Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 44


__ADS_3

"Apa, Riko! apa yang di inginkan sebenarnya sehingga ia menjebak ku dengan wanita ini," Anggara memperhatikan Stefani yang ketakutan, ia terus menunduk tidak berani menatap Anggara.


Anggara merasa di permainkan untuk kedua kalinya oleh Riko, dia pikir Riko tidak akan menganggu kehidupannya lagi tapi ia masih tetap sama walau dengan cara berbeda.


"Cari tahu semua tentang Riko dan juga masa lalu,nya" Anggara menghubungi seseorang kepercayaannya di luar sana.


Anggara kembali menatap Stefani dengan tajam, dia tidak menyangka jika wanita cantik yang ada di depannya menjadi wanita murahan.


"Tetap awasi, kalau macam-macam habisi dia," kata Anggara berjalan keluar.


"Tunggu...!"


"Tolong, beritahu dimana ibu saya?" tanya Stefani dengan lelehan air mata, muka sembab akibat terlalu menangis.


"Antar dia pada ibunya," kata Anggara pada anak buahnya.


Dia keluar dari basecamp dan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di Kantor. Begitu banyak masalah, belum lagi Nyonya Sonya baru saja keluar dari rumah sakit.


Setelah pengusiran itu, pak Sanjaya tidak kembali lagi ke rumah Anggara dan Bu Sonya memilih untuk berpisah dari lelaki yang tidak bisa setia pada wanita.


Dua jam perjalanan, Anggara sampai di kantor miliknya. ia turun setelah memarkirkan mobil BMW miliknya lalu berjalan masuk ke dalam menuju ruangannya di lantai atas.

__ADS_1


"Yogi, kamu saja yang mengikuti rapat dengan klien kita. Aku harus pulang cepat,"


"Kenapa memangnya, Bos?"


"Mama baru saja keluar dari rumah sakit, aku tidak bisa meninggalkannya sendirian,"


"Makanya kawin Bos, jangan jadi bujang lapuk,"


Anggara melempar bolpoin ke arah Yogi untuk ia bisa mengelak sehingga tidak mengenai sasaran.


"Bukan depan aku potong gaji kamu," kata Anggara melotot.


"Kurang asem banget Bos, masak potong gaji segala," kata Yogi cemberut.


Bagaimana kalau wanita itu aku suruh kerja dirumah dengan begitu aku bisa melihat gerak geriknya, sekalian dia bisa menjaga mama saat aku pergi ke kantor.


Sebaliknya aku pulang saja dulu nanti aku pikirkan lagi bagaimana baiknya, untuk saat ini aku harus hati-hati dengan mereka yang ingin menyakitiku juga mama.


**** ****


Matahari mulai turun, aku berjalan keluar dari kantor untuk pulang. Terlihat mas Rahman sudah ada di parkiran, aku berjalan ke arahnya.

__ADS_1


"Mas kok jemput, kan udah aku bilang tidak usah jemput. Mas kan baru saja keluar dari rumah sakit," kata ku.


Mas Rahman hanya tersenyum lalu memutar balik motor.


"Tidak apa-apa, Mas jemput kamu biar ngerasa waktu kita pacaran dulu. Lagian kantor kamu sama rumah kita tidak jauh, hanya 30 menit dari sini," kata Mas Rahman.


Aku hanya diam kalau sudah begini aku bisa apa, Mas Rahman tetap kekeh untuk menjemput ku padahal aku khawatir dengan keadaannya.


"Mas, aku boleh tanya sesuatu?"


"Apa..."


"Kenapa sifat Silvi sama kamu berbeda?" tanya ku.


Ya, sifat mas Rahman sama Silvi sangat berbeda. Selama menikah ia tidak pernah bersikap baik padaku, dia kasar dan arogan membuat aku malas jika harus berhadapan dengannya.


"Mungkin karena kami kehilangan sosok ayah di saat aku berusia 12 tahun dan Silvi saat itu berumur 9 tahun, dulu ia sangat dekat dengan ayah tapi sejak ayah meninggal ia menjadi pendiam dan setelah mas menikah dia mulai membuat ulah," Aku hanya menyimak setiap perkataan mas Rahman.


"Mas tahu tidak dimana tempat tinggal teman Silvi, mungkin dari situ kita bisa mulai untuk mencarinya," kataku.


Ya, aku berinisiatif untuk mencari Silvi. Meskipun dia membenciku tapi dia tetap adik mas Rahman, tidak selamanya kebencian harus di balas dengan kebencian tapi tetap lah berusaha untuk merubahnya untuk menjadi lebih baik.

__ADS_1


Buat kalian yang sudah mau meluangkan waktu untuk membaca cerita ku, terima kasih banget. Semoga gak bosan membacanya


__ADS_2