Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 98


__ADS_3

"Tania... kok kamu ada disini?" tanya Fadli, bukannya menjawab wanita tersebut langsung memeluk Fadli. Refleks membuat Silvi terkejut, baru saja tersenyum tapi kini hatinya sakit di saat Fadli di peluk oleh perempuan lain di hadapannya.


Silvi mencoba untuk pergi dari tempat itu, dia tidak ingin menganggu dua orang yang sedang berpelukan tapi Fadli tangan Fadli tak membiarkan dia pergi.


"Tania, bisakah kau lepaskan pelukan mu dari ku," tanya Fadli merasa tidak enak hati dengan Silvi, ia tidak menyangka bisa bertemu kembali dengan Tania.


"Maaf, aku gak sadar soalnya kita sudah lama tidak bertemu?" kata Tania tersenyum bahagia seakan dia mendapatkan lotre di saat bertemu dengan Fadli.


"Dia siapa, Fadli?" Tania menunjuk ke arah Silvi yang berada sampingnya, Fadli menoleh ke arah Silvi melihat airmata yang mulai mengembun.


"Dia pacarku, bisa dikatakan sebentar lagi kami akan menikah?" kata Fadli tersenyum memeluk pinggang Silvi.


Tania sangat terkejut, ia yang dari dulu mengangumi Fadli tidak bisa membuat Fadli jatuh ke dalam pangkuannya.


"Tapi, bagaimana dengan aku?" kata Tania bersedih, Silvi dan Fadli saling menatap lalu menoleh kembali ke arah Tania.


"Maksud kamu?" tanya Fadli sama sekali dengan perkataan Tania.


Tania dan Fadli memang sangat dekat tapi hubungan mereka renggang di saat Tania ketahuan jalan bersama laki-laki lain. Semenjak saat itu, ia mulai menutup diri dan mencari cintanya.


"Ya, aku sudah lama menunggu kamu selama ini. Bertahun-tahun tapi kini apa?" kata Tania lagi.


Mendadak wajah Silvi pias, ia tidak bisa terus mendengarkan percakapan dua orang yang baru bertemu kembali.


"Tania, di antara kita itu tidak ada hubungan apa-apa? aku tidak pernah memberi harapan tapi kamu lah yang terus mengejar aku," kata Fadli menjelaskan semuanya karena ia tidak ingin Silvi salah paham padanya.


"Semua itu karena aku mencintaimu?" kata Tania lagi.


"Tapi aku tidak mencintaimu, Ayo sayang kita pergi dari sini?" kata Fadli menggenggam tangan Silvi dengan erat, tidak ingin kalau Silvi akan pergi lagi dari hidupnya.


Tania menggepalkan tangan, ia meras terhina karena berkali-kali ia di tolak oleh Fadli. Semenjak dulu, Tania mengejar cinta Fadli tapi tak membuat Fadli jatuh hati kepadanya.


"Dari tadi hanya diam saja, kenapa?" kata Fadli menoleh ke arah Silvi yang duduk termenung.


"Ada hubungan apa kamu dan Tania itu?" tanya Silvi cemburu, ia tidak ingin Fadli berpaling pada Tania.


"Nanti aku jelaskan saat kita sampai di apartemen," kata fadli.


Dia hanya tidak ingin membicarakan di mobil karena takut membuat Silvi sakit hati dan tidak leluasa, ia tahu bagaimana perasaan Silvi.


*** ***


Di kantor Sanjaya group.


Jam makan siang sudah tiba, aku harap hubungan kedua mulai membaik. Fadli begitu mencintai Silvi.

__ADS_1


"Ratih, tolong ke ruangan ku sekarang?" kata Anggara.


Hah, ke ruangannya untuk apa! apa dia ingin bertanya tentang Stefani. Benar jika orang sedang jatuh cinta, dia pasti melakukan apapun untuk mendapatkannya.


Aku berjalan ke ruangan Anggara, disana sudah ada Yogi asisten Anggara. Aku masuk lalu kembali menutup pintu.


"Ada apa?" tanya ku langsung.


Anggara menghembuskan nafas, ia menoleh ke arah Yogi lalu kembali menatap ke arahku.


"Hmm.. Apa kau tahu tempat tinggal Stefani di London," tanya Anggara.


Aku membulatkan mata, berarti aku kesini hanya untuk di tanyakan itu. Dasar lelaki aneh, bukannya aku sudah memberikan nomor Stefani padanya.


"Kenapa gak kau tanyakan langsung padanya, bukan kah aku sudah memberikan nomor Stefani padamu," tanya ku pada Anggara.


