Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 95


__ADS_3

"Dokter...!" panggil Rahman melihat dokter Fadli pingsan, padahal dia hanya berpura-pura mengerjai Silvi balik.


"Kok ribut-ribut, ada apa? loe, dokter Fadli kenapa?" tanya Ratih melihat dokter Fadli pingsan, Bu Romlah mengambil minyak kayu putih lalu memberikan pada Rahman.


"Coba, kamu oleskan minyak kayu putih di hidungnya," kata Bu Romlah.


Mas Rahman hanya mengangguk lalu aku melihat ke arah Silvi, kenapa dia seperti ketakutan.


"Apa yang terjadi sebenarnya, Bu?" tanyaku.


"Silvi memasukkan garam dalam tehnya dokter Fadli, entah sengaja atau dia lupa? lihat dokter Fadli pingsan sekarang,"


Aku menoleh ke arah Silvi, dia hanya menunduk. Bukannya gula dan garam tempatnya terpisah lagian ada tulisannya. Apa Silvi salah baca.


"Ah, mungkin Silvi memang lupa? Silvi kamu ikut mbak," kata ku menarik tangannya, aku membawanya ke dapur.


"Katakan sama mbak, apa kamu sengaja mengerjai dokter Fadli?" tanya ku.


"Sstt, mbak jangan keras-keras suaranya. Aku memang mengerjainya tapi dia malah pingsan," kata Silvi cemberut.


"Tapi kenapa?"


"Karena semalaman dia sudah berbuat kurang hajar pada ku, mbak?" kata Silvi membuat aku tercengang, apa yang di lakukan Fadli padanya. Aku memutarkan badan Silvi melihat sesuatu yang akan menyakitinya.


"Apa dia menyakitimu!" tanya ku lagi.


"Dia tidak menyakitiku, Mbak tapi dia mencium ku," kata Silvi polos.


Apa, Fadli mencium Silvi? sejauh apa hubungan mereka. Bagaimana jika Fadli akan mengecewakan Silvi nanti.


"Apa kamu mencintainya?" tanyaku.


"Cinta, tidak mbak? aku dan dia hanya berteman," kata Silvi berjalan kembali ke depan, aku mengikutinya dan ternyata dokter Fadli sudah sadar, terlihat dokter Fadli baik-baik saja.


"Apa dokter baik-baik saja?" tanyaku.


"Baik, saya pamit pulang dulu?" kata dokter Fadli memegang dadanya. Silvi hanya diam, ia tidak berani untuk bersuara.


"Tunggu Dok, Silvi antarkan dokter Fadli sampai ke rumahnya. Selama dia sakit, ibu ingin kamu merawatnya," kata ibu.


"Tapi, Bu?"


"Jangan membantah Silvi?" kata mas Rahman marah, ia tidak habis pikir Silvi bisa melakukan itu semua.


"Baiklah, ayo dokter!" kata Silvi memakai tas selempang miliknya lalu berjalan beriringan dengan dokter Fadli.


Di dalam perjalanan, Silvi hanya diam sesekali matanya menoleh ke arah dokter Fadli yang menyetir dalam keadaan sehat saja.


"Kenapa kamu menatap aku seperti itu?" tanya dokter Fadli.

__ADS_1


"Apa kamu tadi hanya berpura-pura sakit?" kata Silvi.


"Kenapa, aku benar-benar sakit hati kamu mengerjai aku?" kata Fadli.


"Kok kamu tahu?"


"Kamu masih seperti yang dulu, mengerjai aku?" kata Fadli yang sedang menyetir mobil.


"itu ganjaran buat kamu karena semalam kamu menciumku," kata Silvi menatap ke depan.


"Apa kau ingin aku lagi?" goda Fadli.


"Dasar mesum?" Silvi mengalihkan pandangan ke arah jendela, Fadli hanya tersenyum sesekali membayangkan bagaimana ciumannya mendarat di bibir Silvi hingga dia hampir hilang kendali.


Satu jam perjalanan, Fadli dan Silvi sampai di apartemen milik fadli. Silvi turun lalu Fadli memarkirkan mobilnya karena hari ini dia tidak pergi ke rumah sakit.


"Ayo, Masuk?" kata Fadli setelah menaiki lift, apartemennya berada di lantai 4.


"Apartemen kamu bagus juga?" kata Silvi.


"Apa kamu suka?"


"Suka, interiornya bagus?" kata Silvi duduk di sofa.


"Aku akan mengajak kamu tinggal disini nanti setelah kita menikah?" kata Fadli.


