
Happy reading 🍁
"Mbak, bukankah dia lelaki yang tak sengaja menabrak kita malam itu," kata Silvi menunjukan lelaki di dalam Cctv tersebut, aku menatap lelaki tersebut. Siapa yang menyuruh dia untuk melakukan semua ini.
"Pak, bisa kirimkan Cctv itu ke ponsel saya soalnya saya butuh bukti untuk menangkap pelaku ini," kata Fadli, petugas itu hanya mengangguk lalu kami berterima kasih pada manajer yang sudah mau membantu kami.
Setelah menemukan bukti tersebut, kami bertiga berangkat ke kantor polisi untuk memberikan bukti agar pelaku bisa secepatnya di tangkap. Setidaknya pelaku itu tidak berkeliaran bebas diluar sana dan kembali melakukan kejahatan.
"Apa mbak mencurigai seseorang," tanya Silvi, aku menatap mereka berdua lalu mengangguk.
"Siapa?" tanya Fadli.
"Tania..." ujar ku.
"Tania, maksud Mbak?" kata Silvi lagi.
"Malam pertunangan kamu, mbak tidak sengaja mendengar Tania menghubungi seseorang makanya malam itu mbak meminta kamu pulang dengan mobil Anggara tapi malah Mas mu yang mengalami kecelakaan," Sesal ku.
Seandainya mas Rahman tidak pulang dengan mobil kami, mungkin saat ini dia masih bersama kami tapi apalah daya ku.
__ADS_1
Tiga puluh menit, kami sampai di kantor polisi dan masuk untuk menemui polisi yang menangani kasus Mas Rahman.
"Ada yang bisa kami bantu Pak?"
"Kami hanya ingin memberikan bukti Cctv malam kecelakaan suami saya Dok, mungkin dari sini kita bisa menemukan pelakunya," kata ku memberikan ponsel ku pada polisi tersebut.
Polisi tadi mengambilnya lalu melihat rekaman Cctv tersebut, seseorang sedang melakukan sesuatu pada mobil mas Rahman.
"Kirimkan ke kami videonya agar kami bisa melakukan tindakan selanjutnya," kata polisi lalu memberikan kembali ponselnya pada ku.
Setelah urusan dengan polisi selesai, kami pulang ke rumah. Langit masih gelap, hujan masih seakan enggan berhenti menyirami bumi yang gersang karena hampir satu bulan hujan tidak turun.
"Semoga pelakunya cepat tertangkap Mbak," kata Silvi setelah kami berada di dalam mobil.
*** ***
Di rumah sakit, Bu Lidya dan keluarga mengurus berkas-berkas untuk membawa Afnan ke Singapura untuk melakukan operasi wajah. Tidak seorangpun siapa namanya kecuali dia yang berbaring koma di atas ranjang rumah sakit, siapa lagi kalau bukan Rahman sendiri. Namun sayangnya, keluarga yang menolong tidak tahu namanya dan identitasnya hilang begitu saja.
Entah bagaimana, jika suatu hari lelaki tersebut sadar. Apakah dia masih ingat dengan keluarganya sendiri atau hidup menjadi diri orang lain.
__ADS_1
"Bagaimana, Dok? Kapan kami bisa berangkat ke Singapura," tanya Bu Lidya pada dokter yang menanganinya.
"Besok, anak ibu sudah boleh di bawa ke Singapura walaupun dia masih dalam keadaan koma. Disana dia sudah di tunggu oleh pihak rumah sakit karena saya sudah menghubunginya tadi," kata dokter yang menangani pasien yang wajah di perban.
"Baiklah dokter, terimakasih," kata Bu Lidya keluar dari rumah ruangan dokter, lalu berjalan ke ruang VIP 05.
"Bagaimana, Ma? apa kata dokter," tanya Amelia .
"Besok dia sudah bisa di terbangkan ke Singapura, " kata Bu Lidya menatap pada laki-laki yang ditolongnya.
"Tadi Mama tidak sengaja bertemu dengan seseorang, dia menanyakan pasien yang di bawa kesini atas kasus kecelakaan," kata Bu Lidya duduk di sofa.
"Maksud Mama apa?"
"Ya, sepertinya dia sedang di cari oleh seseorang. Untung saja dia kita temukan kalau orang lain, mama tidak bisa membayangkannya," kata Bu Lidya terbayang tadi tidak sengaja seseorang menabraknya.
"Mungkin saja, dia memang mencari saudaranya, Ma," kata Amelia.
"Tidak sayang, Mama yakin kalau dia mencari lelaki ini. Tato begitu banyak di tubuhnya dan membuat mama merasa ketakutan.
__ADS_1
"Jangan-jangan dia penjahat lagi, Ma." kata Amelia takut.
"Siapa penjahat....!"