Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 84


__ADS_3

"Ada apa lagi kok ribut-ribut!" Ibu datang dari dapur membawa teh lalu meletakkan di atas meja dan kembali duduk dengan kami.


Aku mengambil secangkir teh karena terasa haus dari tadi membuat aku tidak tahan lagi dan langsung meminumnya.


"Hmm... Silvi Bu dari tadi marah melulu?" Kata mas Rahman.


Kenapa dia tidak merasa bersalah atau menyesal karena telah meninggalkan kami atau memang dia sudah tidak mencintaiku lagi, jika benar akan ku lepas dia.


"Bagaimana aku tidak marah, Mas Rahman..." Ibu memotong ucapan Silvi duduk berhadapan dengan mas Rahman.


"Sudah, biarkan Rahman memikirkan semuanya dengan jernih. Jika memang tidak ingin mempertahankan rumah tangganya lagi, ceraikan Ratih dan kamu pergi dari rumah ini,"


Uhuk...Uhukk....


Mas terbatuk saat mendengar perkataan ibu, lalu ia meletakkan gelas yang dia minum. Menatap ke arah ibu dan Silvi.


"Kok ibu bilang begitu? Aku tidak akan menceraikannya, bukankah ibu tahu kalau aku sangat mencintai Ratih!" Kata mas Rahman.


Jika kamu mencintaiku Mas tapi kenapa kau pergi meninggalkan aku dan lebih percaya pada orang lain batinku.


"Jika kamu mencintainya, kenapa kamu tidak kembali di saat dia harus mengalami hal sulit sendirian." Kata ibu membungkam mulut mas Rahman.


"Saat itu aku kalut, Bu. Aku berpikir Ratih melakukan itu semua karena aku berpenyakit," kata mas Rahman lagi.


Dan kini aku malu untuk bertemu dengannya, aku takut dia tidak bisa memaafkan aku.


"Tentu, mbak Ratih tidak akan memaafkan Mas apalagi mas pulang kesini dengan mbak culun ini," kata Silvi menjulurkan lidahnya.


Asem benar ini anak, dia menjahili mbaknya sendiri. Apa dia sengaja membuat aku ingin di pecat sama mas Rahman, apa yang di rencanakan Silvi.


"Maaf, Pak. Jika saya sudah membuat keruh suasana ini," akhirnya aku ikut berbicara menjadi Rara yang culun.


"Sudah, kamu tidak bersalah. Bu, aku mau pamit pulang dulu? Aku titip Rania Bu!" Kata mas Rahman. Mas Rahman melangkahkan kaki keluar dari rumah, akupun ikut berpamitan sama ibu walaupun aku masih sangat rindu pada Rania.


Sepanjang perjalanan mas Rahman hanya diam, kami larut dalam pikiran masing-masing. Aku menatap keluar jendela.


"Rara..!"


"Iya, Pak. Ada apa?" tanyaku menoleh ke arah mas Rahman.


"Boleh aku tanyakan sesuatu?" tanya mas Rahman.


"Boleh, mau menanyakan apa?" Kataku.

__ADS_1


"Jika kamu berada di posisi Ratih, apa yang akan kamu lakukan jika suami kamu seperti aku?" tanya mas Rahman berhasil membuat mataku melotot lalu menatap ke arah mas Rahman.


Untuk apa mas Rahman menanyakan hal itu, Ah aku tahu pasti dia ingin meminta pendapat. Akan aku buat kamu takut untuk meminta maaf padaku Mas.


"Aku tidak akan memaafkannya, pak. Bahkan aku akan membencinya seumur hidup," kata ku menatap ke depan.


"Kenapa?"


"Karena lelaki yang tidak bisa percaya pada istri sendiri tidak pantas di panggil seorang suami, karena apa seorang suami tidak akan meninggalkan seorang istri jika dia benar-benar mencintai istrinya," kata ku.


Mas Rahman menoleh ke arah ku lalu kembali menatap jalan raya.


"Bapak beruntung mempunyai istri sebaik Ratih," kataku.


"Kenapa...?"


"Karena dia perempuan baik, meskipun bapak sudah meninggalkan dia tapi dia masih mau mencari keberadaan bapak sedangkan bapak sendiri hanya diam seakan tidak pernah merasa bersalah," kata ku cukup membuat mulut mas Rahman bungkam kembali.


"Kamu benar, Ratih memang perempuan yang sangat baik. Aku menyesal karena sudah salah paham padanya, aku akan menghubunginya dan mengajaknya ketemuan," kata mas Rahman mengambil ponsel dalam saku bajunya.


Aku terkejut mendengar perkataan mas Rahman, aku dengan tergesa mengambil ponsel lalu mematikannya agar dia tidak tahu kalau Rara adalah aku. Bisa-bisa rencana kami gagal sudah.


