakku, aku akan menangis lalu berlutut padanya untuk melepaskan putriku, dia sangat salah jika menilai seperti itu.


Aku berjalan menaiki taxi dan kami janjian untuk bertemu di sebuah restoran yang tidak jauh dari sini. Aku hanya perlu waktu tiga puluh menit dari sini untuk datang ke restoran tersebut.


Sesampai di restoran,terlihat Anggara sudah ada disana. Secepat itukah dia datang, aku masuk ke dalam resto lalu duduk di meja tengah.


Pagi ini pengunjung belum terlalu ramai mungkin karena masih pagi.


"Maaf, sudah lama menunggu!" Kata ku.


"Tidak apa-apa, lagian aku baru saja datang kok, kamu mau pesan minuman apa?" Tanya Anggara.

__ADS_1


"Tidak usah , aku baru saja minum teh tadi. Apa kita bisa jalan sekarang?" tanyaku.


"Bisa, aku juga sudah menghubungi polisi untuk menangkap Riko nanti," kata Anggara.


Aku yang hendak berbalik badan tak sengaja melihat Riko baru saja membeli makanan yang di bungkus, pasti makanan itu untuk Silvi.


"Kenapa?" tanya Anggara.


"Sssttt, ada Riko di belakang?" Bisik ku menunjukkan Riko yang sedang membayar makanannya.


"Apa, Riko?"


Anggara mencari sesuatu yang bisa menutupi wajahnya agar Riko tidak melihat ke arah mereka. Di saat Riko mulai keluar dari restoran, aku dan Anggara langsung mengikutinya, aku tidak ingin bisa kecolongan lagi.


Dia menaiki taxi yang kebetulan lewat di depan restoran, kami pun menaiki mobil Anggara untuk membuntuti Riko.


Kami mengikutinya dengan jarak jauh dua meter, aku menjadi khawatir dengan keadaan Rania dan Silvi.


Setelah satu jam mengikuti Riko, dia masuk ke dalam gang sempit dengan sepeda motornya sedangkan kami terpaksa turun berjalan kaki karena mobil yang tidak bisa di lewati.


Kami berjalan pelan-pelan, terlihat Riko sudah masuk ke dalam sebuah rumah. kami hanya bisa melihat dari jauh karena polisi juga belum datang, kami tidak bisa bergerak cepat.


Tak lama kemudian, polisi datang bersama tiga orang dan kami pun berjalan mengendap-endap ke rumah tadi, kami masuk dari pintu depan karena tidak di kunci.


kosong, tidak ada orang sama sekali lalu terdengar seseorang yang sedang menangis.


"Disana, Pak?' aku menunjukkan kamar belakang rumah ini, pelan-pelan kami terus berjalan begitu juga dengan Anggara.


Kami berdiri tepat di depan pintu kamar belakang, tanganku sudah bergetar mendengar tangisan Rania. Pak Polisi memberikan instruksi sebelum mendobrak pintu ini.


Satu... Dua... Tiga...

__ADS_1


Brakk.


"Angkat tangan...!


__ADS_2