Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
ketika istriku tak lagi meminta uang 122


__ADS_3

"Tidak mungkin Mas melupakan kalian, kalian orang yang telah berjasa dalam hidup Mas." kata Afnan pada Amelia, mengingat kebaikan keluar pak Brata pada dirinya.


Amelia hanya tersenyum, ia menatap ke depan tanpa menoleh ke arah Afnan lagi. Mereka pulang ke rumah, malam ini cukup membuat Afnan senang bisa menggenggam tangan istrinya mesti harus menjadi orang lain.


"Mas, perempuan tadi benar pacar Mas?" lagi-lagi Amelia menanyakan hal itu, hatinya belum tenang jika Afnan belum mengatakannya sendiri.


"Bukan, dia istri Mas!" kata Afnan membuat bola mata Amelia hampir saja keluar dari tempatnya.


"Apa, istri?" tanya Amelia bingung pasalnya dia tidak tahu kalau Afnan mengingat semuanya, hanya pak Brata dan Bu Lidya yang tahu kalau dia tidak hilang ingatan.


"Iya, Mas tidak hilang ingatan! Mas masih ingat sama mereka tapi mas tidak bisa dalam kondisi seperti ini," kata Afnan.


"Memangnya kenapa, Mas?" tanya Amelia lagi.


"Pasti Ratih sulit untuk percaya karena mas sudah berubah wajah, otomatis akan membuat ia tidak percaya. Apalagi mas sudah 3 bulan menghilang dan kini kembali dengan wajah yang baru," kata Afnan sedih.


Amelia bisa merasakan jika Afnan sangat merindukan istri dan anaknya, Amelia menghembuskan nafas dengan teratur. Dia menatap jalanan yang mulai sepi.


Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah lalu turun setelah memarkir mobil. Terlihat jam sudah menuju pukul 09 malam, Afnan dan Amelia masuk ke dalam rumah berharap jika Bu Lidya sudah tidur.


Amelia berjalan ke kamarnya menaiki tangga satu persatu, kamarnya ada di samping kamar Afnan. Jadi, ia lebih mudah datang ke kamar kakaknya.


**** ***


Jam 10 malam, Ratih baru sampai di rumahnya bersama Silvi yang di anterin sama Fadli. Wajah lelah tersirat di wajah Ratih, apalagi dia teringat dengan Afnan yang tadi menggenggam tangannya.


Kejadian tadi terus terbayang di pelupuk matanya, membuat ia tak sadar jika sudah berada di depan gerbang rumahnya.


"Mbak, ayo turun! kok melamun?" Silvi menggoyangkan tubuh Ratih membuat Ratih sadar dari lamunannya.


"Eh, Maaf-maaf! mbak tadi sedang melamun, sudah sampai ya, makasih sudah nganterin kami dan mbak duluan ke dalam dulu," kata Ratih masuk ke dalam rumah yang tidak di kunci.


Silvi dan Fadli mengangguk bersama, ia masih berdiri di depan rumah.


"Sudah malam, kamu masuk sana! besok pagi mas jemput," kata Fadli tersenyum.

__ADS_1


"Tidak usah, Mas. Aku bisa kok pergi sendiri," kata Silvi tidak enak hati karena setiap hari di anterin sama Fadli padahal mereka berlawanan arah saat berangkat kerja.


"Tidak sayang, Mas tidak mau ada penolakan dari kamu dan ingat besok mas jemput pagi-pagi," kata Fadli mengelus pipi Silvi.


Silvi hanya tersenyum lalu mengangguk masuk ke rumah lalu menguncinya sedangkan Fadli masih sudah berada di dalam mobil dan hendak pulang ke rumahnya.


Tak lama kemudian, Fadli sampai di apartemen miliknya. Sudah beberapa kali keluarga memintanya untuk tinggal dirumah tapi tidak mau, dia lebih betah tinggal di apartemen dari pada di rumah.


*** ***


Silvi menutup pintu kamarnya, ia berjalan ke tempat tidur lalu merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur, hari-harinya begitu bahagia. Tidak ada lagi orang yang akan merusak hubungan mereka.


Semenjak Tania di penjara, tidak seorang pun yang menjenguknya karena orang tuanya ada di luar negri. Hukuman 4 tahun penjara tidak membuat Tania jera, ia semakin dendam karena sudah membuatnya di tangkap oleh polisi.


