
"Apa, dia tapi mana mungkin!"
Aku memicingkan mata ke arah Anggara meminta penjelasan, mana mungkin aku menjadi sekretarisnya sedangkan dia. Ah, kenapa menjadi seperti ini.
Apa semua ini atas kemauan Afnan, aku menatap dia dengan tajam. Ingin sekali aku mencakar dia.
"Tapi Pak, dia.."
"Tidak tapi-tapian, ini sudah menjadi perintah atasan," kata Anggara formal.
Kenapa dia hari ini mendadak serius menjadi atasan, sedangkan Afnan hanya menatap ku dengan senyuman membuat aku semakin kesal.
"Baiklah, aku akan bereskan barang-barang aku sekarang," kata ku keluar dari ruangan Anggara dengan kesal, aku berjalan dengan menggerutu kesal menuju meja kerjaku.
"Makasih banget, kalau bukan karena bantuan loe! mungkin gue gak bisa ketemu sama dia lagi," kata Afnan berjalan ke arah Anggara.
"No problem, kalau loe gak bilang kalau loe itu Rahman mungkin gue juga gak kenal loe yang sudah berubah begini," kata Anggara menepuk pundak Afnan, mereka saling tertawa membuat suaranya terdengar keluar.
Apa yang membuat mereka tertawa sehingga suaranya terdengar sampai kesini, setelah membereskan punya ku. Aku kembali ke dalam ruangan Anggara.
"Sudah, jadi dimana ruangan aku sekarang," kata Ku dengan ketus.
"Aku ikut aku sekarang?" kata Anggara, Kami berdua hanya mengangguk lalu berjalan mengikuti langkah Anggara.
Kami terus berjalan lalu berhenti menaiki lift menuju lantai 30, setahu aku samping gedung ini juga perusahaan yang baru di rintis oleh Angga beberapa bulan yang lalu.
Apa mungkin dia meletakkan aku di perusahaan baru yang baru resmi 5 bulan yang lalu ini. Aku melihat gedung yang masih baru bekerja di bidang properti.
"Pak Afnan, mulai sekarang anda akan menjadi direktur di kantor kami dan saya harap perusahaan yang baru saja di bangun ini berkembang pesat di tangan bapak," kata Anggara, Afnan hanya mengangguk sementara aku merasa harus beradaptasi lagi di kantor ini.
"Mari saya tunjukkan ruangannya," kata Anggara mengajak Afnan ke ruangannya, kami terus berjalan sehingga berhenti di sebuah ruangan dengan tulisan Direktur di depannya.
"Bagaimana, apa pak Afnan suka dengan ruangannya," kata Angkara menunjukkan ruangan cukup luas tapi ada dua meja kerja di dalamnya.
Apa meja kerja ku satu ruangan dengan lelaki ini, dari pada penasaran mendingan tanya langsung pada Anggara.
__ADS_1
"Pak, ruangan saya dimana ya?" tanyaku.
"Meja kamu ada di sebelah sana, kebetulan gedung ini baru saja di resmikan jadi kalau di luar tidak memungkinkan," kata Anggara.
Aku mendengus kesal dengan bola mata malas, mau protes nanti aku di pecat lagi. Dengan langkah gontai, aku berjalan ke meja kerja ku.
Aku meletakkan barang-barang ku di atas meja, entah kesialan apa sehingga aku bisa satu ruangan dengan lelaki yang selalu membuat aku kesal.
Aku duduk di kursi untuk menghilangkan kekesalan pada Anggara, di kantor baru ini. Apa yang harus aku kerjakan nantinya.
"Besok saya akan mengumumkan pada karyawan kalau direktur sudah di ganti dan semoga kerja sama di antara kita berjalan dengan lancar pak," kata Anggara terus menebarkan senyum.
"Sama-sama, Saya harap juga begitu. Semoga kerja sama ini saling menguntungkan," kata Afnan, lalu Anggara keluar dari ruangan setelah mengantar kami kesini.
Afnan duduk di meja kerjanya tapi matanya terus menatap ke arah ku, apa dia tidak bisa menjaga matanya sedikit.
