
"Kerja sana kerja sama apa Mas?" tanyaku.
Bukan menyela pembicaraan mereka tapi aku hanya takut ada rahasia lagi yang tidak aku tahu yang di sembunyikan Mas Rahman, selama ini sudah banyak rahasia yang ia sembunyikan sendiri, jadi aku tidak ingin ada kebohongan lagi meski sekecil apapun itu.
"Ratih, kemari lah?" Kata mas Rahman memanggil aku. Aku berjalan menuju samping mas Rahman.
"Pak Fandi, kenalkan ini istri saya namanya Ratih," kata mas Rahman memperkenalkan aku pada rekan bisnisnya, kami pun berkenalan.
"Nanti Istri saya yang akan bekerja sama dengan pak Fandi, bapak tidak perlu khawatir karena saya yakin istri saya mampu membuat bisnis berkembang," kata Mas Rahman memuji di depan rekan bisnisnya.
Apa, aku akan bekerja sama dengan pak Fandi tapi di bidang apa. Aku kan bekerja di kantor, apa dia ingin membuat aku kembali duduk di rumah.
"Begini loe sayang, pak Fandi ini akan menanam modal di resto kita sebagai modal awal dan resto itu nanti kamu yang akan menanganinya," kata mas Rahman.
Apa, Restoran! Sejak kapan mas Rahman mempunyai restoran. Kenapa aku tidak tahu tentang mas Rahman selama ini.
"Sejak kapan kamu punya resto, Mas?" Tanyaku.
__ADS_1
"Nanti mas jelaskan pada kamu, jadi bagaimana pak Fandi. Apa bapak bersedia, nanti setiap bulan bapak mendapatkan 30% dari hasil restoran," kata Mas Rahman pada pak Fandi.
"Saya setuju dengan bapak katakan, kalau begitu saya pamit dulu," kata pak Fandi lalu keluar dari kamar. Aku menatap mas Rahman cemberut, aku butuh penjelasan yang sangat detail.
"Aku mau penjelasan kamu, Mas!" ujarku dengan wajah cemberut. Aku duduk membelakanginya sedang bersandar di atas ranjang rumah sakit.
"Kok istri mas cemberut begitu, kenapa?"
Mas Rahman mencolek pinggangku, menggoda diriku tapi aku tidak mau luluh untuk berbicara dengannya.
"Restoran itu mas bangun saat mas belum menikah dengan kamu, selama ini di kelola oleh sahabat mas dan kini mas akan mengajak kamu untuk mengelolanya bersama-sama,"
"Lalu apa hubungannya sama pak Fandi?"
"Mas hanya mengajak pak Fandi untuk menanam modal di resto kita karena dua bulan yang lalu resto milik kita uangnya di bawa lari oleh sahabat mas sendiri. Jadi, mas tidak punya uang jika harus bangkit sendiri, dengan adanya bantuan pak Fandi kita bisa bangkit lagi bersama-sama."
Aku hanya diam, menghembuskan nafas dengan teratur. Aku lega atas penjelasannya mas Rahman, apa setelah ini aku cuti saja dan menjalani restoran bersma mas Rahman dengan begitu aku bisa menjaganya.
__ADS_1
"Sayang, Mas mau pulang! Mas sudah tidak betah lagi dirumah sakit,"
"Tapi mas kamu belum sembuh,"
"Please, mas mau istirahat dirumah saja,"
Aku tidak tega jika mas Rahman terlalu lama di rumah sakit. Aku pun harus bekerja kembali ke kantor, sudah dua hari aku tidak masuk kantor.
"Mas, semu sudah siapkan?" tanya ku.
Hari ini mas Rahman sudah di bolehkan pulang atas izin dokter, tapi setiap seminggu sekali harus kemoterapi untuk menghambat sel-sel kanker. Aku sudah siap menenteng tas sedangkan mas Rahman duduk di kursi roda.
Taxi sudah menunggu di depan rumah sakit, kami langsung masuk dan pulang kerumah. Di tengah perjalanan, mobil membelok arah ke arah perumahan mewah. Aku mengernyitkan kening, untuk apa mas Rahman kesini.
"Mas, rumah kita sudah ketinggalan ke belakang loe," tanya ku melihat rumah yang memiliki lantai dua.
"Katanya mau pulang kerumah, kok masih nanya," kata mas Rahman.
__ADS_1
Aku hanya diam, kesal dengan sikap mas Rahman. Rumah elit terlihat begitu mewah, apa mas Rahman membeli rumah kemarin disini?