
Ceklek...
Silvi membuka pintu lalu terlihat seseorang berdiri dengan menenteng makanan.
"Apa bener ini apartemen atas nama Fadli?" tanya seorang kurir tersebut, ternyata yang datang adalah seorang kurir.
"Benar, memangnya ada apa ya?" tanya Silvi balik.
"Ada kiriman makanan untuk pak Fadli," kurir tersebut memberikan makanan pada Silvi, ia pun mengambilnya. Kalau di tolak pun tidak enak.
"Apa bapak tahu siapa yang mengirimkan makanan ini?" tanya Silvi.
"Atas nama Tania, kalau begitu saya permisi dulu?" kata lelaki tersebut.
"Terimakasih, Pak!" kata Silvi menutup pintu, ia berjalan dengan wajah cemberut. Dia menenteng makanan tersebut lalu membawanya ke dapur.
"Wah, ternyata kamu pesan makanan sayang? Sini biar aku buka," kata Fadli mencoba mengambil makanan tadi di tangan Silvi.
"Stop ... kamu tidak boleh makan makanan ini kalau kamu memang sayang sama aku," kata Silvi cemberut.
"Memangnya kenapa, Sayang?"
"Makanan ini dari Tania itu, pasti dia udah masukkan sesuatu disini," Silvi menunjukkan makanan tadi, ia hanya takut kalau Tania menggunakan cara licik untuk bisa kembali dengan Fadli.
"Hah, Tania! kenapa dia bisa tahu apartemen aku, apa ada orang yang memberitahu padanya?" kata Fadli dengan lirih, Silvi meletakkan makanan tadi di dapur tak ingin menyentuhnya sedikit pun.
Fadli mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
"Datang ke apartemen gue sekarang juga, ingat bawa pacar loe sekalian?" kata Fadli pada seseorang yang di hubungi.
"Sudah, aku tidak makan kok lagian makanan itu nanti akan kita makan sama-sama," kata Fadli menggenggam tangan Silvi.
"Tidak boleh, walaupun sedikit. Aku tidak mau nanti dia akan mencari peluang untuk mendekati mu," kata Silvi lagi.
"Apakah kau cemburu?" tanya Fadli ingin menggoda dia.
"Apa aku tidak boleh cemburu begitu, atau kamu masih mengharapkan dia," tanya Silvi, Fadli tidak menjawab Pertanyaan Silvi. Dia terus memasak makan siang untuk mereka berdua, membuat Silvi bertambah kesal.
"Jangan katakan apapun lagi kalau tidak ingin aku cium," bisik Fadli di telinga Silvi membuat tubuhnya menegang, setiap dekat dengan Fadli membuat tubuhnya membeku.
__ADS_1
"Dasar mesum," Silvi meninggalkan Fadli yang sedang masak lalu berjalan ke depan tv.
ia duduk sambil memangku bantal sofa, pintu kembali ada yang mengetuk. ia merasa kesal lalu berteriak memanggil Fadli.
"Mas Fadli, ada yang datang!" Seru Silvi dengan kesal, ia merasa bosan disini karena tidak ada teman untuk mengobrol kecuali Fadli.
"Sebentar," kata Fadli mencuci kedua tangannya lalu berjalan ke depan untuk membuka pintu.
"Kenapa gak langsung masuk saja, bikin repot aja orang buka pintu," Gerutu Fadli kesal pada Adit sahabatnya.
"Hehe, kami ini tamu tetap harus sopan," kata Adit masuk bersama Aleta.
"Ternyata ada tamu, pantesan kita di suruh kemari," kata Adit berjalan ke arah Sofa, ia langsung duduk tanpa melihat ke arah Silvi. Aleta duduk di samping Adit.
"Mbak namanya siapa?" tanya Aleta basa-basi, Silvi menoleh ke arah suara dan terkejut melihat sudah ada orang di sampingnya.
"Sejak kapan perempuan ini ada sini, tadi Tania sekarang siapa lagi," Gumam Silvi dalam hati, ia menatap ke arah Aleta dengan tajam sedangkan Adit sudah bangun berjalan ke dapur menghampiri Fadli.
"Silvi, kamu kesini sama siapa?" tanya Silvi hati-hati.
