Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
ketika istriku tak lagi meminta uang 28


__ADS_3

Ceklek...


pintu kamar terbuka ternyata ibu dan Rania yang datang, aku memang sudah menghubungi ibu semalam dan mengatakan mas Rahman di rawat di ruang VIP. Aku mengambil Rania dalam pelukan ibu mertuaku lalu duduk di sofa dalam ruang tersebut.


"Bagaimana kabarmu, Man," tanya ibu mertua pada anaknya.


"Alhamdulillah baik, Bu," kata mas Rahman tersenyum. Mas Rahman tidak banyak berbicara mungkin tubuh masih terasa lemah, seorang perawat mengantarkan makanan untuk mas Rahman sebagai pasien di rumah sakit ini.


Aku memberikan Rania pada ibu lalu berjalan mengambil makanan di atas nakas dan duduk di samping mas Rahman untuk menyuapinya.


"Makan dulu setelah ini mas minum obat," kata ku mulai menyuapi bubur yang di berikan dari rumah sakit. Awalnya mas Rahman menolak katanya mulutnya terasa pahit tapi karena terus di paksa akhirnya ia mau juga makan walau hanya tiga suapan.


"Ayo, sedikit lagi biar mas cepat sembuh," kataku menyemangatinya.

__ADS_1


Namun, Mas Rahman menggeleng lemah. Aku pun pasrah tidak memaksa lagi dia untuk makan, aku pun meletakkan kembali piring di atas nakas.


"ibu sudah makan," tanya ku.


"Belum, setelah membaca pesan dari kamu ibu langsung kesini. Ibu hanya bawa susu dan termos buat susu Rania nanti," kata ibu memperlihatkan kotak susu dan termos yang di bawa dari rumah.


"Kalau begitu ibu tunggu disini saja, aku mau beli makanan dulu," kata ku keluar dari kamar dan berjalan mencari nasi bungkus untuk ibu dan aku, aku harus cepat-cepat untuk kembali ke kamar. Aku tidak bisa meninggalkannya terlalu lama apalagi hanya ada ibu disana, aku hanya tidak ingin merepotkan beliau.


Aku berjalan ke kantin rumah sakit dan memesan makanan untuk ibu dan aku tapi langkah ku terhenti saat melihat pak Anggara juga ada disana sedang menunggu nasi bungkus.


"Ratih, kamu ada disini juga, siapa yang sakit?" tanya pak Anggara kala melihat aku juga ada disana.


"Suami saya, Pak. mas Rahman kalau bapak kok ada disini kenapa?" kata ku.

__ADS_1


"Mama saya shock melihat foto saya bersama wanita tersebut dan pingsan sehingga harus di bawa ke rumah sakit," kata pak Anggara.


"Semoga mama bapak cepat sembuh," kata ku menerima bungkusan nasi Yang sudah di bungkus.


"Saya duluan, Pak," kataku pergi meninggalkan pak Anggara yang masih betah di kantin rumah sakit. Sementara aku langsung menuju kamar karena tidak ingin ibu terlalu lama menunggu.


Aku berjalan melewati koridor rumah sakit dan tak sengaja melihat pak Sanjaya juga ada disana, aku hanya diam mematung melihat perempuan yang di samping pak Sanjaya.


"Apa pak Sanjaya tidak tahu kalau istrinya juga di rawat disini lalu siapa wanita itu?" kata ku mencoba berjalan mendekat untuk melihat wanita itu.


Ya Salam, aku membungkam mulut kala melihat yang berada di dekat pak Sanjaya adalah Sinta. Aku pikir ia tidak akan menjadi pelakor dalam rumah tangga orang lain, apa aku harus menegurnya tapi itu tidak mungkin.


Aku memilih untuk kembali ke kamar dari pada menegur Sinta, besok ku tanyakan pada Sinta agar aku tidak berpikir buruk tentangnya.

__ADS_1


Aku berjalan ke kamar karena aku sudah sangat lapar. Namun langkah ku terhenti kala mendengar ibu berbicara dengan mas Rahman.


"Rumah apa" Bu...!!!


__ADS_2