
"Terima kasih ya, Bu. Ratih ke kamar dulu,"
Aku kembali ke kamar, memasukkan baju yang tadi ke dalam lemari. Lalu, aku berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku dan untuk menunaikan kewajiban sebagai umat Islam. Sedangkan mas Rahman masih terlelap di samping putri kami.
Matahari sudah kembali ke peraduannya, malam ini sepertinya mendung tidak ada bintang yang bercahaya satu pun. Aku belum bersiap-siap karena harus memberi makan Rania.
"Ratih, biarkan ibu yang suapi Rania makan. Kamu bersiap-siap sana," kata ibu mertuaku mengambil tempat makan Rania.
"Tidak apa-apa merepotkan ibu?" tanya ku menatap ke arah ibu mertuaku. Baru sehari di rumah ibu banyak berubah, Mau mengurusi Rania, aku hanya berharap semua kebaikan ibu dan mas Rahman bukanlah siasat mereka untuk menyakitiku.
"Tidak apa-apa, biarkan ibu yang menjaga Rania," Ibu mengambil makanan Rania lalu menyuapinya, aku hanya tersenyum berjalan ke kamar. Aku melihat kamar bagaikan kapal pecah.
"Mas, apa yang terjadi! Kenapa lemari berantakan seperti ini," tanya ku melihat baju mas Rahman sudah keluar semua dari lemari, begini lah kalau lelaki mencari bajunya sendiri pasti berantakan.
"Mas lagi mencari baju tapi tidak ada baju yang bagus, sepertinya mas tidak jadi pergi saja," kata mas Rahman duduk di atas tempat tidur. Aku tersenyum melihat wajahnya yang di tekuk seperti anak kecil saja, aku membuka lemari pakaian ku lalu mengambil baju milik mas Rahman.
Tadi aku membeli baju couple agar kami serasi pergi ke acara kantor, aku memakai gamis berwarna Navy dan pashmina berwarna hitam, serasi dengan mas Rahman yang memakai warna hitam juga.
"Pakailah, sebentar lagi kita akan berangkat," kata ku memberikan baju padanya. Mas Rahman menatap aku bingung karena aku memberikan baju padanya.
"Kapan kamu beli baju, Tih?" tanya mas Rahman.
"Tadi siang aku memesannya di shoope waktu mas bilang tidak ada baju," kata ku mengambil baju ku dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Setelah mencuci muka, aku berjalan ke meja rias dan memakai sederetan skincare yang aku beli. Tak lupa aku memakai bedak tipis dan lipstik pewarna bibir agar bibir ini tidak terlalu kering. Setelah selesai dandan, aku berjalan keluar sambil menyematkan tas selempang di bahu ku.
__ADS_1
"Ayo, Mas kita berangkat. Acaranya kan sebentar lagi," kata ku berdiri tepat di depan pintu, mas Rahman hanya diam menatapku tanpa berkedip. Aku melihat pada diriku sendiri, takut ada yang salah.
"Kenapa, kok lihat aku begitu mas?" tanya ku.
"Kamu cantik sekali!" Puji mas Rahman tersenyum sambil menggenggam tangan ku.
"Ayo, kita berangkat." Kata mas Rahman berjalan pada sepeda motor miliknya, Aku duduk di belakang dan memegang erat pada pinggangnya mas Rahman.
Cuaca malam sangat dingin, lampu jalanan terlihat indah. Aku merasa bahagia walau hanya berjalan dengan sepeda motor tapi membuat aku bahagia, Acara kantor mulai jam 20:30 sedangkan masih jam 19:30 berarti ada waktu satu jam lagi untuk sampai di hotel bintang lima, tempat acara kantor di adakan.
Satu jam perjalanan, kami baru sampai. Mobil dan kereta sudah banyak terparkir disana, semua karyawan telah hadir. Kami berdua berjalan memasuki bathroom hotel, Disana sudah terlihat tamu yang hadir. Di depan kami di buatkan panggung mungkin untuk melaksanakan acara ini.
"Mas kita duduk disini saja," kata ku menunjukkan meja bundar kosong, mas Rahman hanya mengangguk lalu duduk di sebelah.
Minuman dan hidangan sudah terletak disisi meja bundar, kita tinggal mengambil saja mau makan apa. Aku mengambil jus buah dan kue brownies sementara mas Rahman hanya meminum segelas teh panas.
Entah semua itu benar, aku tidak pernah tahu. Sinta tidak pernah menceritakan tentang dirinya, ia sangat tertutup pada ku semenjak aku hengkang dari kantor dulu.
"Hadirin semua para undangan, terimakasih karena sudah menghadiri acara penaikan jabatan bagi karyawan yang berprestasi," seorang MC berbicara, mungkin acaranya akan segera di mulai. Terlihat pak Anggara menaiki panggung megah dengan memakai baju kemeja berwarna abu-abu dan celana hitam.
Sebelum acaranya dimulai kita akan melihat rekaman Video tentang perjalanan perusahaan PT. Sanjay Abadi.
Semua karyawan diam, pak Anggara berdiri di depan. kami sama-sama menatap ke layar tancap di belakang pak Anggara. Putaran video mulai berputar, terlihatlah bagaimana perjalanan PT, Sanjaya Abadi tapi di tengah-tengah video memperlihatkan pak Yanto bertemu dengan Riko lalu memberikan uang dalam jumlah banyak, bukan itu saja pak Andi juga termasuk salah satu yang ikut korupsi.
Semua mata mengarah pada Pak Andi, sementara pak Yanto telah di pecat tempo hari. Semua karyawan hanya diam. Pak Anggara mengambil mic dari MC.
__ADS_1
"Lihat orang-orang yang tidak bertanggung jawab, berani menggelapkan uang perusahaan. Apa mereka tidak pernah berpikir kerugian yang akan di tanggung oleh perusahaan." kata pak Anggara.
Lalu berputar lah Video waktu pak Andi menghina mas Rahman hanya seorang OB.
"Pak Andi, begitulah seorang HRD terhadap bawahannya," tanya pak Anggara.
Kami hanya diam, semua mata mengarah pada kami berdua.
"Dengan hormat, pak Andi terpaksa saya pecat dan bapak harus mengambilkan yang yang sudah bapak ambil dalam waktu dua bulan,"
"Tapi pak... Saya...,"
"Apa, pak Andi mau membela diri. Apa bukti itu tidak cukup untuk membuktikan sikap bapak yang sesungguhnya," kata pak Anggara menatap nyalang ke arah pak Andi.
Karena merasa di permalukan di depan umum, pak Andi pergi meninggalkan hotel tersebut tapi sebelumnya pak Andi berjalan ke atas panggung dan membisikkan sesuatu di telinga pak Anggara.
"Saya akan memberikan kamu pelajaran," peringat pak Andi dengan pongah lalu turun dari panggung yang sudah di sediakan.
Huhu....
Sorak semua karyawan pada pak Andi, pak Andi cukup tegas di kantor membuat semua karyawan tertekan karena tidak ada yang boleh membuat kesalahan. Jika ada karyawan yang berbuat salah pasti akan di marahi.
"Dasar, tidak punya malu," teriak seorang karyawan.
"Iya, pantesan istrinya bergaya di sosmed ternyata hasil korupsi," kata karyawan yang lain.
__ADS_1
Pak Andi tidak menyangka, jika rahasia terbongkar tapi dari mana pak Anggara mengetahui kalau pak Andi juga menggelapkan uang kantor. Apa semua ini sudah di persiapkan oleh pak Anggara.
"Anggara...!"