
Riko menyekap Stefani di dalam gudang rumahnya, ia tidak ingin rahasianya bocor dan di ketahui oleh Anggara. Sementara di Villa, Ratih masih meringkuh di bawah guyuran air dengan wajah yang sudah sembab.
Teringat Karena sudah terlalu lama meninggalkan Rania sendirian di kamar, Ratih bergegas menyelesaikan mandinya. Dia tidak boleh seperti ini, ia sangat yakin tidak melakukan apapun.
Selesai mandi dan memakai pakaian, Rania keluar sedangkan Anggara masih duduk di sofa. Ia menatap ke arah Ratih sambil mengajak Rania berjalan.
"Ratih, aku mau bicara!" Kata Anggara, ia menoleh ke arah lain.
"Mau bicara apa!" Kata Ratih.
"Aku tidak melakukan semua itu dan aku ingat betul kalau aku mengantuk setelah makanan yang kamu pesan tadi," kata Anggara.
Wajah Ratih berubah pias, ia baru ingat juga mengalami hal yang sama tapi apa mungkin driver itu yang mengantarkan makanan sudah mencampur dengan obat tidur.
__ADS_1
"Mana mungkin kalau makanan itu di kasih obat tidur, bukankah aku atau pun kamu tidak ada masalah dengannya," kata Ratih tidak masuk di akalnya.
"Mungkin saja semua ini sudah di rencanakan agar terjadi permusuhan di antara kita, aku sangat yakin kalau kita di jebak Ra," kata Angga berharap Ratih percaya padanya.
Sesaat Ratih terdiam lalu mengingat waktu mereka makan berdua di meja makan, lalu kembali menatap Anggara yang sedang berdiri di depannya. Jika pun di jebak, ada masalah apa mereka.
"Aku butuh bukti untuk mempercayai semua itu termasuk ucapan kamu," kata Ratih pergi meninggalkan Anggara menuju rumah sakit.
Sepanjang perjalanan Ratih terus memikirkan yang terjadi di villa tadi, ia tidak menyangka bisa seceroboh itu.
Aku masih teringat dengan kejadian tadi, takut mas Rahman akan salah paham. Sebaiknya aku ceritakan saja setelah aku mempunyai bukti jika kami hanyalah di jebak bukan karena Anggara memang sengaja.
Aku terus berjalan sambil menggendong Rania agar lebih cepat sampai di kamar inap mas Rahman, Silvi sudah lebih dulu datang tadi pagi.
__ADS_1
"Mas, kamu sudah ..." Kata-kataku terhenti saat melihat tidak ada orang di kamar ini, hanya ruang kosong yang bercat putih.
Dimana Silvi dan mas Rahman, aku terus memanggil dan mencarinya ke kamar mandi mungkin saja ia ada disana.
Aku mendekat ke arah tempat tidur mas Rahman, terlihat kertas putih tergeletak begitu saja di atas tempat tidur.
"Kertas apa ini?" Gumam ku membuka lipatan kertas tersebut yang cukup membuat aku syok membaca goresan tangan mas Rahman.
[ Jangan pernah mencariku lagi ]
Apa-apaan ini mas Rahman, kenapa dia menulis pesan seperti ini. Aku melihat amplop coklat tergeletak di bawah lipatan kertas tadi lalu mencoba mengambilnya, mungkin saja mas Rahman hanya becanda.
Aku mengambil isi yang ada dalam amplop tersebut lalu membukanya, mata ku membulat kala melihat fotoku bersama Anggara di atas ranjang ada disini. Tangan ku bergetar melihat foto ini, aku mencari Silvi, aku akan menanyakan pada Silvi kemana mas Rahman pergi.
__ADS_1
Siapa yang mengirim foto ini pada mas Rahman!!