"Kok nomornya tidak aktif, apa Ratih sudah mengganti nomor ponselnya," kata mas Rahman kembali menghubunginya nomorku.


2 jam perjalanan, kami sampai di rumah minimalis tapi sangat indah. Tetangga disini sangat ramah-tamah, aku mendengar dari tetangga mas Rahman jarang keluar rumah sehingga kurang berinteraksi dengan tetangga.


Hari sudah beranjak sore, aku harus cepat memasak untuk mas Rahman. Kemarin aku sudah belanja banyak di supermarket juga tadi pagi.


Hari ini aku masak cumi-cumi asam pedas kesukaannya dan omelette agar dia terus hidup dalam bayang-bayang Ratih.


Mas Rahman berjalan ke kulkas untuk mengambil minuman, aku tahu dia pasti penasaran dengan minuman yang aku beli kemarin.


"Kok kamu tahu kalau saya sering minum minuman ini?" Mas Rahman menunjukkan botol minum yang dia minum padaku.


"Ah, mungkin hanya kebetulan saja Pak?" kata ku terus membersihkan cumi-cumi yang ingin aku masak.


"Benarkah, bukankah kebetulan itu hanya ada sekali tapi ini sudah dua kali?" kata mas Rahman lagi duduk di meja makan dekat dengan dapur.


"Ya, kemarin kamu masak ayam rica-rica kesukaan aku dan masakan kamu sama persis dengan masakan Ratih, hari ini pun kamu memasak cumi-cumi asam pedas," kata Mas Rahman.


"Hah, bapak kok tahu kayak paranormal saja tahu menu yang aku masak?" kataku dengan deburan jantung yang tak beraturan.


Mengapa dia harus begitu teliti dalam menikmati masakan aku.

__ADS_1


"Aku tahu bagaimana masakan istriku, tapi aku yakin kamu bukan Ratih istriku yang sedang menyamar bukan,"


Perkataan Mas Rahman cukup membuat aku menghentikan kegiatan aku yang sedang memasak, aku berbalik badan lalu menghadapnya.


"Jika aku adalah istri bapak memangnya kenapa?" kata ku dengan wajah datar.


"Tidak apa-apa?" kata Mas Rahman pergi setelah mengatakan itu semua membuat mood ku berantakan. Aku kembali masak, aku teringat dengan ucapannya jika aku adalah istrinya, dia mau melakukan apa?"


Hatiku terus berperang dengan perasaan yang tidak-tidak, Aku melanjutkan memasak makan malam. Tidak mungkin karena omongan mas Rahman aku mogok masak, bisa-bisa dia akan lebih curiga padaku.


*** ***


Di dalam sebuah kamar, seseorang laki-laki sedang menghubungi seseorang. Dia terus menghubungi hingga panggilannya di angkat.


Siapa lagi kalau bukan Rahman, dia merasa janggal dengan sikap Rara yang sangat mirip sekali dengan Ratih. Kali pertama ia melihat Rara, berharap yang dia lihat adalah Ratih istrinya walaupun tidak di pungkiri Rahman merasa kalau yang ada bersamanya adalah Ratih dalam wujud Rara.


[ Hallo Anggara ]


[ Rahman, Ada apa ]


[ Ah tidak apa-apa, Apa kau tahu Ratih ada dimana ]


[ Kenapa kau tanyakan itu padaku, bukannya Ratih bersama mu ]


[ Maksud kamu ]


[ Tempo hari, Ratih meminta cuti karena dia sedang bersama kamu dan dia juga memberitahukan kalau dia sekarang berada di Jakarta Timur ]


Apa, jadi benar kecurigaan aku selama ini? kalau bersamaku itu adalah Ratih tapi kenapa dia harus menjadi orang lain.


[ Ah, kalau begitu terimakasih atas informasinya Anggara ]


[ Sama-sama ]


Kenapa kamu harus menjadi orang lain untuk menemui aku, Rahman menghembuskan nafas lalu kembali keluar berjalan menemui Ratih.


Penyakit Leukemia yang di deritanya sudah mulai membaik, kanker yang menjalar di dalam tubuhnya kini sudah berhasil hilang walaupun masih ada. Namun, Rahman tidak pernah berputus asa untuk sembuh setelah Dokter Fadli menolongnya.


Ya, Setelah kejadian tempo hari dan di tolong oleh Dokter Fadli yang kebetulan berada di Bandung saat kejadian itu, melihat Rahman tergeletak begitu saja di pinggir jalan sehingga Dokter Fadli membawa bersamanya pulang ke Jakarta.


"Tok...Tok...Tok....


Ketukan pintu membuat langkah Rahman terhenti lalu melangkahkan kakinya ke depan untuk melihat siapa yang datang.

__ADS_1


__ADS_2