Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 83


__ADS_3

Ceklek...


"Rahman, kamu kemari..."


"Apa aku boleh masuk, Bu?" Kata mas Rahman memotong ucapan ibu, aku yang ikut karena di ajak oleh mas Rahman merasa senang karena bisa merayakan ulang tahun putriku walaupun tidak menjadi seperti diriku.


"Boleh, duduk lah?" Kata Ibu mempersilahkan mas Rahman duduk.


"Mimpi apa mas datang kesini? Setelah sekian lama dan semua terjadi mas datang kesini," kata Silvi dengan menatap marah padaas Rahman.


"Jangan kurang hajar kamu, aku ini kakak mu?" Kata mas Rahman tersulut emosi.


"Kakak macam apa yang tega meninggalkan istri dan anaknya begitu saja, bahkan anaknya di culik saja tidak tahu?" Kata Silvi dengan gigi beradu membuat semua menjadi tegang.


"Di culik, maksudnya apa? Sungguh aku tidak tahu," kata mas Rahman.


Bagaimana kau tahu, kamu pergi meninggalkan kami di kota Bandung. Aku menatap ke arah Silvi memintanya untuk terus mengatakan semuanya dan bersandiwara.


Ya, sebelum mas Rahman mengajak ku. Aku sudah duluan menghubungi Silvi untuk bersandiwara jika mas Rahman datang untuk memberi hadiah untuk putriku.


Sekalipun dia suamiku tapi setidaknya boleh sekali-kali untuk memberikan dia pelajaran.


"Bagaimana kamu tahu, jika kamu tega meninggalkan mbak Ratih dan Rania di kota Bandung, bahkan mas tidak pernah menghubungi kami dan sekarang mas Rahman datang ke rumah dengan rasa tidak bersalah, dimana hati nurani mu Mas?" teriak Silvi.


Aku terkejut melihat Silvi semarah itu, selama ini dia banyak diam tapi hari ini dia berani berteriak di depan kakaknya sendiri. Padahal sandiwara yang kami usulkan bukan seperti ini.

__ADS_1


Mas Rahman bungkam dengan kata-kata Ratih, Silvi benar mas Rahman tidak pernah menghubungi kami walau hanya sekedar untuk menanyakan kabar Rania.


"Mas bisa jelaskan semua ini? Kenapa mas pergi hari itu!" Kata mas Rahman duduk di depan Silvi, aku hanya diam menjadi seorang Rara. Apa yang ingin aku katakan, kini sudah di katakan langsung oleh Silvi.


"Penjelasan apa lagi, mau menjelaskan kalau mas pergi karena melihat foto mbak Ratih seranjang dengan pak Anggara, Begitu," Lagi-lagi Silvi tidak memberikan mas Rahman untuk banyak berbicara.


Ibu melirik ke arahku seakan memberikan isyarat untuk diam tapi dimana putriku Rania, aku sangat merindukannya.


"Bagaimana kau tahu, Silvi!" Mas Rahman bingung menatap ke arah Silvi.


"Tentu aku tahu, aku tahu karena aku ada di samping mbak Ratih bukan seperti Mas dengan tega meninggalkan anak dan istri,"


Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya jatuh juga, mas Rahman mengusap wajah dengan keduanya lalu aku melirik ke arah Silvi untuk menghentikan drama ini. Biarkan dia berpikir sendiri atas kesalahannya.


"Sudah, cukup Silvi. Biarkan Mas mu untuk memikirkannya sendiri atas kesalahan-kesalahan yang dia perbuat," kata ibu mencoba menghentikan suasana yang sudah kacau.


"Ibu bikin teh dulu di dapur!" Kata ibu berjalan ke dapur. Aku duduk tidak jauh dari Silvi.


"Rania, kesini sama papa sayang?" Panggil mas Rahman melihat Rania sedang bermain di depan tv.


"Mama....!"


Rania putriku berlari ke arahku dan memanggil mama, apa dia mengenali wajah ku. Jangan sampai mas Rahman curiga kalau aku adalah Ratih.


"Mama, ini bukan mamamu sayang. Tante ini namanya Rara!" Kata mas Rahman mencoba mengambil Rania yang sudah berada di pangkuan ku.

__ADS_1


Mas Rahman mencoba mengambil Rania dariku tapi Rania tidak mau, ia terus berpegang erat pada tubuhku.


"Sayang, ayo sama papa? Papa ada boneka lho?" Kata mas Rahman merayu Rania.


"Boneta, benal!" Ujar Rania dengan bahasa cadelnya.


Ya, umur dua tahun Rania sudah bisa berbicara walaupun masih cadel tapi membuat aku gemes setiap kali dia berbicara.


"Benar, ayo sini sama papa! Ini bonekanya," mas Rahman menunjukkan boneka yang berada di belakang punggungnya membuat Rania tertawa lalu turun berjalan ke arah Mas Rahman.


"Maaf, mbak siapa ya? Kok ikut bersama mas Rahman, apa jangan-jangan mas Rahman yang selingkuh ya," kata Silvi kembali bersandiwara untuk memojokkan mas Rahman.


"Gak, yang benar saja kamu! Dia namanya Rara, di bekerja di rumah yang mas tempati?" Kata mas Rahman bermain boneka dengan Rania.


"Apa, mas memperkejakan si culun ini di rumah mas sementara disini mbak Ratih terus mencari dimana keberadaan mas," kata Silvi.


Enak saja dia mengatakan aku culun, aku tidak culun dan akan aku beri pelajaran nanti. Aku mengerucutkan bibir melihat ke arah Silvi.


"Ratih mencari keberadaan, Mas?" Kata mas Rahman balik bertanya.


"Iya, kalau aku jadi mbak Ratih. Aku tidak akan mencari suami yang sudah tega meninggalkan anak dan istrinya, mas enak duduk di rumah dengan si culun ini?" Silvi menunjuk ke arahku, aku menunduk berpura-pura tidak mengetahuinya padahal semua ini sudah kami rencanakan sebelum aku ikut bersama mas Rahman.


Malam untuk malam ini cuma up sedikit karena lagi kurang sehat.


jangan lupa mampir di cerita baru ku

__ADS_1


Air Mata Pernikahan


__ADS_2