Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 38


__ADS_3

"Mas, ini bagus banget?" Kataku ketika melihat lukisan foto kami bertiga, aku tidak pernah mengharap hadiah yang mahal jika yang sederhana saja mampu membuat aku bahagia. Kenapa harus yang mewah, bukankah menikah itu bukan soal harta saja tapi di saat kita saling bersama dan berbagi satu sama lain.


Aku melihat foto tersebut dengan kebahagiaan, nanti di balik bingkai foto yang sesuatu yang tergantung. Aku membalikkan lukisan tersebut dan melihat cincin berlian.


"Mas, apa ini?" Kata ku mengambil Cincin tersebut. Mas Rahman mengambilnya dari ku.


"Semua ini untuk mu, maukah kamu memakainya sayang?"


"Tapi cincin ini mahal sekali, Mas!"


Harga bukanlah sebuah ukuran untuk aku menyayangimu, tak peduli seberapa mahal yang aku inginkan kamu bahagia di sisa umur ku yang tak panjang ini sayang,"


"Mas, tolong jangan membuat aku sedih malam ini, please!" aku merasakan tangannya dingin, aku mengajaknya untuk masuk ke dalam kamar karena udara malam tidak baik untuk mas Rahman sedang sakit.


"Mas kita ke kamar ya, kamu sudah terlalu lama di luar," kata ku.


"Sebentar lagi, kan cincinnya kan belum Mas sematkan di jari manis kamu,

__ADS_1


Ah, aku lupa kalau kami sedang merayakan Unniversary kami yang ke 3 tahun, aku hanya tidak ingin mas Rahman kembali drop seperti kemarin.


Mas Rahman menyematkan cincin di jari manis ku dan kembali mencium keningku, aku sangat bahagia. Malam yang tidak aku lupakan sampai kapan pun.


Karena terlalu lama di luar, akhirnya kami kembali ke kamar. Mas Rahman hanya diam, tangannya sangat dingin membuat aku cepat - cepat mendorong kursi rodanya agar sampai di ruangan.


Sampai di dalam ruangan, mas Rahman beranjak ke atas ranjang yang disediakan untuk pasien. Ia merebahkan tubuhnya, matanya mulai terpejam mungkin terlalu lelah karena dari tadi hanya duduk saja.


Aku menyelimutinya dan membisikkan kata-kata cinta, aku selalu berharap untuk kesembuhan mas Rahman.


Aku berjalan ke sofa lalu merebahkan tubuh ku di sana, berharap malam ini jangan cepat berlalu. Biarkan seperti ini agar aku bisa merasakan bahagia.


Matahari mulai memancarkan sinarnya, aku terbangun dari tidurku tapi tidak melihat mas Rahman ada di sana. Kenapa akhir-akhir ini mas Rahman sering menghilang.


"Mas, kamu habis dari mana?" tanya ku melihat ia masuk kamar dengan kursi rodanya.


"Mas tadi duduk di taman karena kamu lagi tidur, mas pergi sendiri saja,"

__ADS_1


"Apa mas sudah makan!" Mas Rahman menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, aku beli makanan dulu Mas? Kamu tidak apa-apa kan tinggal sendiri," kataku. Aku berjalan keluar untuk membeli makanan untuk kami berdua, semoga hari ini mas Rahman di bolehkan sehingga aku bisa bekerja lagi.


Aku membeli dua nasi bungkus untuk mas Rahman dan aku, hari ini ibu tidak datang karena harus menjaga Rania. Ibu menghubungi aku bilang kalau Rania sedikit rewel, mungkin ia rindu dengan papanya.


"Mas, ini makanannya?" kataku.


Mas Rahman mencoba berdiri dari kursi roda kemudian berjalan ke arah sofa. kami makan bersama-sama, setelah ini aku akan ke ruangan dokter untuk menanyakan mas Rahman sudah boleh pulang atau belum.


Selesai makan, mas Rahman kembali istirahat di ranjang. Suara ketukan pintu membuat aku beranjak untuk membuka pintu.


"Apa benar ini kamarnya pak Rahman," Seseorang memakai setelan jas berdiri di depan ku.


"Benar, Pak. masuk dulu," kata ku.


"Pak Fandi, kok tahu saya disini?" Rahman tersenyum menatap ke arah pak Fandi.

__ADS_1


"iya, saya mau menanyakan kerja sama tempo hari sama kamu," kata pak Fandi.


"Kerja sama, kerja sama apa?"


__ADS_2