Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
ketika istriku tak lagi meminta uang 23


__ADS_3

Aku tidak menemukan info apapun pada Siti, aku berjalan ke taxi menuju ke kantor. Ku lirik jam masih pukul 8:20 menit, aku punyak waktu untuk segera sampai ke kantor.


Di dalam mobil aku hanya diam, melihat ke arah jendela banyak anak-anak jalanan yang mulai berdiri di lampu merah untuk mencari uang.


"Pak, lebih cepat sedikit soalnya saya sudah lambat ke kantor," kata ku pada sopir taxi.


"Baik, Bu,"


Mobil terus melaju kencang, jalanan mulai lalu lalang orang untuk berangkat bekerja seperti ku. Tak lama kemudian, aku sampai di depan kantor lalu membayar ongkos taxi tersebut.


Aku turun dari mobil lalu masuk ke dalam kantor menuju ruangan ku lantai atas, Semua karyawan sudah pada datang dan mengerjakan pekerjaan masing-masing termasuk diriku.


"Ratih, pak Anggara meminta rekapan bulan lalu," kata Dewi. Aku hanya mengangguk lalu mengambil berkas yang sudah tersimpan di bawah laci meja kerjaku. Aku berjalan menuju ruangan pak Anggara.


"Pak, ini berkas yang bapak minta," aku memberikan berkas pemasukan dan pengeluaran setiap bulannya.


"Baiklah, nanti sore jangan lupa datang ke acara kantor," kata Anggara sambil mengecek berkas yang aku berikan tadi.


"Memangnya ada acara apa, Pak?" tanya ku penasaran soalnya aku tidak pernah tahu acara apa.


"Acara untuk pengangkatan jabatan bagi orang-orang yang berprestasi."


"Baik, saya akan datang,"


"Jangan lupa, bawa suami mu sekalian," kata pak Anggara.


Bawa suami, untuk apa? Apa mas Rahman akan naik jabatan, Ah mana mungkin atau semua ini menyangkut kejadian kemarin di kantin kantor. Aduh, bagaimana kalau aku akan di pecat karena kejadian kemarin. Sebaiknya aku tanyakan lebih jelas pada Sinta saja karena ia lebih tahu, dia kan menjabat sebagai sekretaris pak Anggara.


Ah, benar lebih baik ku temui saja dia. Aku mencari Sinta di ruangannya tapi tidak ada dia disana. Kemana dia, sebaiknya nanti sepulang dari kantor aku temui saja dia di rumahnya.

__ADS_1


Karena tidak menemukan Sinta, aku kembali ke meja kerja ku. Aku harus mengerjakan beberapa tugas tentang pengeluaran dan pemasukan hasil dari pada bangunan hotel yang sedang di buat di Jakarta Selatan karena untuk sementara menejer yang mengenai masalah ini sudah di pecat oleh pak Anggara.


🌷🌷🌷


Hari ini kami semua karyawan di bolehkan untuk pulang lebih cepat, karena nanti malam kami akan menghadiri acara pengangkatan untuk karyawan yang sudah berprestasi, semoga aku termasuk salah satu di antara mereka. Semua di suruh untuk datang termasuk para OB dan OG.


Acara ini cukup menegangkan untuk ku karena terkait kejadian kemarin, bisa-bisa aku di pecat dari kantor karena membuat keributan di kantor tapi bukan aku yang memulainya tapi pak Andi duluan.


"Nanti ada acara kantor, kamu ikut ya Mas," kata ku setelah sampai rumah dan makan siang bersama ibu juga mas Rahman.


"Memangnya ada acara apa, sayang?" tanya mas Rahman.


"Acara penaikan jabatan untuk karyawan yang berprestasi dan seluruh karyawan harus ikut,"


"Iya, nanti kita berangkat bersama tapi mas tidak ada baju bagus," kata mas Rahman.


Aku baru ingat kalau mas Rahman tidak punya lagi baju bagus, aku mengambil ponsel lalu membuka aplikasi shoope untuk memesan baju untuk mas Rahman pakai untuk datang Ke acara kantor.


