
Dua jam perjalanan, Fadli dan Radit tiba di rumah sakit di Jakarta Selatan. Dia berjalan melewati koridor rumah sakit menuju ruang direktur di rumah sakit.
"Selamat pagi, pak Samsul," kata Dokter Fadli menjabat tangan pak Samsul.
"Dokter Fadli sudah datang, kok gak bilang-bilang," kata direktur rumah sakit kasih bunda, ia menyuruh dokter Fadli dan Radit masuk ke ruangannya.
"Jadi begini Dokter Fadli, Saya ingin anda kembali bekerja di rumah sakit ini sebagai dokter saraf kebetulan dokter saraf yang selama ada disini mau pensiun," kata pak Samsul menatap ke arah dokter Fadli dan Radit.
"Tapi pak, saya sudah lama di rumah sakit disana?" Kata dokter Fadli.
"Saya sudah bilang pada direktur rumah sakit tempat kami bekerja dan kamu akan di pindahkan kesini satu Minggu lagi," kata pak Samsul selaku kepala direktur di rumah sakit kasih ibunda.
"Baiklah Pak kalau begitu kami pamit undur diri dulu," kata dokter Fadli keluar dari ruangan pak Samsul bersama Radit, mereka terus berjalan melewati setiap lorong rumah sakit yang ada di Jakarta Selatan.
"Dokter Fadli," seseorang memanggil namanya dari belakang, lalu dokter Fadli menoleh dan melihat Rahman berada di belakangnya.
"Rahman, kamu kok ada disini?" tanya dokter Fadli.
"Putriku di rawat disini, dokter kesini ngapain," tanya Rahman.
"Ada sedikit keperluan dengan kepala rumah sakit disini, kalau begitu kami permisi dulu," kata dokter Fadli meminta izin pada Rahman, entah kenapa sejak pertemuan dengan Silvi moodnya jadi berubah.
Dia merasakan pernah kenal dengannya, gaya berbicaranya sangat mirip dengan seseorang.
*** ***
"Kamu kenapa, kok muka di tekuk begitu?" tanya lili karyawan yang ikut bekerja jadi pelayan cafe.
"Tadi pagi aku tidak sengaja nabrak orang, aku minta maaf masak dia marah-marah. Aku tinggalin saja dia," kata Silvi membersihkan meja bersama Lili.
"Sudah, orang begitu tidak usah di pedulikan. Ayo, kita selesaikan pekerjaan kita setelah beres-beres pulang deh," kata Lili bersemangat.
Silvi hanya mengangguk, lalu kembali menjalani tugasnya membersihkan meja dan setelah itu baru pulang ke rumahnya.
Satu hari bekerja membuat Silvi begitu lelah mungkin tidak terbiasa bekerja, ia berhenti di depan supermarket lalu turun dari ojek untuk membeli minuman karena haus.
"Pak tunggu disini sebentar ya? Aku mau beli minuman dulu,"
Silvi berjalan masuk ke supermarket lalu berjalan ke arah freezer untuk mengambil minuman dingin dan memilih beberapa Snack makanan lalu berjalan ke kasir untuk membayarnya. Di saat hendak berjalan menuju ojek, lagi-lagi Silvi menabrak seseorang karena ia asik melihat kantong kresek miliknya.
"Maaf, Saya tidak sengaja,"
"Kamu lagi?"
Mata Silvi membulat melihat siapa lelaki yang dia tabrak, ia tidak menyangka jika ia bertemu kembali dengan lelaki yang tadi pagi bertemu dengannya.
"Bisa tidak sih, sehari saja tidak bikin onar. Buat orang tensi saja," kata Fadli marah.
Ya, lelaki yang tadi dia tabrak adalah Fadli, pertemuan kedua membuat keduanya kembali berada mulut.
"Saya kan sudah minta maaf, kenapa anda marah," kata Silvi menatap lelaki yang ada di depannya.
Kenapa lelaki ini mirip sekali dengan seseorang tapi siapa ya? Silvi terus memikirkan wajah yang tak asing di depannya.
"Woi, kok melamun?" Fadli mengagetkan Silvi yang baru saja larut dalam lamunannya.
__ADS_1
"Apaan, bikin kaget orang saja?" Kata Silvi.
"Kamu ikut aku sekarang?"
"Untuk apa?"
"Untuk mempertanggung jawabkan karena kamu sudah dua kali menabrak ku dan aku bisa saja melaporkan kamu ke polisi," kata Fadli mengancam agar ia bisa mengajak Silvi ikut bersamanya.
"Lapor apa? Aku hanya menabrak bukan memukul mu," kata Silvi mencoba menghindar agar dia bisa pulang.
Fadli berjalan ke arah ojek tadi lalu memberikan uang dan menyuruh bapak tadi pergi.
"Hei, kenapa kamu menyuruhnya pergi lalu aku pulang naik apa?" Kata Silvi dengan wajah memerah, baru kali ini dia menemukan lelaki yang sangat menjengkelkan.
"Kamu pulang bareng aku atau aku bawa kamu ke polisi," lagi - lagi Fadli memberi ancaman pada Silvi.
"Oke, aku ikut tapi jangan macam-macam," kata Silvi berjalan sembari menghentak kakinya ke tanah bagaikan anak kecil saja.
Fadli hanya mengangguk lalu tersenyum, rencananya untuk mencari informasi tentang Mouse akan lebih mudah karena Fadli merasakan insting yang kuat kalau wanita yang ada di depannya adalah Mouse.
