Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 81


__ADS_3

Aku kembali berjalan ke dapur untuk melihat bahan makanan apa saya yang ada di dalam kulkas agar aku bisa memasak makan siang untuk mas Rahman.


Aku mengambil potongan daging ayam lalu membersihkannya, Siang ini aku ingin membuat ayam goreng rica-rica kesukaannya dan sayur bening, aku harap dia masih mengingat istrinya ini.


Tiga 30 menit berkutat di dapur, akhirnya menu makan siang selesai juga. Aku menghidangkan di atas meja ku menghampiri mas Rahman yang masih stay di depan tv.


"Tuan, makan siang sudah siap?" kata ku.


Mas Rahman menoleh ke arah ku lalu beranjak ke dapur dak aku pun mengikutinya.


Mas Rahman tidak mengenali diriku karena aku memakai kacamata besar lalu tak lupa sedikit tompel menghiasi wajah ku agar mas Rahman benar-benar tidak mengenali diriku tapi aku akan membuat dia rindu dengan masakan aku.


"Kamu ikut makan bersama ku karena aku tidak suka makan sendiri!" Kata Mas Rahman menarik kursi ke belakang lalu duduk mengambil piring.


Aku hanya mengangguk, tidak ada yang harus aku katakan. Menjadi orang lain untuk sementara membuat aku tidak bisa banyak bicara.


"Wah, ayam rica-rica kesukaan aku ini?" Kata mas Rahman mengambil ayam rica-rica lalu memasukkan ke dalam mulut.


Seketika mas Rahman berhenti mengunyah sedangkan aku masih menatapnya.


"Ayo makan," kata Mas Rahman.


"Iya tuan," kata ku memasukkan nasi ke dalam mulut, aku tidak bisa bersandiwara seperti ini. Aku sangat merindukannya, andai bisa aku ingin memeluknya.


"Beneran kamu yang masak masakan ini?" Mas Rahman menunjukkan ayam rica-rica yang aku buat.


"Benar memangnya kenapa, Tuan?"


"Tidak, masakan kamu mirip sekali dengan istri saya?" Ucap mas Rahman membuat aku diam, ia masih ingat dengan aku walaupun dia membenciku. Bahkan dia tidak mengenali kalau di depannya adalah istrinya walaupun lewat suara.


"Istri, tuan punya istri kok aku gak lihat dari tadi?" Kata ku berpura-pura mencari istrinya.


"Dia tidak ada disini? Makanlah," kata mas Rahman.


Aku hanya mengangguk lalu kembali makan dengan nikmat, selesai makan aku mencuci piring sedangkan mas Rahman sepertinya sudah masuk ke kamar.


Selesai menyuci piring, aku berjalan ke kamar ku yang ada di belakang. Aku merebahkan tubuh ini atas tempat tidur tapi sebelumnya aku harus mengunci pintu dulu agar mas Rahman tidak masuk.


Drrtt...Drrtt...


Suara getaran ponsel membuat aku menoleh ke asal suara, ternyata panggilan dari ibu. Aku lupa bilang kalau aku sudah berada di rumah mas Rahman.


"Assalamualaikum, Bu!" ucapku setelah menerima video call dengan ibu, terlihat Silvi dan juga Rania ada disana.


"Wa'alaikumsalam, bagaimana kamu sudah sampai?" tanya ibu.


"Sudah, Bu. Aku sedang berada di rumah yang di tempati oleh mas Rahman," kataku lagi.


"Bagaimana keadaan Rahman, Nak!"


"Mas Rahman...

__ADS_1


Tok...tok....


Suara ketukan pintu membuat aku menoleh ke asal suara, aku mematikan ponsel lalu membukanya.


Ceklek...


Aku membuka pintu dan melihat mas Rahman berada di depanku.


"Ada apa, Tuan?" tanya ku.


"Ini uang belanja untuk besok, saya rasa di dalam kulkas juga tidak ada lagi bahan makanan dan minuman," kata mas Rahman.


"Tapi tuan saya tidak tahu supermarket yang dekat dari sini," ujar ku pura-pura tidak tahu agar dia bisa berangkat menemani berbelanja.


"Kalau begitu, mari saya antar ke supermarket?" Kata mas Rahman.


Aku hanya mengangguk lalu menutup pintu lalu berjalan keluar, untuk bisa menemukan taxi. Kita harus keluar dari gang yang hanya memerlukan waktu 10 menit dari sana.


"Tuan memang tinggal disini?" tanya ku dengan kacamata besar membuat aku terlihat cupu.


"Panggil saja Rahman lebih enak," kata mas Rahman.


"Baik pak, maksudnya Rahman!" Kata ku makin merasa janggal karena aku memanggilnya dengan sebutan Mas.


Mas Rahman hanya tersenyum simpul, aku hanya diam melihat ke arah jendela. Orang masih lalu lalang di jalan raya.


