Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Rindu teman masa kecil


__ADS_3

"Kak mau kemana kok, udah rapih aja?" tanya Aira merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur milik kakaknya


Rania yang sedang memberikan pewarna bibir berhenti lalu menoleh sekilas ke arah adiknya.


Memangnya, kenapa?"


"Aku mau ikut! aku bosan loe kak di rumah terus," ujar Aira dengan wajah cemberut.


Rania menghembuskan nafas dengan kasar lalu berbalik arah Aira yang masih santai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Boleh kamu ikut kakak tapi jangan malu-maluin," ujar Rania pasalnya ia mau ketemuan sama niko lelaki yang baru saja ia kenal beberapa bulan yang lalu.


Memangnya kakak mau ketemu sama siapa mau ketemu sama kak Dilon ya?" lagi-lagi Aira menganggap jika kakaknya bertemu dengan Dilon padahal Dilon sudah berangkat ke Singapura satu tahun yang lalu untuk meneruskan pendidikan S2 di sana.


" Dilon sudah pergi ke singapura 2 tahun yang lalu untuk meneruskan pendidikan, Lagian kakak heran sama kamu kok dari tadi terus menanyakan Dilon, apa kau mencintainya?


Beraninya menatap adiknya.


"Kakak enggak salah bicara kalau aku suka sama kak dilon, yang ada kak Dilon mencintai kakak," ujar Aira spontan membuat Rania terdiam.


Aira pernah melihat dilon menyimpan foto Rania di dalam dompetnya, saat itu Aira tidak sengaja membuka isi dompet Dilon saat mereka bertemu satu tahun yang lalu.


Ya, Dilon meneruskan pendidikannya di Amerika bukan di Singapura, semua itu dilakukan hanya untuk menghilangkan perasaannya untuk Rania dan Aira pun tahu akan hal itu dan berjanji tidak mengatakan apapun ada kakaknya.


"Kalau dia mencintai kakak gak mungkin dia pergi meninggalkan kakak sendiri,"

__ADS_1


Rania masih ingat betapa sedihnya dia ketika ditinggalkan oleh Dilon dan saat ini pun ia merasa kehilangan juga masih merindukannya.


"Bagaimana jika suatu saat dia kembali! apa kakak akan menerima cinta kak Dilon?"


Aira pun terus mendesak untuk menyatukan perasaan keduanya, Dia yakin kakaknya juga mencintai Dilon.


"Sudah, sebaiknya kamu siap-siap atau tidak ikut sama sekali," ujar Rania menyuruh Aira untuk siap-siap hanya untuk mengalihkan pembicaraan.


Aira pun keluar dari kamar Rania dan berjalan menuju ke kamarnya, setelah Aira menghilang di balik pintu. Rania membuka laci lalu mengambil foto Dilon bersamanya di saat mereka masih mengejar pendidikan.


"Kamu dimana, kenapa tidak pernah menghubungi selama disana? Apa yang tejadi sama kamu?" Ujar Rania berbicara sendiri.


"Kakak, ayo berangkat?" Aira langsung menerobos masuk tanpa mengetuk pintu membuat Rania cepat-cepat memasukkan foto tadi ke tempat semula dan menghapus jejak air matanya.


Mereka berangkat ke Cafe, janjian sama Niko lelaki yang beberapa bulan ini menjadi temannya. Setelah kepergian Dilon, Rania merasa kesepian dan hari-harinya hanya di temani dengan setumpuk pekerjaan setiap harinya.


"Kakak, kok dari tadi diam saja! kenapa?" tanya Aira duduk di sebelah Rania.


"Ah, gak kok! kamu mau ngomong apa?" tanya Rania kembali fokus agar tidak lagi melamun yang akan membuat mereka kecelakaan.


"Kapan kita sampainya, aku sudah lapar ingin merasakan makanan Indonesia," ujar Aira mencoba untuk membuat kakaknya tersenyum.


"Sebentar lagi kita juga sampai, kok!" ujar Rania menoleh ke arah adiknya setelah itu kembali fokus menyetir mobil.


"Baiklah!" ujar Aira.

__ADS_1


Drrrrt......


Ponsel Aira bergetar, ia sedang duduk mengambil ponsel yang ada di dalam tas miliknya. Ia mengerutkan kening saat membaca pesan dari seseorang.


[ Kenapa kamu tidak bilang jika sudah ke Indonesia, apa kau ingin menghindar dari ku ] seseorang mengirim pesan pada Aira, lelaki yang selama ini mengagumi Aira selama dua tahun di Amrik.


'Ish, kenapa dia tahu kalau aku pulang dari Indon. Siapa yang memberitahu dirinya, batin Aira.


Dia terus menatap ponsel yang kini ada panggilan seseorang.


"Kak Dilon telfon, kenapa ia telfon di saat waktu yang tidak tepat?" lagi-lagi Aira tidak tahu harus mengangkat atau tidak, pasalnya ia kini berada di samping kakaknya.


"Hallo, ada apa?" tanya Aira berbicara dengan seseorang.


"Sama siapa disitu?" tanya Seseorang laki-laki di seberang sana.


"Aku lagi sama kakakku, sudah dulu ya?" ujar Aira mematikan ponsel tapi tidak bagi Rania. Dia mendengar suara yang sangat di kenali sama ini bahkan ia rindukan.


"Siapa telfon, Ra?" tanya Rania.


"Teman aku, Kak! kenapa?" Aira balik bertanya.


"Gak, Kok kakak dengar seperti suara Dilon," kata Rania.


"Suara kak Dilon, mana mungkin! mungkin kakak itu merindukannya sehingga mengira kalau teman aku sama seperti kak Dilon,"

__ADS_1


Kata Aira gugup, pasalnya ia takut jika kakaknya tahu kalau yang berbicara dengan dirinya adalah Dilon.


'Rindu, mana mungkin,'


__ADS_2