"Iya tapi dia tidak kenal dengan ku," kata Anggara.


Tidak kenal bagaimana, kemarin saja Stefani berbicara denganku menanyakan tentangnya. Bagaimana Stefani lupa?


"Apa kau memberitahu padanya kalau itu adalah kamu," tanganku lagi.


Anggara menggelengkan kepala, nyaris saja sepatu yang ku pakai melayang di kepalanya. Untung saja dia adalah pemilik perusahaan ini.


"Dasar bodoh, bagaimana ia tahu kalau kamu tidak memberitahukannya," kata ku kesal.


"Berikan ponselmu," pinta Ratih.


"Untuk apa?"


"Berikan saja bos sebelum Ratih marah?" kata Yogi.


Anggara mengeluarkan ponsel dalam saku celananya, lalu memberikan ponselnya yang tidak pernah di berikan kata sandi.


Aku membuka aplikasi berwarna hijau lalu mencari nomor Stefani lalu menekan panggilan. Terhubung tapi belum di angkat.


Tiga getaran juga belum di angkat, Anggara hanya menatap ke arah ku.


"Hallo Stefani, bagaimana kabar hari ini?" tanya ku setelah panggilan terhubung, Anggara membulatkan mata ke arahku.


"Kabar baik mbak, kalau mbak sendiri bagaimana?" tanya Stefani.


"Alhamdulillah, Baik. Nih, pak Anggara mau berbicara sama kamu?" kataku memberikan ponsel padanya lalu keluar begitu juga dengan Yogi. Biarkan saja dia yang menanyakannya sendiri.


Anggara terlihat gugup, ia mengarahkan wajahnya pada kamera agar bisa melihat Stefani.

__ADS_1


"Ada apa, Pak?" tanya Stefani.


Jantungnya berdetak kencang, baru kali ini Anggara melihat Stefani begitu juga dengan sebaliknya.


"Tidak, bagaimana kabar mu selama ini?" tanya Anggara.


"Baik, Pak. Oh ya pak, sudah dulu saya mau pergi,"


"Tunggu du..."


Tut.. stefani mematikan ponselnya, Anggara merasa kesal karena Stefani mematikan ponselnya begitu saja.


"Tunggu aku gadis kecil, aku akan ke sana?" gumam Anggara memasukkan ponselnya di dalam saku celananya.


*** ****


"Ayo, turun!" ajak Fadli saat mereka sudah sampai di depan bangunan tinggi, Silvi hanya mengangguk lalu berjalan di samping Fadli.


"Masuklah, aku ganti pakaian dulu?" kata Fadli, Silvi hanya diam lalu berjalan menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Mau minum apa?" tanya Fadli.


"Tidak usah," kata Silvi, ia tidak merasa haus dan lapar sebelum Fadli mengatakan yang sebenarnya.


"Aku dan Tania dulu sangat dekat, bahkan kami hampir menjalin hubungan tapi dia ke tangkap basah saat dia memasuki hotel bersama lelaki lain. Saat itulah, aku memutuskan untuk tidak lagi berkomunikasi dengannya," kata Fadli menjelaskan hubungan yang sebenarnya antara dia dan Tania.


"Sejak kapan?" tanya Silvi.


"Tiga tahun yang lalu dan kini perasaan aku hanya untuk mu, aku harap kamu tidak terpengaruh dengan kejadian tadi siang," Kata Fadli menggenggam tangan Silvi.


"Iya, Mas. Aku percaya kok sama kamu, aku harap kamu tidak mengkhianati aku," kata Silvi.


Keraguan masih tertancap di hati Silvi, ia baru bertemu dengan Fadli setelah bertahun lamanya mereka tidak bertemu. Namun, di saat mereka ingin menggapai kebahagiaan orang ketiga pun datang dari masa lalu Fadli, hampir saja membuat Silvi terjun bebas dalam keterpurukan.


"Sudah, sebaiknya kamu temani aku buat makan siang ini?" kata Fadli menarik tangan Silvi.


"Memangnya kamu pandai masak?" tanya Silvi.


"Tentu dong?"


Mereka berdua berjalan ke dapur tapi langkah kaki Silvi terhenti saat terdengar ketukan pintu.


"Kayaknya ada orang yang mengetuk pintu, biar aku yang buka saja" kata Silvi.


"Baiklah, aku ke dapur dulu?" kata Fadli, Silvi hanya mengangguk lalu berjalan ke arah pintu.

__ADS_1


Ceklek....


__ADS_2