Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 47


__ADS_3

Bagaimana kalau aku tiba-tiba keluar lalu menegur untuk melihat reaksi mereka jika melihat aku berada di depan mereka, tentu pasti aku akan mengajak mas Rahman agar aku tidak sendiri.


"Mas kita lihat pengunjung yok,"


"Untuk apa? tidak usah sayang," kata mas Rahman melarang ku.


Begini yang tidak aku suka pada mas Rahman, dia tidak tahu kalau di luar ada burung hantu sama gerombolannya.


"Mbak, makanan ini mau di bawa kemana?" tanya ku melihat begitu banyak makanan. Aku yakin ini makanan untuk meja no 6, tempat pak Yanto duduk.


"Mau saya antar ke meja no 6 mbak," ujar salah satu karyawan mas Rahman.


"Bagaimana kalau aku saja yang mengantarkannya, bolehkan Mas," kata ku merayunya.


"Boleh, Dita berikan nampan itu pada Bu Ratih dan kamu boleh kembali ke belakang,"


Dita memberikan nampan padaku, dengan senang hati aku menerimanya dan aku berjalan mengantarkan pesanan mereka, aku tersenyum melihat mereka masih duduk disana.


"Ini pak pesanannya, maaf lama," kata ku.


"Tidak apa-apa..! aku menoleh ke asal suara, lalu berpura-pura kaget melihat mereka semua.

__ADS_1


Sandiwara di mulai...


"Pak Sanjaya kok ada disini, loe ini pak Yanto juga sama Sinta ada disini," kata ku.


Mereka membulatkan mata menatap ke arahku, kenapa kaget aku ada di depan kalian. Sinta sedikit kikuk berada di antara mereka.


"Ah, kami hanya kebetulan bertemu disini lalu mengobrol," kata pak Sanjaya.


"Aku pikir lagi merencanakan sesuatu...!" kata ku menyergap mataku beberapa kali.


"Rencana, rencana apa?" kata Riko.


"Memangnya kalian mau merencanakan apa, katakan pada ku biar aku bantu," kataku pura-pura polos, ku lihat raut wajah pak Yanto mulai menegang begitu juga dengan Sinta. Tapi tidak bagi Riko, ia terlihat santai.


Aku hanya mengangguk, lalu menatap mereka satu persatu. Aku yakin kalau mereka takut kalau aku membocorkan pertemuan mereka pada Anggara.


"Selamat menikmati makanannya, pak," kataku berjalan kembali ke belakang bersama nampan di tanganku.


"Sayang, mereka siapa? kok kamu akrab banget sama mereka," tanya mas Rahman.


Aku menatap mas Rahman lalu kembali melihat mereka, nanti aku ceritakan pada mas jika sudah sampai di rumah.

__ADS_1


Jam sudah menuju pukul 9 malam, pengunjung tidak seramai tadi. Pak Sanjaya bersama antek-anteknya sudah pulang, aku dan mas Rahman pun sudah siap untuk pulang karena malam semakin larut.


"Capek juga ya, Mas," kataku setelah sampai di rumah, mas Rahman menutup kembali pagar lalu menguncinya. Aku langsung pergi ke kamar kami, aku mencari rekaman tadi lalu mengirimkannya pada pak Anggara.


Biar pak Anggara tidak di bodohi oleh mereka semua, aku meletakkan ponsel di atas tempat tidur lalu berjalan ke kamar mandi.


Selesai mengantikan pakaian, aku keluar dari kamar dan melihat mas Rahman sedang mengotak-atik ponselku.


"Kenapa Mas?" tanya ku.


"Pesan apa yang kamu kirimkan pada Anggara?"


"Apa Mas cemburu...?"


"Cemburu, tidak kok," kata mas Rahman.


"Benarkah," Aku tersenyum lalu mengambil ponsel menghidupkan rekaman tadi. Lalu kembali memberikan pada mas Rahman.


Mas Rahman hanya diam, lalu mendengar setiap pembicaraan yang ku rekam tadi.


"Jadi mereka...!" mas Rahman menatap ke arahku.

__ADS_1


"Iya, Mas. Mereka bersekongkol untuk menghancurkan Anggara," kata ku.


"Aku lihat kamu sangat peduli padanya, apa kamu mencintainya...!"


__ADS_2