"Baiklah asal kamu tidak malu melihat suamimu yang kurang berpenghasilan ini," kata ku.


Hatiku tercubit kala mendengar ucapan mas Rahman, memang selama aku mengusirnya tidak ada lagi baju mas Rahman yang bagus. Hanya ada baju yang sudah usang di dalam lemari.


Selesai makan, aku berjalan ke kamar untuk menyusui Rania. Entah Kenapa hari ini dia tidak mau makan nasi, hanya menyusui saja. Tubuhnya memang panas dan rewel.


"Bagaimana Rania masih rewel?"


"Sudah tidak lagi, mungkin karena badannya panas makanya Rania rewel," kata ku mengelus pucuk kepala Rania.


Aku memejamkan mata untuk istirahat, begitu juga dengan mas Rahman tidur di sampingku. Aku membalikkan badan agar berhadapan dengannya, ku lihat mas Rahman sudah tidur pulas mungkin kelelahan. Namun, aku melihat darah segar mengalir dari hidung mas Rahman.

__ADS_1


"Mas, hidung kamu keluar darah lagi," kata ku mengambil tissu di atas nakas di samping tempat tidur ku, dengan tergesa-gesa mas Rahman bangun lalu mengelapkan darah dengan tissue yang ada di tangan ku.


"Sebenarnya kamu sakit apa sampai keluar darah begini?" tanya ku terus membersihkan darah di hidungnya.


"Tidak apa-apa, mungkin karena mas terlalu capek tadi di kantor makanya keluar darah dari hidung mas lagian mas lupa minum obat siang ini," ujar mas Rahman bangkit mengambil obat di dalam laci lalu membuka satu persatu dan menelannya.


"Minumnya, Mas," ku sodorkan minum yang sengaja ku sediakan di dalam kamar jika habis agar tidak bolak balik ke dapur untuk mengambilnya.


"Ayo, tidur lagi nanti setelah bangun sudah sehat kok," kata mas Rahman.


"Tapi mas benaran kamu tidak apa-apa?" tanyaku merasa khawatir dengan kondisi mas Rahman saat ini.


"Iya, mas baik-baik saja! Ayo tidur siang," kata mas Rahman menarik aku lebih dekat dengannya, ia membenamkan kepalaku di dadanya. Deru nafasnya menerpa kepala ku, sebaiknya aku tidur saja dari harus memikirkan sesuatu yang tidak bisa terpecahkan.


🍊🍊🍊


Aku terbangun kala mendengar suara azan berkumandang, aku melihat jam di dinding ternyata sudah pukul 04:00 sore. Aku baru ingat kalau ada pesan baju mas Rahman di shoope, apa kurirnya sudah datang atau jangan-jangan paket belum datang lagi.


Aku berjalan keluar kamar, berlari melihat Paket mungkin sudah di terima oleh ibu tapi juga tidak ada. Aduh bagaimana ini, lebih baik aku tanya pada ibu saja.


"Bu, ada datang kurir paket tidak?" tanyaku melihat ibu sedang asik menonton tv di ruang keluarga.


"Ada di kamar ibu, ambil saja," kata ibu.


Aku berjalan masuk ke kamar ibu lalu mengambil bungkusan tadi tapi ibu dapat uang dari mana buat bayar baju yang aku pesan. Kan, aku tidak memberi ibu uang.


"Ibu dapat uang dari mana bayar kurir tadi?" tanya ku penasaran.


"Tadi di kasih uang sama Rahman untuk membeli bahan dapur yang sudah mulai menipis tapi tidak ibu belanja karena tadi kurirnya datang, jadi ibu terima terus karena kurirnya ingin cepat-cepat mengantarkan barang yang lain." kata ibu panjang lebar seperti rel kereta api saja.

__ADS_1


Duh, aku jadi berburuk sangka pada ibu. aku pikir ibu mendapatkan uang dari mencuri soalnya ibu kan pernah mengambil emas ibuku sudah tentu aku harus hati-hati untuk ke depannya.


karena setiap sekali pasti ada untuk kedua kalinya bukan


__ADS_2