Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
ketika istriku tak lagi meminta uang 35


__ADS_3

"Assalamualaikum...!


"Wa'alaikumsalam...! semua mata tertuju ke arah pintu, terlihat disana pak Anggara sudah berdiri. Aku pun berdiri lalu kembali mengajak mas Rahman untuk istirahat tapi ia tidak mau, ia masih betah duduk di atas kursi roda padahal ia masih dalam keadaan sakit.


"Mari masuk, Pak," kata mas Rahman. Aku hanya diam lalu menyuruh Dion untuk membeli teh untuk pak Anggara. Sementara, ibu entah kemana pergi bersama Rania.


"Bagaimana keadaan anda, maaf saya tidak tahu kalau anda sakit," kata Anggara.


"Ah, tidak apa-apa Pak," kata Mas Rahman tersenyum.


"Ratih, tolong belikan buah rasanya Mas mau makan buah," kata Mas Rahman.


Aku malas keluar dari rumah sakit, apalagi membeli buah harus keluar dari ruang sakit walau tidak jauh tapi cuaca hari ini cukup panas.


"Aku suruh sama Dion aja, dia kan lagi keluar cari minuman," kataku.


"Aku ingin kamu yang beli bukan Dion, please,"


Pinta mas Rahman menggenggam tanganku membuat aku malu karena pak Anggara berada di depan kami. Aku hanya mengiyakan dari pada jadi istri durhaka, aku berjalan kaki keluar dari rumah sakit.

__ADS_1


Matahari cukup terik membuat aku sedikit kepanasan, aku mengayunkan langkah walaupun malas. 15 menit berjalan kaki, akhirnya aku sampai di toko buah. Aku memilih buah jeruk, salak dan apel untuk mas Rahman lalu kembali ke rumah sakit.


Aku melihat ibu berada di taman samping rumah sakit, entah apa yang dia kerjakan bersama mbak Siti. Aku menghampiri mereka.


"Ibu, kalian sedang apa?" tanyaku.


Ibu dan mbak Siti yang kaget melihat kedatanganku buru-buru menyembunyikan sesuatu di tangannya.


"Apa yang kamu sembunyikan, Mbak?" tanya ku.


"Ah, tidak ada mbak. kami lagi main petak umpet sama rania," kata mbak Siti.


"Tuh, Rania lagi main aja sendiri," kata ku menunjukkan ke arah Rania.


"ini baru selesai main petak umpet Mbak, benar kan Bu," kata mbak Siti meminta pembelaan dari ibu.


"Kamu habis dari mana?" tanya ibu.


"Aku habis beli buah buat mas Rahman," kata ku.

__ADS_1


Aduh, aku sudah terlalu lama meninggalkan mas Rahman dengan pak Anggara, Aku berjalan kembali menuju koridor rumah sakit menuju kamar mas Rahman.


Aku melihat mas Rahman sudah berada di atas tempat tidurnya, sementara pak Anggara sudah tidak berada disini. Mas Rahman tersenyum menatap ke arahku, apa yang di bicarakan mereka berdua sehingga mas Rahman tersenyum ke arahku.


"Mas, kok senyum-senyum gitu?" tanya ku.


"Ahh, tidak ada," kata mas Rahman.


"Mas mau makan buah apa? tanyaku meletakkan jeruk di atas nakas rumah sakit.


"Jeruk saja,"


Aku mengupas jeruk lalu menyuapi ke dalam mulut mas Rahman, aku hanya diam menatapnya. Ingin aku tangan tentang kertas yang di tangan tempo hari tapi tidak berani. Mungkin saja rumah itu bukan di belikan untukku atau rumah itu di belikan untuk ibu.


"Kok wajahnya di tekuk begitu, kenapa?" tanya mas Rahman memegang daguku. Aku hanya diam, apa aku tanyakan saja tentang pembayaran itu.


"Mas bisa jelaskan kertas apa ini?" aku meletakkan kertas di pangkuan mas Rahman lalu menatap ke arahnya. Mas Rahman mengambil kertas tersebut lalu membukanya.


"Apa kamu siap mendengarkan semuanya, jika hati kamu terluka,"

__ADS_1


"Maksud Mas apa?"


__ADS_2