
Rahman akhirnya pulang dari rumah sakit, ia turun dari taksi yang membawanya pulang ke rumah Ratih. Tubuhnya yang lemah di paksa untuk berjalan sekuat tenaga, wajahnya memucat membuat ia tidak patah semangat untu bertemu dengan Ratih dan menjelaskan semuanya.
Tapi sayang rumah Ratih terkunci, ia duduk di atas lantai di depan pintu lalu menyandarkan tubuhnya. Bu Romlah merasa kasihan melihat putranya, air matanya terus menetes melihat anaknya yang selama ini harus berjuang dengan penyakit mematikan itu tapi harus menghadapi kebencian istrinya.
"Rahman, kita pulang saja biar nanti kita cari Ratih." kata Bu Romlah mengajak Rahman untuk pulang ke rumahnya. Dia begitu tidak terhadap putranya.
"Ibu pulang saja, aku mau menunggu Ratih pulang mungkin dia pergi ke kantor," kata Rahman masih duduk dengan tubuh yang semakin melemah, ia merasa kepalanya pusing tapi ia mencoba untuk bertahan. ia tidak ingin pergi sebelum memberi kejutan untuk Ratih dan menjelaskannya.
Bu Romlah pasrah dengan keteguhan Rahman yang tetap ingin menunggu Ratih pulang walaupun Bu Romlah ragu dengan Ratih mau memaafkan Rahman.
Di Kantor Sanjaya Abadi group.
Ratih duduk termenung di depan meja kerjanya, pikiran berkelana teringat dengan Rahman yang ia tinggal di rumah sakit dan pergi begitu saja tanpa mau mendengarkan penjelasan Rahman sedikit pun.
Perasaannya tidak enak, ia begitu susah dan gelisah, ia takut terjadi apa-apa pada Rahman. Meskipun begitu, ia tidak meninggalkan Rahman dalam kondisi saat ini.
Dia hanya marah karena merasa di permainkan oleh keadaan, ia tidak bersemangat sama sekali.
"Ra, kamu kenapa?" tanya Sinta. Aku diam lalu menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa mungkin lagi tidak enak badan saja," kata Ratih pada Sinta. Ia melihat ke arah perut Sinta yang menonjol.
"Sinta , perut kamu seperti orangt hamil saja. jangan-jangan kamu hamil lagi," kata ku menjebaknya.
"Apa, hamil! ada-ada saja kamu. aku ini belum menikah," kata Sinta dengan gugup.
"Tapi aku kemarin lihat kamu di rumah sakit kasih ibunda bersama pak Sanjaya, memangnya ada hubungan apa kamu dengan pak Sanjaya," Aku mencoba berbisik di telinga Sinta agar tidak terdengar oleh orang lain.
Mata Sinta melotot ingin keluar, tubuhnya membeku tat kala mendengar ucapan ku. Apa benar kalau ia memiliki hubungan dengan pak Sanjaya.
"Oh, kemarin aku ke rumah sakit ingin menjenguk Nyonya Sonya, kebetulan ketemu sama pak Sanjaya lalu aku di antar pulang ." kata Sinta.
"Bu Ratih, pak Anggara meminta anda ke ruangannya," kata seseorang karyawan.
Aku hanya mengangguk, untuk apa pak Anggara memanggil aku. Apa ini masalah kemarin. Sebaiknya aku pergi saja.
Aku berjalan ke ruangan pak Anggara, di sana sudah ada dua orang karyawan. Ada apa ini, apakah kami akan di pecat.
"Ada apa bapak memanggil saya?" tanya aku.
__ADS_1
"iya, jadi kalian aku kumpulkan disini karena aku melihat kinerja yang tidak becus, Hari ini kalian terpaksa saya pecat."
Apa, di pecat! bagaimana ini kok aku di pecat. Bagaimana aku bisa menyembuhkan penyakit mas Rahman kalau aku tidak pecat. Keringat dingin mulai keluar.
"Ratih, ini untukmu?" pak Anggara memberikan amplop putih padaku juga pada mereka berdua, kok tipis, apa pak Anggara memberi cek pada kami.
"Buka lah," pinta pak Anggara.
Aku terperangah saat melihat nama ku tertera di saat dan di angkat menjadi menejer keuangan. Aku terasa bermimpi bisa memiliki jabatan tinggi, aku bersyukur.
"Aku harap kalian bisa menjadi orang yang Amanah dan di percaya di perusahaan ini," kata Anggara.
Lidah ku kelu saat berbicara untuk mengucapkan terima kasih saja aku tak sanggup.
Jam menuju pukul 19:00 wib, aku baru pulang dari kantor dengan memangku Rania di pundak ku. Aku melihat seorang lelaki terduduk di lantai depan pintu rumah membelakangi ku.
Aku berjalan lalu meletakkan Rania dia atas kursi, aku berjalan untuk melihat lelaki yang sudah tertidur di depan rumah.
"Mas, anda kenapa tidur di rumah saya," aku menggoyang bahu lelaki tersebut dan aku kaget saat lelaki itu terkulai lemas tak berdaya.
__ADS_1
"Mas Rahman...!"