"Apa ada yang lucu sehingga anda menatap saya begitu?" tanya aku.
"Tidak ada, Anda sangat cantik karena itulah membuat saya tidak bisa berpaling dari anda," Kata Afnan menatap istrinya yang begitu kesal karenanya, ia memang sengaja membuat Ratih kesal agar mereka bisa beradu argumen setiap hari.
"Kau benar-benar membuat.... Aw," teriakku saat hampir jatuh karena terpeleset, untuk saja Afnan menangkap aku dan oh tidak, kenapa aku berada di pangkuannya.
"Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan," kata ku mendorong dada bidang Afnan begitu keras, lalu kembali ke meja kerja ku.
"Aku tidak mencarinya tapi datang sendiri, mungkin saja kita berjodoh," kata Afnan membuat aku terkejut.
Apa yang dia katakan, aku tidak akan menikah lagi selamanya. Aku akan tetap menunggu Mas Rahman Kembali.
"Apa kau bilang berjodoh, aku tidak sudi mempunyai suami seperti kamu," kata Ku dengan nada marah.
"Oh ya, coba katakan aku ingin dengar!" kata Afnan berjalan ke arah ku.
Ada apa dengannya, Kenapa dia suka sekali mengganggu ku dan kini dia berjalan ke arah ku, sebaiknya aku cari aman saja deh. Aku berjalan mundur lalu mencari pintu agar bisa keluar dari ruangan ini.
Aku tidak mungkin satu ruang sama makhluk aneh seperti Afnan, bisa-bisa jantung ku bisa copot.
__ADS_1
Di dalam ruangan, Afnan tertawa melihat mimik muka Ratih yang begitu panik dan ketakutan, ingin sekali dia tertawa di depan Ratih tapi tidak bisa.
"Maaf sayang, aku sengaja membuat kamu kesal agar kamu selalu mengingat aku," kata Afnan dengan lirih.
*** ***
Jam makan siang sudah tiba, Ratih keluar untuk mencari cafe yang tidak jauh dari kantor. ia memilih cafe selayang karena tidak jatuh dari kantor apa lagi dia baru hari ini pindah di gedung baru.
Dia memilih meja di tengah-tengah karena tidak ada meja yang kosong di dekat pojokan, ia duduk lalu memesan minuman dan makanan pada waiters. Namun tiba-tiba seseorang datang, berdiri tepat di depannya.
"Hai boleh aku duduk disini," kata seorang lelaki dengan mata melirik ke arah Ratih dengan penuh gairah.
"Boleh, silahkan saja?" kata Ratih sedikit canggung karena ada lelaki duduk berhadapan dengannya.
"Kamu cantik," puji lelaki tersebut dengan mencolek dagu Ratih, ia merasa risih melihat lelaki yang sedikit kurang ajar darinya.
"Maaf, bisa kah anda bersikap sopan sedikit?" kata Ratih mencoba menahan amarahnya.
"Ayolah, mari kita bersenang-senang? aku yakin kamu pasti suka," lelaki tersebut menarik tangan Ratih untuk ikut dengan tapi Ratih mencoba memberontak.
"Lepaskan atau aku akan berteriak," Ancam Ratih, lelaki tersebut melihat ke segala arah. Tidak ada yang peduli dengan apa yang dia lakukan.
"Tidak usah berteriak, kamu cukup ikut aku saja," kata lelaki tersebut.
Namun seseorang lelaki datang lalu memegang tangan lelaki yang memegang tangan Ratih.
"Lepaskan atau kau menerima akibatnya," kata Afnan tiba-tiba melihat seorang lelaki mengganggu Ratih.
"Memangnya Anda siapa?" tanya lelaki yang sudah tua .
"Aku suaminya lalu kamu mau apa?" Kata Afnan balik bertanya pada lelaki tersebut.
"Apa, suaminya! Maaf saya tidak tahu kalau dia istri anda," kata lelaki tersebut pergi begitu saja tanpa menoleh lagi ke belakang.
"Terimakasih...!"
__ADS_1