Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
bab 141


__ADS_3

Tit....tit....


Suara monitor terdengar nyaring,Riko melihat ke arah monitor dan dua garis sudah lurus. Pak polisi memanggil dokter untuk menangani Bu Sekar, Dokter mencoba mempompa jantungnya tapi sayang jantungnya semakin lemah hingga garis pertama itu lurus.


Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un....


Ucap dokter setelah bunyi nyaring terakhir kalinya, Riko menangis sembari menggoyang tubuh ibunya.


"Semua ini karena mereka, aku akan membalas kalian sampai kapan pun," gumam Riko dengan mata memerah, ia menangis melihat ibunya meninggal meskipun bukan ibu kandung tapi selama ini dia sudah merawatnya sejak kecil.


_________&&&&&&&&&&&______________


Kami turun dari mobil setelah dari rumah sakit untuk menjenguk Bu Sekar, keadaannya sangat menyedihkan. Seandainya dia tidak membantu Riko mungkin saat ini dia tidak akan berada di jeruji besi.


Drrrrt.....


Ponsel Mas Afnan terdengar nyata lalu mas Rahman mengambil gawai yang berada di dalam sakunya lalu melihat ternyata telepon dari polisi.


"Hallo! Ada apa, Pak?" tanya Mas Afnan setelah mengangkat gawainya.


__________

__ADS_1


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un! Kami turut berduka cita pak atas meninggalnya Bu Sekar," ujar Mas Afnan.


Apa, Bu Sekar meninggal? Secepat itukah, baru juga koma udah meninggal saja. Apa Riko ada disana, bukannya Bu Sekar hanya mengalami koma. Entah lah, tidak ada seorang pun yang tahu dimana dan kapan ajal kita menjemput kecuali sang pemilik dunia yang fana ini.


Mas Afnan mematikan ponsel setelah berbicara dengan polisi dan langsung saja ku cerca dengan segala pertanyaan.


"Benar kalau Bu Sekar sudah meninggal, Mas?" tanya ku kembali bertanya tentang Bu Sekar meski sudah ku tahu.


"Iya, polisi mengabarkan kalau Bu Sekar sudah meninggal. Ya sudah, ayo kita masuk lagian sepertinya mau hujan lagi," ujar Mas Afnan.


Aku hanya menganguk lalu masuk ke dalam rumah karena sebentar lagi turun hujan. Terlihat ibu baru saja keluar dari kamar mungkin baru bangun tidur.


"Loh, kok kalian cepat sekali pulang! Benar kalau Sekar itu sakit?" tanya ibu.


Hari ini memang tidak ke kantor karena hujan turun deras.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, semoga saja amal perbuatannya di terima sama Allah," kata ibu terkejut ketika mendengar jika Bu Sekar padahal baru saja dia di tangkap dan kini sudah meninggal dunia.


Di tempat lain, Silvi dan Ferdi sudah siap-siap untuk berangkat ke Paris untuk Honeymoon. Silvi cukup senang karena dia memang bermimpi bisa ke sana untuk melihat menara Eiffel yang ada di kota Paris.


"Memangnya pesawat take off jam berapa Mas?" tanya Silvi.

__ADS_1


"Dua jama lagi sayang?" ujar Ferdi melirik jam di tangannya.


"Ya sudah, ayo kita berangkat?" ujar Silvi.


Ferdi mengangguk, mereka turun ke bawah dengan menarik koper pakaian masing-masing.


🌷


🌷


Setelah mengebumikan jenazah Bu Sekar, Riko di bawa kembali ke dalam jeruji besi. Masa tahanannya tinggal beberapa bulan lagi,


ia duduk di atas lantai di dalam penjara. Dia merasa sedih karena harus kehilangan ibunya, satu-satunya orang yang bersamanya selama ini sedangkan ibu kandung masih berada di rumah sakit jiwa.


"Ikhlaskan kepergian ibumu, Rik," ujar pak Sanjaya menepuk pundak Riko.


"Tidak, Pa! aku tidak akan memaafkan kesalahan mereka?" ujar Riko mengepalkan tangannya.


"Tapi Rik, ibumu meninggal bukan kesalahan mereka, beliau mendadak mengalami serangan jantung," ujar Pak Sanjaya mencoba untuk memberikan pencerahan pada Riko.


"Tapi ibu di penjara karena kesalahan mereka?"

__ADS_1


"Semua itu karena perbuatan Bu Sekar atas permintaan kamu, yang patut di salahkan itu kamu bukan mereka," ujar Pak Sanjaya membuat Riko kembali tersulut emosi, ia tidak mau di salahkan apalagi merasa bersalah.


__ADS_2