
Mobil terus berjalan, sampai akhirnya taxi berhenti. Aku tak tahu ada dimana sekarang karena mas Rahman menutup mata ku disaat kami sampai di blok perumahan elit. Aku turun di tuntun oleh mas Rahman, penutup mata ini tetap saja tidak boleh di buka membuat aku semakin penasaran.
"Sekarang penutup matanya boleh dibuka," kata mas Rahman.
Aku membuka ikatan penutup mata, mata ku sedikit silau dan buram karena terlalu lama menutup mata, aku membuka mata pelan-pelan dan melihat di depan ku terpampang rumah begitu mewah walaupun minimalis.
"Mas, kok kita kesini?" tanya ku.
Mas Rahman hanya tersenyum, tidak berniat untuk mengatakan apapun padaku.
"Ayok, masuk kok bengong," Mas Rahman menarik tanganku untuk ikut bersamanya, ia berjalan pelan-pelan karena baru saja pulang dari rumah sakit.
Ting ... Tong....
Mas Rahman memencet bel di sebelah pintu masuk, aku hanya diam melihat sekeliling arah.
Ceklek...
Seseorang membuka pintu rumah dengan wajah mengembang, aku membulat mata melihat ibu dan Rania juga ada disini.
__ADS_1
"Selamat datang di rumah baru, istriku!" kata Mas Rahman setelah aku pusing memikirkan rumah siapa yang dia datangi.
"Rumah baru, maksud mas ini rumah kita,"
Mas Rahman hanya mengangguk tersenyum, Aku tak bisa berkata-kata, dari semalam ia terus memberi kejutan untuk ku. Air mataku kembali meleleh, tidak menyangka jika mas Rahman sudah menyiapkan semua ini untuk kami.
Aku memeluk mas Rahman dengan erat, rasa bahagia dan haru menjadi satu, ibunya hanya tersenyum melihat kami saling berpelukan.
"Sudah, nangisnya nanti saja masih banyak kejutan lainnya," kata ibu berjalan masuk.
"Benar Mas kamu mau memberikan kejutan lagi?" tanyaku.
"Tidak kok, mana ada lagi kejutan yang mas berikan. Semua sudah mas berikan untuk mu termasuk raga dan jiwa mas untukmu," kata mas Rahman mengelus pucuk kepalaku.
"Kita makan dulu, ibu sudah memasak banyak hari ini," kata ibu meletakkan masakannya di atasnya.
"Kok ibu tahu kalau kami kesini," tanya ku.
"Tuh, Arman yang kasih tahu sama ibu kalau dia pulang hari ini," kata ibu tersenyum kearah mas Rahman.
Aku menatap suami yang selama ini membuat aku jengkel tapi ia membuat aku bahagia sekarang.
__ADS_1
"Tapi mas barang-barang kita masih di rumahku, loe," kata ku.
"Semua barang kita sudah di bawakan kesini kecuali peralatan rumah, biarkan disana kalau kamu mau, kamu bisa menyewanya nanti pada orang lain," kata Mas Rahman.
Aku hanya mengangguk, lalu kami makan bersama-sama karena hari sudah siang. Mbak Siti kembali bekerja disini atas permintaan ibu begitu juga Dion adik sepupu ku yang baru datang untuk melanjutkan kuliah di Jakarta.
Aku tidak keberadaan, semua keputusan ada di tangan mas Rahman. Aku hanya ikut bagaimana baiknya.
Selesai makan, kami duduk di ruang keluarga. Rania sedang bermain dengan mbak Siti di dalam kamar.
"Tugas ibu sudah selesai, ibu mau pergi sekarang?" kata ibu.
Kami berdua terperangah mendengar ucapan ibu, aku tidak ingin ibu pergi dari sini.
"Mau pergi kemana, Bu. ibu tinggal disini saja, tinggal bersama kami," kataku.
Mas Rahman hanya diam, ia tidak melarang ibunya pergi. Apa mas Rahman tidak sayang pada ibunya jika pergi ibu mau tinggal dimana.
"Ibu mau cari Silvi, dia pergi dan tidak pernah menghubungi ibu," kata ibu menangis.
Baru kali ini, aku melihat ibu menangis mungkin rindu dengan Silvi yang tidak pernah menghubunginya.
__ADS_1
"Kita akan cari Silvi sama-sama, Bu. Jadi ibu tinggal disini biar kami bisa menjaga ibu dan kita juga bisa mencari Silvi bersama-sama," kata ku memeluk ibu.
"Mbak, di luar ada...!"