
Akhirnya aku tiba juga sampai di rumah, aku berjalan masuk lalu melihat Rania sedang bermain dengan Siti tapi ibu tidak terlihat di ruang tv. Kemana ibu pergi?
"Siti, ibu pergi kemana kok gak kelihatan," tanya aku mengambil air dalam dispenser.
"ibu pergi ke supermarket, mbak. katanya untuk membeli bahan makanan juga beberapa snack untuk di taruh di lam kulkas. kulkas kan gak ada isinya," kata mbak Siti sedang menyuapi buah ke dalam mulut Rania.
Ah, kenapa aku selalu merepotkan ibu dan selalu menyusahkan beliau padahal ibu tadi bisa mengatakan padaku kalau mau ke supermarket. Aku meletakkan gelas minuman lalu menaiki tangga satu persatu dan setelah mengganti baju aku akan menjemput di supermarket.
Aku sudah terlalu banyak membuat ibu susah, belum lagi ibu selalu mengurus Rania dan Kini beliau belanja. Aku turun ke bawah setelah menggantikan baju lalu mengambil kunci motor yang terletak di atas meja.
"Mau kemana lagi, kan baru pulang,"
"Mau jemput ibu, Mas. Kasian ibu pergi ke supermarket sendirian," kata ku berjalan ke arah motor.
"Buat apa di jemput, sebentar lagi ibu juga pulang," kata mas Rahman.
"Tapi Mas...!
"Tidak ada tapi-tapian," kata Mas Rahman.
"Kalian kenapa? ribut apa lagi," tanya ibu mertuaku.
__ADS_1
"Ratih mau jemput ibu katanya di supermarket," kata mas Rahman.
"Jemput apa? wong ibu masih kuat kok. kamu bantu ibu angkat barang ini saja," kata ibu memberiku barang belanjaan. Aku mengambilnya lalu memasukkan bahan makanan seperti daging, ikan, ayam, dan beberapa minuman botol kesukaan Mas Rahman.
Selesai menata barang belanjaan di dalam kulkas, aku membantu untuk untuk makan malam. Aku tidak bisa membiarkan ibu lelah sendirian memasak di dapur.
Aku membersihkan ayam yang sudah di potong-potong, rencana aku akan memasak ayam kecap pedas kesukaan mas Rahman. Sudah lama aku tidak memasak kesukaannya.
"Mau masak apa, Tih?"
"Mau masak ayam kecap pedas kesukaan mas Rahman, Bu." kata ku mengangkat ayam yang sudah aku bersihkan.
Selesai mengulang bumbu, aku meletakkan wajan di atas kompor dan mulai menumis bumbu. Selesai memasak aku menatanya di atas meja makan, terlihat mas Rahman sudah berada di meja makan.
"Wah, kayaknya lezat ini!" mas Rahman duduk dan langsung mengambil piring lalu menyendok nasi ke dalam piring. Aku hanya tersenyum melihat tingkah Mas Rahman seperti anak kecil.
"Masakan istriku memang enak, sudah lama aku tidak merasakannya," puji mas Rahman, aku ikut duduk bersamanya begitu juga dengan ibu. Tak lupa juga Siti ikut bersama kami untuk makan bersama.
Selesai makan, aku membawa piring kotor ke dapur untuk di cuci. Siti ikut membantu membawa gelas kotor.
"Mbak, biar aku saj yang cuci piring," kata Siti.
__ADS_1
"Memangnya gak ngerepotin kamu," tanya ku.
Aku hanya tidak ingin merepotkan Siti karena seharian dia sudah menjaga Rania.
"Tidak apa-apa, Mbak. Kayak sama siapa aja," kata Siti mengambil alih aku mencuci piring, Aku tersenyum lalu mencuci tangan ku dan bermain dengan putri kecil ku yang kini sudah berusia satu tahun lebih.
"Sayang, keluar yok?" ajak mas Rahman.
"Kemana..?"
"Ke restoran kita untuk melihat suasana cafe, apa cafe itu masih rame pengunjungnya atau tidak, soalnya restoran kemarin hampir guling tikar," kata Mas Rahman.
"Ya, sudah. Mas tunggu disini, aku mau ganti pakaian dulu,"
Aku berlalu ke kamar menaiki tangga membuat kaki ku pegel mungkin karena belum terbiasa, maklum saya orang desa Mak. Aku terus berjalan menuju kamar lalu Menganti pakaian untuk jalan berdua sama mas Rahman.
Dua jam perjalanan, kami sampai di depan kami. Aku melihat tulisan di depan resto dengan nama "Rania resto". Aku hanya tersenyum lalu ikut berjalan masuk ke dalam.
"Sayang, tunggu sebentar ya! Mas mau ke toilet dulu, kebelet ini," Mas Rahman berjalan ke arah samping mungkin menuju kamar mandi. Aku melihat ke sekeliling Resto dan mata ku tertuju pada satu meja sekelompok orang yang sedang tertawa yang sangat familiar di mata ku.
"Pak Yanto...!"
__ADS_1