
Aku kembali masuk ke dalam kamar karena besok aku akan kembali masuk ke kantor, ku lihat mas Rahman sedang duduk bersandar di tempat tidur dengan memangku laptop di atas pahanya.
"Kamu sedang apa, Mas," Aku berjalan dan naik ke atas ranjang lalu duduk di samping mas Rahman.
"Mas lagi lihat interior untuk restoran kita, menurut kamu bagus yang mana sayang,"
Aku melihat interior yang bagus untuk restoran yang akan kami kelola bersama, begitu juga dengan masakan yang sangat di sukai anak-anak milenial sekarang.
"Mas bagaimana kalau ini!" aku menunggu interior Restoran bernuansa putih dan hijau, walaupun simpel tapi terlihat indah.
"Boleh, pokoknya terserah kamu mau interior yang bagaimana," ujar mas Rahman.
Aku hanya mengangguk lalu kembali melihat yang lain tapi sebelumnya aku harus melihat restoran yang akan dikelola dengan begitu nanti baru bisa kita buat bagaimana interiornya untuk menarik pengunjung.
*** *** ***
Azan subuh mulai berkumandang, aku bangun untuk melaksanakan kewajiban ku sebagai umat Islam, setelah itu aku turun ke bawah untuk memasak nasi goreng pagi ini.
__ADS_1
Aku menyiapkan bumbu untuk membuat nasi goreng seperti bawang putih, cabe merah dan bawang putih. Sementara ibu menyiapkan telur untuk di dadar.
"Rania belum bangun, Bu?" tanyaku di sela-sela mengiris bawang merah.
"Belum sepertinya," kata ibu.
Aku hanya diam, dua hari ini aku kurang perhatian padanya karena terlalu sibuk mengurus mas Rahman. Nanti sebelum berangkat ke kantor, aku akan melihat Rania.
Nasi goreng sudah siap, begitu juga dengan telur dadar tinggal menatanya di atas meja. Jam sudah menuju pukul 06 pagi, aku menaiki tangga menuju kamar untuk mandi dan membangunkan mas Rahman.
"Mas, kamu sudah bangun," kata ku melihat mas Rahman sudah rapi.
Aku hanya tersenyum lalu mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi yang sudah menjadi rutinitas. Selesai mandi, aku memakai celana hitam dan baju kemeja berwarna putih. tak lupa juga aku memakai blazer di luar.
Tak lupa pashmina berwarna putih menjadi pilihan ku, Aku memoles bedak tipis ke wajahku dan pemerah bibir agar bibirku tidak kering, merasa semua sudah siap aku berjalan keluar kamar lalu menuruni anak tangga.
Mas Rahman yang duduk di meja makan, menatap ke arahku tanpa berkedip. Aku menjadi salah tingkah, mungkin ada yang salah dari penampilan ku.
__ADS_1
"Masya Allah, mbak cantik banget kalau begini sih bisa-bisa teman kantor bisa suka Mbak," kata Mbak Siti.
Aku hanya tersenyum lalu kembali menatap mas Rahman yang tak berkedip ke arahku.
"Mas, kamu kenapa?" tanyaku.
"Ah, tidak apa-apa? aku yang akan antar kamu ke kantor,"
"Tapi Mas!"
"Tidak ada tapi-tapian, apa kamu suka di taksir banyak teman kantor Tempo hari ini."
"Cie...ada yang cemburu nih," Mbak Siti kembali menjahili mas Rahman. Aku hanya tersenyum lalu mengambil nasi goreng dan menyantapnya bersama keluarga.
Selesai makan, aku berangkat kerja di antar oleh mas Rahman. Dia benar-benar tidak menginginkan aku datang sendiri, apa dia takut kalau aku selingkuh atau dia terlalu cemburu saat ini.
"Nanti pulang kantor mas jemput, ingat jangan macam-macam di kantor" kata mas Rahman.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk lalu menyalami tangannya sebagai bakti ku terhadap suami. Setelah mengantarkan aku ke kantor mas Rahman kembali ke rumah.