*****
Sepanjang perjalanan, Silvi hanya diam menatap datar ke arah depan tanpa melihat ke arah Fadli yang menyetir. Tanpa sadar Silvi melihat mobil berhenti tepat di sebuah gedung tinggi.
"Ngapain kita kesini?" Tanya Silvi menatap ke arah Fadli.
"Kita mampir dulu ke apartemen ku setelah itu baru aku akan mengantarmu pulang!" Kata Fadli membuka pintu mobil.
"Aku tunggu kamu disini saja!" Kata Silvi menolak untuk turun dari mobil, ia takut kejadian tempo hari akan di alaminya lagi. Apalagi dia tidak kenal dengan lelaki yang sedang bersamanya.
"Ya sudah, aku masuk ke dalam dulu," kata Fadli menutup pintu mobil lalu berlenggang masuk ke dalam apartemen selama dia tinggal di Jakarta Selatan.
Sepuluh menit menunggu, Fadli keluar dengan pakaian kaos berlengan pendek dan celana pendek di bawah lutut membuat Silvi membulatkan mata melihat ke arahnya.
"Mikky..." Gumam Silvi dengan lirih tapi tak membuat Fadli mendengarkannya.
"Maaf, aku terlalu lama?" Kata Fadli.
"Tidak apa-apa!" Kata Silvi kembali menatap ke depan, hatinya berdetak kencang saat ia Mikky dalam diri Fadli.
"Ah iya, kita belum saling kenal. Nama kamu siapa?" tanya Fadli.
"Silvi..!"
Apa, Silvi ! Kenapa namanya mirip sekali dengan Mouse, apa dia adalah Mouseku. Ah, sebaiknya aku tanyakan nanti saja.
"Sebaiknya kita cari makan dulu, baru setelah itu aku antarkan kamu pulang," Kata Fadli menstater mobilnya lalu mengendarainya mencari warung makan untuk mengisi perut yang sudah lapar.
Mobil berhenti di depan restoran, Fadli turun begitu juga dengan Silvi. Walaupun ia sangat malas harus makan berdua dengan lelaki yang sama sekali tidak dia kenal. Dia turun mengikuti langkah Fadli yang masuk ke dalam restoran.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Fadli setelah mereka duduk di dekat pojok sehingga mereka lebih leluasa melihat orang yang berdatangan ke restoran tersebut.
"Samain aja sama pesanan kamu," kata Silvi mengutak-atik ponselnya, ia mengirim pesan pada Lili teman yang baru saja dia kenal.
[ Li, loe dimana sekarang ]
__ADS_1
[ Gue ada di luar, memangnya kenapa? ]
[ Pas banget, loe temui gue di restoran xxx ya! ]
[ Gue itu di luar depan rumah bukan di jalan, memangnya ngapain gue kesitu ]
[ Udah, loe kesini saja nanti loe bisa makan enak ]
Lagi-lagi Silvi mengirim pesan tanpa menghiraukan Fadli yang berada di depannya.
[ Oke, tunggu gue disana. ]
Silvi tersenyum akhirnya sahabatnya mau datang ke restoran tempat ia makan dengan Fadli. Ia hanya diam karena aku Fadli terus memperhatikannya.
Tak lama kemudian, beberapa masakan terhidang begitu mewah di atas meja. Silvi menelan ludah melihat masakan yang begitu lezat.
"Wah, udang crispy kayaknya enak ini?" Gumam Silvi melihat udah crispy yang di lumuri Mozarella di atasnya.
"Ayo, kita makan," kata Fadli.
"Ah, iya tunggu...!"
"Silvi...," Seseorang perempuan memakai kacamata berdiri di belakang Fadli dan ikut menoleh ke asal suara.
"Lili, ayo duduk! Pak boleh teman saya ikut makan bareng kita," tanya Silvi sengaja menghadirkan Lili di antara mereka biar ia tidak terlalu tegang dengan keadaan mereka yang hanya berdua.
"Boleh, Ayo silahkan duduk?" Kata Fadli.
Lili duduk di sebelah Silvi dan membulatkan mata melihat makanan mewah terhidang di depannya mereka.
"Wah, makanannya enak-enak ini? Bisa di bawa pulang gak sih!" Kata Lili.
Silvi menyenggol kaki Lili tapi salah sasaran yang dia tendang malah kaki Fadli.
"Kok kaki saya di tendang, kenapa?" tanya Fadli menatap ke arah Silvi.
"Apa, maaf saya tidak sengaja lagi pak," kata Silvi menunduk.
"Hari ini kamu sudah tiga kali melakukan kesalahan dan selama tiga hari pula kamu harus bekerja di apartemen saya," kata Fadli.
"Apa, kok begitu! Yang benar saja pak?" Kata Silvi.
"Apa kamu mau ke kantor...!"
"Jangan pak! Iya saya akan bekerja di rumah bapak selama 3 hari,"
"Saya ini masih muda tapi kenapa di panggil bapak, panggil nama saya Fadli," kata Dokter Fadli.
"Apa, Fadli? Nama kepanjangan bapak apa?" tanya Lili sambil mengunyah makanan sedangkan Silvi kembali memakan makanan lezat.
"Fadli Narendra..,"
Uhuukk...Uhuukk...
"Kamu kenapa, Sil?"
__ADS_1
***
Assalamualaikum semuanya, mampir juga di cerita baruku dengan judul Saida khadijah