Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 106


__ADS_3

"Apa, Mas Rahman kecelakaan?"


Aku kaget mendengarnya, air mataku jatuh perlahan. Rasanya tubuh ini luruh jika tidak berada di dalam mobil.


"Anggara, tolong putar balik Mas Rahman kecelakaan," kata ku menyuruhnya kembali ke belakang, polisi masih berada di tempat kejadian. Aku tidak menanyakan tentang mas Rahman bagaimana, aku langsung panik mendengarnya.


Tak lama kemudian, mobil berhenti tidak jauh dari tempat kejadian. Aku berlari sekuat mungkin walaupun prasangka yang tidak-tidak muncul kepala ini.


Terlihat mobil mas Rahman menabrak pohon di tepi jurang, jalan yang sedikit berbelok jika kita tidak hati-hati bisa saja mobil terbang ke jurang yang sangat dalam.


"Bagaimana keadaan suami saya, dimana dia, pak?" tanyaku tidak melihat tubuh mas Rahman di sana, tidak ada mobil ambulance hanya ada mobil polisi.


"Kami tidak menemukan pak Rahman saat kecelakaan, sepertinya beliau terhempas ke dalam jurang karena pintu samping mengemudi terbuka," kata polisi semakin membuat aku syok, tubuh ku luruh ke tanah.

__ADS_1


Aku tidak menyangka jika Mas Rahman akan mengalami kecelakaan, kami baru saja mengadakan acara pertunangan Silvi tapi kini mas Rahman mengalami kecelakaan.


"Mbak yang kuat, kita akan cari Mas Rahman. Kita doakan mas Rahman bisa secepatnya di temukan," Silvi mengusap bahuku, tubuhku tidak kuat lagi untuk berdiri.


"Tolong carikan suamiku sampai ketemu, Dok" kata ku memohon pada polisi untuk tetap mencari suamiku sekalipun hanya jasadnya saja. Terlihat di depan mobil hancur tak bersisa, aku hanya menangis meratapi nasib yang malang ini.


Tak jauh dari tempat kejadian, seseorang perempuan tersenyum melihat kejadian tersebut. Dia merasa puas akhirnya rencananya tapi di tempat lain, Tania Shock setelah mendengar Rahman kecelakaan.


"Kenapa kalian ceroboh, jika polisi tahu kalian lah pelakunya bagaimana?" kata Tania panik.


"Sial, kalau mereka tahu kalau aku pelakunya bisa gawat, ini bayaran buat kalian dan pergi dari sini," kata Tania memberikan segepok uang pada dua preman tersebut.


Lagi-lagi Tania salah orang, kini dia harus hati-hati agar mereka tidak tahu kalau kecelakaan Rahman ada campur tangannya. ia berjalan memasuki mobilnya lalu pulang ke rumah.

__ADS_1


Di tempat kejadian, Bu Sekar tersenyum melihat mobil Rahman jatuh ke jurang. Sebenarnya siapa yang melakukan semua ini, Bu Sekar atau Tania.


"Ya sudah, sebaiknya ibu bawa pulang dulu dan untuk mobil ini akan kami proses agar kami tahu apa penyebab kecelakaan suami ibu," kata polisi tersebut, aku hanya mengangguk.


Suasana malam seperti ini, aku tidak bisa melihat bagaimana hancurnya mobil yang baru saja di beli mas Rahman satu bulan yang lalu.


Kami kembali ke mobil dengan pikiran masing-masing, ibu hanya diam mungkin sama sepertiku hancur.


"Besok kita akan kembali ke TKP dan ikut melakukan pencarian Rahman, kemungkinan dia jatuh ke jurang." kata Anggara.


"Kamu benar, aku yakin mas Rahman terjun ke jurang karena pintu di samping kemudi terbuka dan kita tidak tahu apa penyebabnya," kata ku lagi, aku menghapus air mata ini.


Aku tidak boleh menangis, jika jasad mas Rahman masih belum di temukan kemungkinan mas Rahman masih hidup walaupun sangat nihil karena jatuh ke jurang.

__ADS_1


Aku melihat ke luar jendela, tak sengaja aku melihat By Sekar tidak jauh dari tempat kejadian mas Rahman kecelakaan. Bersembunyi di balik pohon besar.


Apa semua ini perbuatan Bu Sekar!!


__ADS_2