Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
ketika istriku tak lagi meminta uang 22


__ADS_3

Malam ini aku tidak masak, aku memilih untuk memesan makan saja karena hari ini begitu melelahkan. Satu jam menunggu, akhirnya pesanan ku datang juga.


"Ratih, kamu pesan makanan?" tanya mas Rahman melihat aku menenteng makanan di tanganku.


"Ayo, Mas. Kita makan dulu, kamu ajak makan ibu juga," kata ku berjalan ke dapur lalu mengambil piring menata makanan yang aku beli tadi, ada rendang dan ayam panggang sebagai rasa syukur aku karena mas Rahman sudah menjadi orang yang lebih baik lagi.


"Kok mas Rahman lama banget, sebaiknya ku panggil saja mas Rahman dan ibu,"


Aku berjalan ke kamar ibu dengan pintu sedikit terbuka, langkah ku terhenti kala mendengar perkataan ibu mertuaku.


"Sampai kapan kamu akan merahasiakan semuanya pada Ratih, dia berhak tahu semuanya," ku dengar ibu berbicara dengan lirih.


Mas Rahman hanya diam, menghela nafasnya dengan kasar. Apa yang di rahasiakan mas Rahman dariku, ibu pasti tahu sesuatu.


"Mas, Bu, ayo kita makan," kata ku membuka pintu, mereka hanya diam menatap bersama ke arahku. Sebenarnya apa yang di rahasiakannya.


"Kok menatap aku begitu, apa kamu mengrahasiakan sesuatu Mas," tanya ku ingin melihat kejujuran mas Rahman.


"Tidak apa-apa, ayo kita makan bersama,"


Mas Rahman menggandeng tanganku dengan erat, aku hanya diam memikirkan pembicaraan ibu dan mas Rahman tadi.


"Ratih, kamu kenapa?" tanya mas Rahman.


"Tidak apa-apa, Mas," kata ku.


Selera makan aku hilang setelah mendengar percakapan tadi, aku tidak menyangka kalau mereka masih mengrahasiakan sesuatu padaku.


"Aku ke kamar dulu, Mas,"


Aku pergi meninggalkan mereka berdua di meja makan berlalu ke kamar, putri sudah tertidur. Aku mengecup pucuk kepala putriku lalu menyelimutinya agar tidak kedinginan.


"Sayang, kamu kenapa? Mas lihat kamu seperti sedang memikirkan sesuatu," mas Rahman memeluk ku dari belakang, nafasnya terasa hangat menerpa telingaku.


Aku membalikkan badan, lalu menatap ke arahnya.


"Apa yang mas Rahasiakan dari ku, katakanlah," tanya ku.


"Maksud kamu apa, sayang?" tanya mas Rahman.

__ADS_1


"Aku tidak saja mendengar pembicaraan kamu dan ibu tadi di kamar," kata ku menunduk.


Mas Rahman hanya diam, sesekali ia menghela nafas untuk menghilang rasa sesak di dadanya.


Cup...


Mas Rahman mencium keningku, ia menatap wajahku dan napasnya semakin menderu, aku tahu ia sedang menahan sesuatu sebagai lelaki normal tentunya.


"Boleh mas meminta hak untuk terakhir kalinya?" tanya mas Rahman.


Hening, aku hanya diam lalu mengangguk untuk memberikan hak yang seharusnya aku berikan selama ini untuknya. Kami larut dalam gejolak asrama, peluh keringat membasahi tubuh kami berduam membuat mas Rahman kelelahan.


Setelah memberikan hak untuknya, mas Rahman tertidur pulas dan aku pun ikut tertidur mengarung mimpi indah.


🍁🍁🍁


Azan subuh berkumandang, aku berjalan ke kamar mandi untuk mandi junub akibat pertempuran semalam. Setelah sekian lama baru kali ini mas Rahman membuat aku bahagia, dia benar-benar memperlakukan aku dengan baik.


"Mas, bangun sudah subuh loe," kata ku menggoyang tubuh mas Rahman yang masih berbalut dengan selimut tebal. Sementara aku sudah mengganti pakaian dan keluar kamar untuk memasak nasi goreng pagi ini.


"Lhoe, ibu kok masak biar Ratih saja," kataku.


Heran, kok mereka jadi berubah begini kecuali Silvi adiknya mas Rahman. Kemarin mas Rahman yang berubah menjadi baik dan kini ibu pun menjadi berubah .


Apa sebenarnya yang terjadi pada mas Rahman, sebaiknya aku tanyakan saja pada Siti pasti dia tahu sesuatu.


