Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
ketika istriku tak lagi meminta uang 66


__ADS_3

Ting


Pesan masuk ke gawainya Stefani lalu membukanya.


[ Lakukan tugasmu secepatnya ]


Stefani kembali mematikan ponselnya karena tak ada niat sedikit pun untuk membalasnya.


"Ada apa, Stef?" Tanya Anggara di sela-sela makan.


"Ah, bukan apa-apa, Pak!" Kata Stefani memakan nasinya yang hampir dingin, Silvi hanya diam tanpa bicara sepatah kata apapun. Ia larut denganh pikiran, ia terus mengunyah makan di mulut.


"Silvi, kamu kenapa?" Lamunan Silvi buyar mendengar teguran dari Stefani membuat dia berhenti mengunyah makanan.


"Aku tidak apa-apa, aku ke kamar dulu," kata Silvi berjalan meninggalkan mereka yang sedang makan.


Stefani kembali melanjutkan makan begitu juga dengan Anggara, mereka larut dalam perasaan masing-masing. Anggara terus menatap ke arah Stefani yang ada di depannya.


"Pak, nasinya sudah habis loe!" kata Stefani.


Anggara tidak mendengar, ia asik dengan lamunannya.


"Pak Anggara," teriak stefani membuyarkan lamunannya.


Drrt...Drrt


Deru suara gawai Stefani berbunyi, ia melihatnya lalu meninggal Anggara dan pergi ke pinggir kolam berenang untuk mengangkat telepon seseorang.

__ADS_1


"Hallo, Ada apa?"


"^.....^"


"Aku tidak bisa, aku tidak mau melakukan itu semua dan aku tidak punya urusan lagi dengan kalian,"


"^......^"


"Berhentilah untuk mengancam ku!"


Tut....


Stefani matikan ponsel, lalu ia berjalan ke dalam menuju kamar. Tak jauh dari sana, Anggara berdiri melihat Stefani sedang berbicara dengan seseorang.


Anggara berjalan menaiki lantai atas, ia memilih tidur di kamar atas dan mereka di kamar bawah, di dalam kamar Stefani terus memikirkan Anggara.


"Pak Anggara terlalu baik untuk di sakiti, harus kah aku mengkhianati kepercayaannya selama ini," gumam Stefani.


Dia melihat Silvi sudah tidur, mereka harus tidur bertiga karena dia tidak ingin meninggalkan Rania seperti janjinya pada Ratih.


*** ****


Malam sudah berganti dengan fajar, Stefani masih bergelayut dengan selimut sedangkan Silvi sudah bangun. Dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"Stefani, bangun sudah pagi lhoe!" kata Silvi menggoyangkan tubuh Stefani. Semalam Stefani tidak bisa tidur.


"Sebentar lagi, aku semalaman tidak bisa tidur," kata Stefani.

__ADS_1


"Gak bisa tidur yang benar saja, atau kamu memang nyenyak tidur sehingga kamu menggigau namanya,"


"Apa, siapa?


"Namanya Angga... Angga...!" ujar Silvi masih memikirkannya nama kepanjangannya.


"Maksud kamu Anggara!" kata Stefani.


"Nah, itu nama yang selalu mbak sebut di dalam tidur mbak. Dia pacar mbak ya?" Goda Silvi menyenggol lengan Stefani.


"Kamu jangan ngaco deh, mana mungkin nama itu yang ku sebut dalam tidurku. Mungkin saja kamu salah dengar," kata ku mengelak.


Silvi hanya tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, ia berjalan keluar untuk menyeduh teh pagi ini.


"Mbak Ratih sudah pulang? mas Rahman disana sama siapa" tanya Silvi pada Ratih yang baru saja keluar dari rumah.


"Mas Rahman mbak tinggal sama suster sebentar nanti balik lagi ke sana," kata Ratih.


"Kalau begitu kita gantian saja yang jaga mas Rahman, mbak istirahat saja dulu biar aku yang ke sana sekarang," kata Silvi.


"Memangnya gak apa-apa kalau kamu yang jaga mas Rahman," tanya Ratih.


"Gak apa-apa, Mbak."


Silvi berjalan keluar untuk menaiki mobil, ia menaiki mobil yang sengaja kami sewa selama di bandung. Entah kenapa, perasaan aku tidak enak dari tadi, apa yang terjadi.


"

__ADS_1


__ADS_2