Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
bab 137


__ADS_3

Kami pulang ke rumah saat matahari sudah tenggelam, tadi aku kembali ke kantor untuk mengerjakan tugas ku. Aku tidak mungkin bisa cuti lagi karena sudah berapa aku mengambil cuti.


Aku hanya takut karyawan akan membicarakan aku karena aku berteman dengan Anggara, aku melangkahkan kaki ini ke dalam rumah. Menaiki tangga satu persatu, rumah terlihat sepi mungkin saja Ibu dan Rania sudah tidur duluan tapi mana mungkin ini kan masih jam 7 malam.


"Mas, kok sepi ya? Ibu dan Rania kemana?" Kata ku mengedarkan pandangan mencari ibu, aku berjalan ke arah kamar ibu tapi nihil mereka tidak ada disana lalu di mana mereka jam segini belum pulang.


"Mungkin ibu jalan-jalan sama Rania, Mas ke atas dulu soalnya mas capek banget," kata Mas Rahman menaiki tangga satu persatu sedangkan aku masih khawatir karena ibu dan Rania gak ada di rumah. Aku mengambil ponsel untuk menghubungi ibu namun suara deru mobil berada di depan rumah.


"Apa mungkin itu ibu dan Rania," gumam aku sendirian, berjalan kembali ke depan.


"Ya Allah, ibu sama Rania dari mana saja?" tanya ku khawatir melihat ibu baru saja pulang bersama Rania, putriku memang sudah berumur tiga tahun tapi aku takut jika ia kenapa-napa.


"Ibu baru saja dari rumah pak Brata, tadi ia sangat merindukan Rania makanya Ibu kesana," kata ibu berjalan masuk menggendong Rania yang ketiduran.

__ADS_1


"Biar Ratih aja yang gendong Rania, Bu,"


Aku mengambil Rania dalam gendongan beliau, seharian aku tidak melihat putriku dan saat malam dia sudah duluan tidur, aku meletakkan Rania di atas ranjang kamar ibu.


Karena ia sudah berumur tiga tahun, tidak mungkin ia masih tidur bersama kami. Apalagi dia sering bangun tengah malam.


Aku mengecup kening putri ku setelah menyelimuti tubuh mungilnya, aku hanya berharap setelah besar nanti dia akan tumbuh wanita yang tangguh dan cerdas.


Aku keluar dari kamar ibu lalu menaiki tangga satu persatu, aku berjalan ke dapur melihat ibu tengah asik dengan alat dapur.


"Tidak sayang, cuma ibu panaskan makanan tadi siang. Kamu ajak Rahman makan ya," kata ibu.


Aku mengangguk lalu berjalan menuju kamar ku di atas, aku menekan handle pintu dan melihat mas Rahman sudah kembali segar, rambutnya yang basah menambahkan ketampanannya membuat mata ku tak berkedip.

__ADS_1


"Hai, liat suami mu kok gitu banget," kata Mas Afnan berjalan ke arah ku.


"Habis suamiku tampan sekali," ujar ku senyum-senyum menahan malu.


Mas Rahman semakin mendekati aku, apa yang ingin di lakukan. Apa dia ingin meminta haknya sebagai suami ku, memang semenjak wajah mas Rahman berubah. Aku belum memberikannya hak itu, aku pikir karena kami baru saja kembali bertemu dengan wajah yang berbeda.


"Benarkah, kalau begitu...!"


Mas Rahman menggantungkan ucapannya membuat aku semakin penasaran.


"Apa, Mas?"


Deru nafas mas Rahman kembali berderu, aku tahu hasratnya sedang menggebu-gebu tapi mana mungkin aku melakukannya dalam keadaan aku belum bersih.

__ADS_1


"Mas, aku mau pergi mandi dulu," kata Ku berjalan ke kamar mandi mengambil handuk , Mas Rahman hanya tersenyum sepertinya dia memang ingin mengerjai aku.


Aku mengambil handuk lalu berjalan ke kamar mandi, jantung ini berdegup kencang seakan enggan untuk berhenti. Aku memutar kenop air agar aku bisa anda, merilekskan tubuh ini


__ADS_2