
Perjalanan masih lama, aku menatap luar jendela dengan perasaan tak menentu. Rasa rindu pada mas Rahman semakin menggebu tapi aku tidak tahu keberadaannya sekarang.
Anak buah Anggara juga belum memberikan informasi tentang mas Rahman, apa aku benar-benar kehilangan mas Rahman. Entahlah aku hanya berharap jika suatu saat mas Rahman mau kembali dan memaafkan kesalahan ku.
Aku baru teringat kalau aku belum memberitahu ibu kalau aku akan kembali ke Jakarta malam ini tapi bagaimana cara aku menjelaskan padanya jika Rania dan Silvi tidak ada bersama ku.
Ah, sebaiknya aku hubungi ibu saja dulu dan mengatakan kalau aku akan pulang malam ini. Tidak mungkin aku menumpang di rumah Anggara, dia terlalu banyak menolong ku.
"Assalamualaikum, Bu!" Kataku setelah terhubung dengan ponsel ibu.
"Wa'alaikumsalam, Ada apa Nak!"
"Ratih cuma mau ngabarin kalau malam ini Ratih kembali ke Jakarta,"
"Iya, Bagaimana keadaan Rahman sudah beberapa hari perasaan ibu tidak enak apalagi nomor Rahman tidak bisa di hubungi," kata itu menanyakan mas Rahman di sambungan telepon.
Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan! Apa ibu akan membenciku jika ia tahu mas Rahman pergi tanpa kabar.
"Mas Rahman baik-baik saja, Bu. Nanti aku hubungi ibu lagi?" Kata ku.
"Ah, iya Klian hati-hati ya?" Kata ibu di seberang telepon.
Aku pun mematikan ponsel milikku, aku menyandarkan tubuhku di jok kursi, sesekali aku menoleh ke arah Stefani.
"Stefani kamu kenapa? Aku perhatikan kamu diam saja dari tadi," tanyaku melihat dia hanya diam bahkan ia enggan mengeluarkan suaranya itu.
"Ah, tidak apa-apa Mbak?"
__ADS_1
"Apa kamu menyembunyikan sesuatu dari kami?" Tebak ku agar dia mau mengakui kesalahannya.
"Menyembunyikan apa, Mbak! Saya tidak menyembunyikan apa-apa," kata Stefani.
Dapat kulihat wajahnya memucat mungkin takut kalau kami berdua tahu rencananya.
"Benarkah, lalu bagaimana dengan ini? Apa kamu bisa menjelaskan pada kami berdua,"
Aku memperlihatkan hasil pesan yang aku screenshot dari Ponselnya, matanya membulat melihat pesan itu. Dia menatap ke arah ku dan juga Anggara, lalu menatap kembali ke arahku.
"Kami berdua hanya ingin kamu jujur, apa kamu ikut terlibat dalam penculikan ini dan kepergiannya mas Rahman," tanyaku.
Hening tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Stefani, ia hanya diam dan aku mencoba untuk menghembuskan nafas agar tidak terasa sesak di dadaku.
"Awalnya aku memang ingin membalas dendam pada Pak Anggara karena dia memecat papaku dari kantor dan kini ia mengalami stroke."
Awalnya dia memang meminta ku untuk melakukan semua itu tapi aku menolaknya sehingga ia melakukan itu sendiri.
Aku hanya diam mendengar penjelasan Stefani, tapi siapa papanya. Anggara terus menyetir mobil lalu sesekali menoleh ke arah kami yang ada di belakang.
"Siapa nama papa kamu kalau saya boleh tahu?" tanya Anggara.
"Pak Mansur?"
Ciiitt.... Ciiitt...
Suara rem mobil mendadak terdengar jelas membuat kami berdua terhuyung ke depan.
__ADS_1
"Maaf, aku hanya kaget. Jadi pak Mansur itu papa kamu," tanya Anggara.
Memang dia sudah memecat pak Mansur karena menggelapkan uang hotel, dulu ia bekerja sebagai menejer hotel milik Anggara yang sangat di percayakan tapi di balik semua itu pak Mansur dengan tega Berkhianat.
"Apa pak Anggara dan mbak Ratih akan memenjarakan aku," kata Stefani dengan bibir bergetar, ia sangat takut membayangkan harus hidup dalam penjara sedangkan dia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
"Kami berdua tidak berhak untuk memenjarakan kamu tapi setidaknya berubahlah untuk menjadi orang yang lebih baik," kata ku.
Bukan menggurui dirinya, aku hanya ingin dia berpikir dengan jernih karena apapun yang kita tanam itupun pula yang kita dapatkan. Aku menatap Stefani mencoba untuk mencair sesuatu yang sedikit tegang, sementara Anggara lebih fokus menyetir mobil miliknya.
Empat jam perjalanan, aku baru sampai di depan rumah yang sudah ku tinggalkan beberapa hari. Ku lirik jam sudah pukul 01 malam, aku berjalan membuka pintu gerbang yang tidak di kunci.
"Kenapa ibu membiarkan pagar rumah begitu saja," kata ku kembali menutup pagar rumah.
Aku berjalan ke arah pintu masuk hendak untuk mengetuk pintu tapi ibu sudah berada di depan ku dengan pintu yang sudah terbuka.
"Ibu kok belum tidur," tanya ku.
"Ibu sengaja menunggu kamu pulang karena ibu sangat rindu sama cucu ibu, Rania. Dimana mereka kok tidak ikut masuk," kata ibu mencoba melihat ke arah di belakang, mungkin Silvi ada di belakang tapi nihil. Tidak ada ibu terus mencari Silvi dan juga Rania, air mata yang sedari tadi aku tahan ternyata jatuh juga.
"Dimana Rahman, Silvi dan Rania, kok mereka tidak ikut pulang bersama kamu," tanya ibu dengan raut kebingungan.
"Ra..Nia dan Silvi di culik, mas Rahman pergi meninggalkan aku Bu?" Kata ku memeluk ibu. Selama ini tidak ada seorang pun yang bisa ku jadikan tempat sandaran kecuali ibu.
"Apa, Rania dan Silvi di culik?" Tanya Ibu mertuaku.
"Iya Bu, ceritanya sangat panjang besok aku akan menceritakan semuanya sama ibu tapi untuk malam ini bolehkan aku tidur bersama ibu," tanya ku di sela Isak tangis, untuk malam ini aku benar-benar lelah dan tidak bisa bercerita apapun, aku hanya ingin istirahat.
__ADS_1
Ibu hanya mengangguk, lalu aku berjalan ke kamar ibu yang ada di bawah dan merebahkan tubuh di atas tempat tidur empuk. Wangi bunga mawar sangat menyeruak ke dalam hidungku sehingga membuat aku tenang bahkan ingin terlelap dalam mimpi dan bertemu mas Rahman di alam mimpi.