"Apa yang kau katakan?" kata Silvi.


Silvi mengelilingi apartemen Fadli lalu terlihat foto mereka waktu SMA tergeletak di samping pas bunga dekat tv, Silvi mengambilnya melihat foto tersebut.


"Kamu sedang apa?" tanya Fadli.


"Kamu masih menyimpan foto kita?" tanya Silvi.


"Memangnya kenapa? waktu sekolah dulu kita sering berantem dan tidak pernah akur membuat aku jatuh cinta sama kamu," kata Fadli, Silvi hanya diam dengan tersenyum. Dia kembali meletakkan foto tersebut di tempatnya.


"Kini aku sudah menemukan kamu kembali, aku mencintaimu?" kata Fadli tidak bisa lagi menahan rasa yang selama ini dia pendam bertahun lamanya.


"Tapi aku...!


"Jangan katakan apapun, jangan membuat aku patah hati." kata Fadli meletakkan telunjuknya di bibir Silvi.


"Tapi semua ini terlalu cepat?" kata Silvi.


"Hai, aku tidak menyuruhmu untuk menerima cintaku tapi aku hanya ingin mengutarakan isi hatiku kalau kamu tidak terima aku bisa apa?" kata Fadli sedikit kecewa dengan jawaban Silvi.


Fadli berjalan menuju dapur mini, ia membuat sebelah teh hangat. Silvi yang baru sadar kalau Fadli tadi sakit tercengang melihat Fadli yang dari tadi berjalan tanpa memegang dadanya.


"Apa kau mengerjai ku?" tanya Silvi.

__ADS_1


"Maksud mu apa?"


"Tadi kan di rumah kamu sakit tapi kini kamu baik-baik saja?" kata Silvi.


"Haha, aku hanya membalasnya?" kata Fadli tertawa.


"Fadli, awas kamu!" Silvi berjalan ke arah Fadli lalu menggelitik pinggang Fadli.


"Jangan, ampun?" kata Fadli geli.


Semua itu membuat Silvi semakin semangat menggeliat pinggang Fadli.


"Sudah, aku gak kuat lagi?" kata Fadli memegang tangan Silvi agar tidak menggelitiknya lagi. Wajah Mera sangat dekat tanpa jarak lagi, keduanya saling menatap.


Cup....


Fadli kembali mendaratkan bibirnya di kening Silvi, ia hanya terdiam merasakan kehangatan. Deru nafas keduanya memburu.


"Kamu apa-apaan sih?" kata Silvi mendorong Fadli menjauh darinya.


"Maaf, aku tidak bisa menahannya lagi? apa kita menikah saja," kata Fadli tersenyum.


"Tidak, aku tidak ingin menikah denganmu," kata Silvi pergi dari apartemen Fadli.


Dia tidak pernah membayangkan untuk menikah setelah apa yang terjadi dengannya, Silvi berlari dari apartemen Fadli. Bayang-bayang masa lalu itu melintas di pikiran Silvi, Fadli takut akan terjadi sesuatu pada Silvi mencoba untuk mengejarnya.


*** ****


Di kediaman Anggara


"Apa kamu sudah mengurusnya?" tanya Anggara pada Yogi.


"Sudah, bos tinggal berangkat Minggu depan ke London untuk mengejar cinta?" kata Yogi menggoda Anggara.


"Jangan menggoda ku atau kau akan aku pecat," kata Anggara


"Maaf, Bos? oh ya kalau begitu aku pergi dulu dan semua keperluan bos, baik visa ataupun lainnya ada di dalam sini?" kata Yogi memberikannya pada Anggara.


Anggara hanya mengangguk, ia tersenyum membayangkan akan bertemu dengan Stefani di London.


Anggara mengambil ponsel membuka aplikasi berwarna hijau, ia mencoba untuk menghubungi Stefani kembali yang tidak pernah di angkat.


[ Hai, pagi cantik ]


[ Hai, siapa ya? ]


[ Apa kau tidak mengenali diriku ]


[ Maaf, aku tidak mengenali anda? sepertinya anda salah orang ]

__ADS_1


Pesan terkirim begitu saja, ia pikir Stefani akan mengenalinya. Lagi-lagi Anggara mendapatkan kekecewaan dari Stefani, ia pikir Stefani tidak melupakan. Belum hampir satu tahun disana, Stefani lupa akan Anggara.


Bagaimana jika Anggara benar-benar menemuinya di London? akankah mereka akan bertemu.


__ADS_2