"Makanlah, kalian kan harus berangkat kerja biar Rania ibu yang jagain," Aku yang sedang mengambil nasi menghentikan aktivitas ku, aku menatap ke arah ibu yang sudah duduk di depan ku.


"Kamu tidak perlu khawatir, Rania akan ibu jaga dengan baik," kata Ibu mengelus tanganku.


Aku sedikit ragu meninggalkan Rania setelah kejadian tempo hari yang menyebabkan Rania di culik oleh Riko, untung saja Rania bisa di temukan kalau tidak aku tidak tahu bagaimana nasib Rania.


"Baiklah," kata ku menyuapi nasi goreng ke dalam mulutku, aku terus mengunyah nasi goreng buatan ibu yang sangat lezat.


Sebelum pergi ke kantor, aku akan menemui Siti dulu ke rumahnya dan mencari tahu tentang rahasia ibu dan mas Rahman.


"Aku pergi ke kantor sendirian saja, Mas?"


"Kenapa, kok gak berangkat bareng," tanya mas Rahman.

__ADS_1


"Aku ada keperluan sebentar, Mas," kata ku menyalami tangan mas Rahman lalu berangkat dengan taxi yang sudah ku pesan tiga puluh menit yang lalu.


Satu jam perjalanan, aku sampai di depan rumah Siti. Rumahnya terlihat sepi seperti tidak ada orang, Apa Siti sudah pergi dari rumahnya. Aku mencoba untuk mengetuk pintu rumah tapi tidak ada sahutan.


Sepertinya Siti memang tidak ada lagi disini? sebaiknya aku pergi saja. Aku melangkah kaki ini keluar dari pekarangan rumahnya.


"Ceklek...


Aku mendengar suara pintu terbuka, aku berbalik badan berharap kalau yang membuka pintu adalah Siti.


"Siti...!"


Aku kembali berjalan ke depan walaupun sudah sedikit jauh, mungkin dia tidak menyangka jika aku bisa datang ke rumahnya setelah kejadian tempo hari di saat ia menjalin hubungan dengan mas Rahman.


"Boleh kita bicara sebentar?" tanya ku langsung karena aku tidak punya waktu untuk bertele-tele.


"Boleh, masuk dulu Mbak," kata Siti mempersilahkan aku masuk dan duduk di ruang tamunya yang hanya di alasi karpet.


"Maaf, mbak mau bicara soal apa soalnya aku mau berangkat kerja," kata Siti.


Ku tatap wajah Siti, tidak ada raut ketakutan di wajahnya dan ku lihat ia memakai baju yang sudah rapi, mungkin ia mau pergi bekerja.


"Apa kamu tahu sesuatu rahasia tentang Mas Rahman dan ibu mertuaku,"


"Maksud Mbak, aku tidak mengerti?" kata Siti lagi.


Aduh, bagaiman cara menjelaskannya pada Siti. kalau aku cerita kalau aku menguping pembicaraan ibu dan mas Rahman pada Siti takutnya ia akan mengadu. Bagaimana caranya menanyakan pada Siti.


"Apa ibu mertua ku pernah menceritakan sesuatu pada kamu atau mas Rahman begitu, mungkin saja kamu tahu bukannya mas Rahman pernah dekat dengan kamu," kataku menatap arah Siti, ia hanya diam tak ada sepatah kata apapun yang keluar dari mulut. Aku menjadi kesal dengan sikapnya yang acuh, pasti dia tahu sesuatu tentang mas Rahman.


"Maaf Mbak, aku tidak tahu apa-apa lagian aku tidak hubungan dengan pak Rahman. Kami hanya berteman, kalau tidak ada keperluan lain saya mau berangkat bekerja," kata Siti bangun dari tempat duduknya.


Aku pun bangun dengan langkah gontai, hati miris karena tidak bisa menemukan petunjuk apapun tentang rahasia mas Rahman. Apa yang sebenarnya rahasia yang di simpan rapat-rapat olehnya bahkan aku sendiri tidak boleh tahu.


Jika suatu saat kita berpisah, setidaknya saat ini aku masih istrinya selama 40 hari seperti permintaannya tempo hari. Lalu, kenapa dia tidak mengatakan apapun padaku.


Aku berjalan keluar dari rumahnya, jam terus berdetak tanpa henti begitu juga kehidupan yang akan ke depannya, terus berjalan.


Mampir juga di cerita ke dua ku dengan judul Ta'aruf, ketika cinta harus memilih

__ADS_1


__ADS_2