
"Terimakasih, kamu sudah menolong saya," kata Ratih.
"Sama-sama, kita pindah dari sini saja?" kata Afnan menarik tangan Ratih agar keluar dari cafe tersebut lalu berjalan ke cafe seberang.
Ratih hanya diam, mengikuti langkah Athar. Dia melihat raut kekhawatiran di mata Afnan, siapa dia sebenarnya? kenapa dia selalu ada di saat aku ada masalah.
Setelah menyebrang jalan, Afnan dan Ratih mampir ke cafe tersebut lalu duduk. Mereka duduk di pojokan agar tidak terlihat orang yang datang.
"Minumlah agar kamu tenang!" kata Afnan memberikan air putih padanya, Ratih hanya mengangguk lalu meminumnya.
"Mbak....!" panggil Afnan pada pelayan cafe.
"Iya pak, mau pesan apa?" tanya Afnan.
"Aku pesan Ayam panggang dan cumi-cumi asam pedas sama sate ayam, samain aja dengan dia," kata Afnan membuat aku heran.
Bukankah makanan yang dia pesan adalah kesukaan mas Rahman, belum lagi dengan parfum yang dia pakai mirip sekali dengan parfum mas Rahman dan tadi dia juga mengaku sebagai suamiku, siapa dia sebenarnya?
Ah, gimana caranya aku tahu kalau dia mas Rahman. Aku tahu, jika dia benar-benar mas Rahman pasti dia memiliki tompel di tangannya.
Jika dia benar-benar Mas Rahman, aku sangat bersyukur tapi kenapa wajahnya menjadi orang lainnya. Sebaiknya aku ikuti saja semua permainannya.
Tak lama kemudian, pesanan tadi pun datang bersama minumannya. Afnan langsung memberikan nasi untuk aku, ia pun makan dengan sangat lahap.
Aku harus bisa melihat tompel di tangan Afnan, jika dia benar Mas Rahman tapi jika benar dia adalah suamiku. Kenapa dia tidak ingat tentang aku, apa dia hilang ingatan.
"Apa kamu punya istri?" tanya ku hati-hati.
"Kenapa, apa aku seperti orang menikah?" Afnan balik bertanya.
"Tidak, mungkin di masa lalu kamu pernah menikah begitu," kata ku berharap kalau dia mengingat tentang ku.
__ADS_1
"Entahlah, tapi setiap malam aku memimpikan seseorang," kata Afnan terlihat serius.
"Siapa?"
"Kamu..,"
Dengan kesal aku memukul lengannya, padahal aku serius tapi dia hanya bercanda.
"Aku tidak becanda!"
"Lalu...
"Makanlah, nanti kamu akan tahu," kata Afnan.
Aku hanya mengangguk lalu ikut menghabiskan makanan yang dia pesan membuat aku kekenyangan.
Langit mulai mendung, sebentar lagi akan turun hujan. Aku berencana untuk pulang saja lagian tidak ada pekerjaan yang harus aku kerja hari ini. Aku bangun dan beranjak dari meja makan.
"Mau pulang?" kata ku.
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri," tolak ku, aku akan mengujinya. Dia harus mengakui siapa dirinya sendiri.
"Jangan membantah, ikut aku pulang atau tidak sama sekali," kata Afnan menatap mataku dengan tajam, dia menggenggam tangan ku dengan erat bahkan aku tidak bisa mencoba melepaskannya.
"Masuklah!" kata Afnan membuka pintu, aku melihat ke arahku lalu masuk ke dalam. mobilnya.
Kami pulang bersama, hujan mulai turun dengan deras. Di tengah perjalanan aku menyuruh Afnan untuk berhenti, aku keluar dari mobilnya lalu berjalan di tengah hujan.
"Ratih, kamu mau kemana? masuk ke mobil," kata Afnan mengejar ku tapi aku tidak peduli, begitu banyak teka teki setelah bertemu dengannya.
Dari parfum yang sama, makanan yang sama. Siapa dia sebenarnya, kenapa dia datang tiba-tiba dan dia bekerja di kantor Anggara dengan tiba-tiba.
__ADS_1
"Ratih, berhenti," kata Afnan berteriak menarik tanganku, aku menatapnya di bawah air hujan. Baju ku basah tapi aku tidak peduli.
"Apa mau mu? kenapa kau menghentikan aku, kita bukan siapa-siapa bahkan kita baru bertemu dua hari ini, kenapa kau seakan begitu dekat dengan ku," kata ku dengan suara keras, bibir sedikit bergetar menahan dinginnya air hujan.
Aku berjalan melangkahkan kaki ini, menapaki satu persatu kaki di atas jalan raya. Jalanan mulai sepi, mungkin orang-orang enggan pulang karena hujan.
"Karena aku suami mu, aku Rahman bukan Afnan," teriak Afnan, langkah ku terhenti tatkala menyebut kalau dia Rahman. Aku membalikkan badan, menatap tubuh Afnan.
"Apa buktinya jika kamu suamiku, jika pun dia masih hidup pasti dia pulang ke rumah bukan tinggal bersama orang lain," kata ku.
Apa yang aku katakan benar kan, jika dia Suamiku pasti dia pulang atau setidaknya menghubungi ku.
"Apa bukti ini belum cukup," Afnan menyibak lengan bajunya hingga terlihat tompel tanda lahirnya, dia benar suamiku tapi kenapa wajahnya berubah.
"Lalu jika kamu istriku, kenapa wajah kamu berubah," kata ku tidak bisa percaya begit saja.
"Malam itu Rem mobil blong dan aku menabrak pohon tapi ada seseorang yang menolong ku saat itu, lalu datang dua laki-laki menyiram muka sehingga wajah ku terasa panas dan aku di temukan mereka di pinggir jalan dengan wajah yang sudah melepuh," kata Afnan berjalan ke arahku.
Mata ku membulat saat mendengar cerita itu, aku tidak tahu yang terjadi dengan mas Rahman malam itu tapi jika mas Rahman di temukan malam itu kenapa tidak ada orang yang menghubungi ku.
"Aku adalah suamimu, Rahman. Aku rindu sama putri kita Rania, rindu sama ibu dan Silvi." Mas Rahman memegang pipiku, ia menatap mataku dengan air hujan yang terus mengalir pipiku.
Dia benar, dia suamiku, Rahman ku.
"Kenapa setelah sadar kamu tidak menemui aku, Mas?" tanyaku memukul dada bidangnya, Air mata kerinduan ini akhirnya jatuh perlahan. Dia membawa aku ke dalam pelukannya.
"Maaf sayang, waktu itu aku belum siap bertemu kamu dengan wajah orang lain," kata Mas Rahman.
"Ayo, kita pulang sekarang? aku ingin bertemu dengan ibu dan Rania," kata Mas Rahman membawa aku ke dalam pelukannya, aku hanya mengangguk tanpa bisa bicara apa-apa.
Kami pulang kerumah dengan basah kuyup di dalam mobil, aku terus menatap mas Rahman dengan wajah berbeda. Jadi selama ini dia tinggal bersama keluarga pak Brata tapi baru saat ini dia menemui aku.
__ADS_1
Tak lama kemudian kami sampai di depan rumah, aku dan mas Rahman keluar dari mobil tapi aku takut jika ibu tidak percaya kalau ini adalah Mas Rahman.
"Ibu...!"