
"Afnan,Mama mau bicara?" kata Bu Lydia tidak tenang melihat Afnan membawa perempuan dan anak berumur dua tahun.
Afnan menuruni tangga begitu juga dengan aku, Aku tahu Bu Lydia sepertinya tidak suka padaku namun aku akan berusaha membuat ia menyukai ku karena tidak mungkin membiarkan mas Rahman sendiri yang harus menghadapi ibu Lydia.
"Kenapa kamu bawa perempuan ini?" tanya Bu Lidya menahan amarah.
"Memangnya kenapa, Ma. Ratih adalah istriku dan aku berhak untuk membawanya bersama ku jika mama tidak suka, aku bisa pergi rumah ini," Benyak mas Rahman dengan kasar, aku tahu dia begitu marah kepada Bu Lidya dan terlihat mas Rahman menggepalkan tangan menahan amarah.
"Kamu jangan pergi, kamu putra Mama satu-satunya dan ingat, Mama yang sudah berjasa dalam hidup kamu," kata Bu Lidya.
"Jika Mama bisa menerima istriku maka aku juga bisa menerima Mama tapi jika mama tidak bisa maka maaf Ma, jangan salahkan aku pergi suatu saat nanti," kata Mas Rahman pergi meninggalkan Bu Lidya yang berada di ruang tamu lalu kembali ke kamar.
******
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang, aku berjalan ke dapur terlihat di sana seorang ibu paruh baya terlihat memasak seseorang diri. Aku berjalan ke arahnya, aku akan membantu memasak.
"Ada. yang bisa saya bantu, Bik?" kata ku.
__ADS_1
Wanita itu tersenyum dengan ramah, ternyata masih ada orang baik disini.
"Eh, boleh kebetulan sekali saya lagi repot," kata Bibik. Aku membantu Bibik membersihkan ayam untuk di goreng, sedangkan Bibik sedang membuat sayur bening.
"Siapa nama kamu, Nak?" tanya Bibik tadi
"Ratih, Bik! saya di ajak sama mas Afnan tinggal disini," kata ku selesai membersihkan ikan tadi lalu membuat bumbu goreng.
Bibik memicingkan mata ke arah ku, mungkin dia kaget karena mas Afnan mengajak ku kesini. Apa Bibik tidak tahu kalau Afnan itu adalah Mas Rahman tapi mana mungkin tidak tahu.
"Saya istrinya, Bik!" kata ku menoleh ke arah Bibik, Bibik menghentikan kegiatannya lalu membawanya ke pantry lalu menduduki ku disana. Bibik melihat ke sana kemari mungkin untuk menjaga agar tidak ada orang.
Aku menghembuskan nafas, rasanya begitu sakit jika harus dalam situasi seperti ini tapi mau bagaimana lagi. Semuanya sudah terjadi.
"Belum tahu, Bi. Lagian saya sudah bertemu dengan pak Brata," kataku tersenyum.
Mengikis keraguan, aku yakin semuanya baik-baik saja. selesai memasak, Aku dan Bibik membantu menata makanan di atas meja. Terlihat mas Afnan dan pak Brata berjalan ke arah meja makan.
__ADS_1
"Wah, wangi banget kayaknya enak ini? bikin papa paper," pak Brata bergurau lalu menarik kursi, Mas Afnan duduk kursi di sebelah kanan.
Lalu menyusui Bu Lydia dan perempuan cantik tapi aku tidak tahu namanya, ia ikut duduk di meja makan.
"Ratih, ayo duduk disini?" kata Afnan menyuruh aku duduk di sampingnya, aku melihat ke arah pak Brata yang mengangguk melihat ke arahku.
"Tunggu, kakak bukan tempo hari itu ketemu di cafe ya?" Kata-kata gadis cantik itu menghentikan tangan ku untuk Manarik kursi.
"Benar Amel, dia Ratih! Istri Mas," kata Afnan tersenyum.
"Wah, cantik banget! Kalau begitu aku akan betah di rumah karena sudah punya kakak ipar,"
Amel menyambut aku dengan antusias, dia tidak terlihat membenci ku.
"Amelia, diam!" Bentak Bu Lidya, ia menatap tajam ke arah ku seakan aku ini adalah musuhnya padahal dia yang membuat situasi kami menjadi seperti ini.
Dia yang sudah merubah wajah suamiku menjadi wajah putranya sehingga kini kami harus berusaha untuk bersatu kembali.
__ADS_1
Seandainya....! Ah, aku tidak perlu berandai-andai karena semua sudah terjadi.