Tak lama kemudian, kami sampai di supermarket. Aku turun lalu masuk ke dalam untuk berbelanja daging dan beberapa menimbun juga Snack kesukaan mas Rahman.


Selesai berbelanja, aku melangkahkan kaki ini ke kasir untuk membayar semua belanjaan yang ada di dalam keranjang lalu aku keluar setelah membayar.


"Sudah," tanya mas Rahman.


"Sudah kalau begitu kita jalan ke Mall sebentar," kata mas Rahman.


Apa, ke Mall? Untuk apa mas Rahman ke Mall, apa dia ingin bertemu dengan perempuan lain. Jika benar aku tidak akan memaafkan dia.


"Ke Mall, untuk apa?" tanya ku.


"Putri kecilku besok ulang tahun, aku ingin membelikan sesuatu untuknya," kata mas Rahman.


Ulang tahun, putri kecil? Ah ya Allah, aku lupa kalau besok putri kecil kami Rania berulang tahun yang ke dua tahun dan aku tidak ada disana, bagaimana aku bisa mencari alasan untuk bisa menemui Rania.


"Memangnya Rahman punya putri?" tanyaku.


Aku ingin melihat sebarapa dia mengrahasiakan tentang istri dan anaknya.


"Ada, dia sedang bersama istriku di Jakarta Selatan dan besok ulang tahunnya," kata mas Rahman.


"Apa, besok bapak akan menemuinya?" Tanyaku.


"Tidak, aku hanya mengirimkan kado saja untuknya,"

__ADS_1


"Kenapa? Apa bapak sedang berantem dengan istri bapak,"


Mas Rahman hanya diam, enteh seperti apa hatinya sampai dia tidak mau bertemu dengan anaknya.


"Apapun masalah selesai dengan cara baik-baik? Aku yakin pasti bapak kesini menyendiri dari pertengkaran rumah tangga, bapak tahu lelaki yang tidak mau menyelesaikan masalah itu adalah lelaki pengecut yang lari dari masalah," kataku.


Mas Rahman menatap ke arahku, lalu di menatap ke depan.


"Apa kamu memaafkan seseorang di saat kamu melihat dia bersama lelaki," tanya mas Rahman.


Aku mengerti kemana arah tujuan mas Rahman, ia ingin mendapatkan pendapatan dari foto yang terimanya. Baiklah akan aku buat kamu menyesal telah meninggalkan istrimu.


"Apa bapak sudah menanyakan pada istri bapak tentang kebenarannya,"


"Tidak, saya langsung pergi saat saya melihat foto tersebut. Waktu itu saya merasa di khianati olehnya,"


"Saya boleh katakan sesuatu!"


"Boleh, Apa?"


"Bapak tahu siapa orang yang paling bodoh di dunia ini?"


"Siapa?"


"Bapak, bapak adalah orang yang paling bodoh meninggalkan istri dan anaknya hanya karena sebuah foto yang belum tentu kebenarannya,"


"Maksud kamu?"


"Coba bapak pikir, tidak mungkin ada seseorang mengirimkan foto istri bapak bersama orang lain jika tidak niat yang lain," kata ku sok bijak menjadi penasihat bagi suamiku dengan menjadi Rara, perempuan culun dengan kacamata besan dan tompel di pipinya.


"Maksud kamu, ada seseorang yang ingin menghancurkan rumah tanggaku begitu," kata mas Rahman masih belum mengerti tentang arah pembicaraan ku.


Aku hanya mengangguk lalu menatap ke arah jendela yang berada di sampingku, aku berharap dengan perkataan ini dia mau pulang ke rumah tanpa aku harus membongkar rahasia siapa aku yang sudah menjadi Rara.


Tak lama kemudian kami sampai di depan Mall Jakarta timur, aku dan Mas Rahman masuk menuju lantai atas, yang pertama kali kami masuk menuju toko boneka untuk membeli Rania.


"Rara, tolong cari boneka yang bagus untuk putriku soalnya aku tidak tahu kesukaan perempuan," kata mas Rahman.


Aku melihat semua boneka yang tertata rapi disana, mataku tertuju pada boneka bear berwarna putih dan hitam, tidak terlalu besar tapi Rania pasti suka dengan boneka ini.


lalu aku berjalan ke arah boneka Barbie mencari yang lengkap dengan bangunan rumah.


"Bagaimana kalau yang ini?" aku menunjukkan pada mas Rahman boneka yang aku pilih tadi dan Barbie satu set.


"Boleh," mas Rahman pergi ke kasir untuk membayar karena toko baju dan boneka bersebelahan, mas Rahman mengajak masuk ke toko anak-anak.


Bruk...


Aku tidak sengaja menabrak seseorang di depan sehingga terjatuh dan mata ku membulat kala melihat tompel di pipiku jatuh.


Aduh, bagaimana ini!

__ADS_1


__ADS_2