"Sama Mas Adit, " kata Aleta.
Silvi menelusuri di ruangan tamu tidak ada lelaki lain, ia semakin berprasangka yang enggak-enggak lalu berjalan menghampiri Fadli yang ada di dapur.
"Perempuan yang mana, hanya kamu cintaku sayang," Fadli mulai ngebucin lagi.
"Oh ya, benarkah? terus yang ada di depan itu siapa hah," Silvi kembali mencubit perut Fadli tanpa memberi ampun.
"Perempuan siapa sayang, hanya kamu cintaku percayalah," kata Fadli lagi tapi Silvi tetap tidak percaya, mendengar ada keributan. Adit yang berada di kamar mandi di sebelah dapur langsung keluar.
"Ada apa, kok ribut-ribut?" kata Adit melihat Silvi terus mencubit perut Fadli.
Silvi melepaskan cubitannya di pinggang Fadli lalu berjalan ke depan, ia merasa mampu karena kepergok sama Adit.
"Kenapa dia gak bilang jika ada orang lain disini, ternyata wanita itu benar kalau di datang yang namanya Adit," Gumam Silvi menepuk keningnya sendiri.
"Kenapa, Mbak?" tanya Aleta.
"Tidak ada," kata Silvi kembali duduk di tempatnya.
__ADS_1
Adit dan Fadli menghampiri mereka, ia membawa makanan kiriman dari Tania. Silvi melirik ke arah Fadli, ia merasa malu karena telah mencurigai Fadli.
"Jadi dia yang kamu car dulu, yang membuat kamu tidak bisa tidur," Goda Adit setelah mendengar penjelasan dari Fadli tentang Silvi.
"Adit, jangan membuat aku malu. Ayo kita duduk bersama," kata Fadli.
Adit duduk di dekat Aleta sedangkan Fadli duduk di dekat Silvi, mereka berbincang tentang masa-masa dia kuliah dulu.
"Kapan kalian menikah?" pertanyaan Adit membuta Silvi melotot, ia tidak menyangka jika pertanyaan itu yang di lontarkan pada mereka berdua.
"Tunggu dulu, aku belum melamar dia pada orang tuanya. Bagaimana kami menikah," kata Fadli meminum teh, sedangkan makanan tadi sudah diletakkan di atas meja.
"Wah, ada makanan ini? makan ah," kata Adit langsung membuka kiriman tadi ternyata pizza kesukaan Fadli.
"Wah, pizza kesukaan kamu Fad," kata Adit mencomot satu pizza lalu memasukkan ke dalam mulutnya. Keju dan toping yang banyak membuat rasa pizza meleleh di mulut.
"Aleta, ayo di makan?" kata Silvi, Aleta hanya mengangguk lalu ikut mencomot satu pizza sedangkan Fadli hanya bisa menelan ludah.
"Kok kalian gak ikut makan, pizza ini loe beli?" kata Adit dengan mulut yang penuh dengan pizza.
"Bukan gue yang beli tapi kiriman dari Tania?" kata Fadli.
"Apa, Tania? jadi dia beneran ada di Indonesia?" tanya Adit.
"Loe tahu juga dia ada disini?" tanya Fadli.
"Enggak sih, dia minta nomor loe tapi gue gak kasih," kata Adit santai, Fadli hanya diam begitu juga dengan Silvi. Padahal dia ingin sekali makan pizza tapi ia takut untuk memakan makanan yang di kirim oleh Tania.
*** ***
"Mas, aku mau ngomong sesuatu?" kata Ratih.
"Mau ngomong apa, katakanlah?" kata Mas Rahman yang sedang duduk bersandar di ruang tengah.
"Hmmm... Bagaimana kalau kita beli mobi satu Mas," kata ku.
"Mobil, apa uang kita cukup untuk membeli mobil sayang?" tanya Mas Rahman kembali membaca koran.
"Kan kita bisa kredit biar kita bisa bawa Rania dan keluarga jalan-jalan," kataku membujuk Mas Rahman.
__ADS_1
"Terserah sama kamu sayang, mas ikut aja kata-kata mu," kata Mas Rahman.
Aku tersenyum bahagia, aku memeluk mas Rahman. Hari ini aku cepat pulang bekerja karena tugas aku sudah selesai.