Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 55


__ADS_3

Kami berdua saling menatap satu sama lain, siapa lelaki yang mengirim pesan pada Silvi. Kami terdiam dengan pikiran masing-masing, tak lama pesan kembali masuk ke gawai Silvi.


[ Jangan lupa bawa baju yang kemarin yang aku belikan, aku akan mengajak teman-teman ku nanti malam ]


Lagi-lagi pesan itu terkirim, aku semakin shok melihat semua ini. Apa dia korban pelecehan atau memang dia menjadi sugar Daddy di luar sana selama ini.


"Bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan, Mas," tanyaku pada mas Rahman.


Mas Rahman mengambil ponsel dari ku lalu mengetik sesuatu disana, Entah apa aku juga tidak tahu.


"Apa mas punya rencana untuk menangkap mereka?" tanya ku.


Mas Rahman menghela nafas dengan kasar, ia menggepalkan tangan menahan amarah yang sudah di ubun-ubun.


"Nanti malam kamu ikut, Mas. Tolong minta bantuan pada Anggara," kata Mas Rahman.


"Kenapa harus melibatkan dia, Mas!" tanyaku.


"Kenapa, apa kamu keberatan jika minta tolong padanya. Hanya dia yang bisa menolong kita untuk bisa menangkap mereka yang tidak bertanggung jawab itu," kata Mas Rahman.


"Baiklah, Mas. Aku akan meminta bantuannya,"

__ADS_1


"Katakan aku ingin bertemu dengan sekarang," kata mas Rahman.


Aku hanya mengikuti apa yang dia katakan, aku tidak berani untuk membantah di saat situasi seperti ini. Kami kembali ke kamar, aku melihat ibu sudah tertidur di atas sofa. Sementara Silvi kembali tidur.


"Bagaimana Dok, apa adik saya hari ini sudah boleh pulang?" tanya mas Rahman.


Dokter yang baru saja datang ingin memeriksa Silvi menghentikan langkah kakinya, Silvi yang baru saja tidur terbangun.


"Saya periksa dulu, Pak." Kata Dokter berjalan ke arah Silvi dan memeriksa keadaannya.


Kami saling diam, ibu masih terbuai dalam tidurnya sementara Rania berada di rumah. Ibu tidak membawanya karena ia sedang tidur.


"Bagaimana, Dok," tanyaku.


Kami hanya mengangguk, lalu membangunkan ibu untuk mengganti pakaian Silvi.


"Kamu mau kemana?" tanya Silvi.


"Kita mau pulang?"


"Pulang tapi aku tidak tahu dimana orang tuaku sekarang," kata Silvi.

__ADS_1


"Kamu akan tinggal bersama kami, apa kamu bersedia," tanya ku lagi.


Silvi mengangguk lemah, ia hanya diam melihat kami yang sibuk mengemasi barang walaupun tidak banyak.


Kini kami sudah sampai di rumah,Silvi akan tidur di kamar ibu dan Rania akan tidur bersama ku.


"Silvi kamu istirahat saja disini, aku mau ke dapur dulu," kata ku pada Silvi.


ia hanya mengangguk lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, aku berjalan ke dapur untuk meminum teh dingin. Panas-panas begini lebih enak meminum teh dingin.


"Sedang apa, Ratih?" tanya ibu.


"Aku lagi buat teh dingin, Rasanya cuaca panas begini enaknya minum teh dingin," ujar ku tersenyum. Selesai membuat teh dingin aku berjalan ke kamar rasanya lebih nikmat sambil menikmati teh di balkon kamar.


"Mas, mau kemana kok udah rapi saja?" tanyaku.


"Mas mau ketemu sama Anggara, tadi mas sudah menghubunginya," kata mas Rahman memakai baju santai, ia terlihat begitu tampan.


"Apa aku boleh ikut, Mas!" tanya ku berharap mas Rahman mau memberikan aku ikut bersamanya, aku juga ingin membantunya dalam menemukan orang yang membuat Silvi begini.


"Tidak usah, sayang. Mas pergi dulu, kamu hati-hati di rumah,"

__ADS_1


Cup...


Mas Rahman pergi meninggalkan kecupan di keningku lalu turun ke bawah untuk menemui Anggara.


__ADS_2