*** ***


Azan subuh berkumandang, aku bangun lalu beranjak ke kamar mandi. Hari ini aku harus cepat kekantor seperti permintaan Anggara, aku mencuci muka lalu mengambil wudhu untu shalat subuh.


Selama ini aku sering lupa menjalankan kewajiban ku sebagai umat muslim, dulu Mas Rahman sering mengingatkan aku tapi sekarang. Ah, kenapa aku harus mengingatnya lagi.


Selesai shalat, aku turun ke bawah untuk memasak. Pagi ini aku akan menggoreng ikan dan tumis kangkung.


Jam sudah menuju pukul 07 pagi, aku kembali ke kamar untuk mandi karena aku harus ke kantor lebih awal. Setelah semua selesai, aku menuruni tangga dan ikut makan bersama-sama seperti biasanya.


Aku berjalan ke luar menaiki mobil tapi saat di starter mobilku tidak bisa menyala. Entah kenapa mobilnya mogok di saat waktu yang tidak tepat, aku terpaksa harus menaiki taxi.


Jam terus berjalan, taxi yang aku pesan juga belum datang. Aku berdiri di depan gerbang berharap kalau taxi akan datang sebentar.


Tiba-tiba, mobil BMW berdiri tepat berdiri di depanku. Seseorang menurunkan kaca mobil sehingga aku bisa melihatnya, ternyata lelaki nyebelin itu lagi. Siapa lagi kalau bukan Afnan.


"Masuklah," kata Afnan datar.


"Tidak usah, aku sedang menunggu taxi," kata ku menolaknya. Entah Kenapa, ia suka kali mengganggu ku semenjak aku menabraknya di cafe tersebut.


"Jika kau menunggu taxi, kau akan terlambat! Lagian kita akan satu kantor bukan," kata Afnan tersenyum.

__ADS_1


Hah, satu kantor! apa dia juga akan bekerja di perusahaan Anggara. Aku melihat jam di tanganku sudah menuju pukul 7:30, jika menunggu taxi pasti aku terlambat sementara Anggara menyuruh aku untuk cepat datang ke kantor.


"Baiklah, aku akan ikut kamu tapi ingat, jangan macam-macam," kata ku, ia hanya mengangguk lalu menyuruh aku masuk ke dalam mobilnya. Hari ini dia tanpa asistennya itu, aku duduk di sebelah.


Bau parfum tercium di hidungku, parfum yang dia pakai sama persis kesukaan mas Rahman. Aku sangat kenal dengan parfum ini, apa hanya kebetulan saja.


Ah, kenapa dia mengingatkan aku tentang Mas Rahman.


"Apa kau sedang memikirkan sesuatu?" kata Afnan membuat aku menoleh ke arahnya.


"Tidak," hanya itu yang bisa ku katakan.


Sepanjang perjalanan, aku hanya diam begitu juga dengan Afnan. Tidak ada pembicaraan di antara kami berdua, hanya ada suara musik yang mengalunkan yang terdengar di telingaku.


"Turunlah, kita sudah sampai?" kata Afnan.


Sejak kapan kami sampai ke kantor, perasaan tadi masih di jalan. Apa karena aku terlalu memikirkan Mas Rahman sehingga aku tidak sadar jika kami telah sampai ke kantor.


Aku turun dari mobil, lalu masuk ke dalam meninggalkannya di parkiran. Aku harus segera ke ruangan Anggara untuk menemui dirinya.


Sampai di ruangan Anggara, aku langsung masuk setelah mendengar suara Anggara menyuruh masuk.


"Ratih, kebetulan sekali kamu sudah datang! Ayo duduk dulu," kata Angga menyuruh aku duduk di sofa, aku mengangguk lalu duduk di sofa yang di ruangannya.


"Apa yang ingin bapak bicarakan," tanya ku secara formal karena ini adalah kantor jadi aku harus memanggilnya dengan sebutan bapak.


"Mulai hari ini kamu bukan lagi menjadi sekretaris ku," kata Anggara bersama di tepi meja kerjanya, aku menatapnya tidak percaya. kenapa dia memecat aku jadi sekretarisnya.


Apa kesalahan yang aku perbuat sehingga dia memecat ku.


"Tapi Kenapa! apa aku membuat kesalahan?" lagi-lagi aku bertanya padanya.


"Tidak, kamu akan menjadi sekretaris dia," Anggara menunjuk ke arah pintu dan aku pun ikut menoleh ke arah pintu.


"Apa, Dia!"

__ADS_1


__ADS_2