Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta 127


__ADS_3

"Tidak...!" Amelia yang baru saja pulang langsung berjalan ke arah Afnan lalu duduk di sampingnya.


"Tidak! maksud kamu apa Mel?" kata Pak Brata pada putri kesayangannya.


"Ya, Aku tidak mau Mas Afnan pergi dari sini, pasti Mas Afnan mau kembali ke rumah mas Afnan bukan," kata Amalia membuat pak Brata memicingkan matan.


"Kenapa kamu tahu?" tanya pak Brata lagi.


"Tadi aku tidak sengaja lewat dan lihat Mas Afnan bersama perempuan, namanya Ratih betulkan Mas," kata Amelia melihat arah Afnan.


Afnan merasa di intimidasi hanya diam , tidak menjawab pertanyaan Amelia. Dia menatap ke arah Bu Lidya lalu berjalan ke arah beliau.


"Ma, izinkan aku kembali bersama keluarga aku! aku janji akan sering nengokin mama kesini," kata Afnan menggenggam tangan Bu Lydia berharap hati Bu Lydia luluh.


Bu Lidya menatap Afnan dengan nyalang, ia tidak ingin jauh dari Afnan kalau bisa ia tidak ingin Afnan keluar dari rumah ini tapi bagaimana jika ia tetap melarang Afnan pasti akan pergi meninggalkannya.


Bu Lidya menarik tangannya, Pak Brata menghembus nafas kasar. Dia sangat tahu bagaimana watak istrinya yang sedikit keras.


"Mama jangan egois, biarkan Afnan menemui keluarga kecilnya. Kita tidak bisa mengambilnya dari keluarganya Ma," kata pak Brata.


"Papa, Afnan ini putra kita! Mama tidak ingin dia meninggalkan Mama. Papa tahu, kita lah yang sudah memberikan kehidupan yang baru untuk kita kali kenapa kita merasa kalau Afnan bukan milik kita," kata Bu Lidya dengan suara keras, perdebatan kecil terdengar menggema di ruangan tamu.


Ketakutan pak Brata akhirnya terjadi, kalau istrinya tidak akan melepaskan Rahman keluar dari rumahnya.


"Mama, bukankah mama dulu berjanji akan mengembalikan mas Afnan pada keluarganya," timpal Amelia.


"Amelia, masuk kamar!" bentak Bu Lydia.


"Tapi Ma....," kata Amelia mencoba membela tapi melihat Mamanya tersenyum amarah membuat Amelia menaiki tangga lalu berjalan ke kamarnya.


"Tidak ada yang boleh keluar dari rumah ini dan ingat, kamu adalah Afnan bukan Rahman kalau bukan karena pertolongan ku, mungkin kamu tidak selamat kala itu," Hardik Bu Lidya mengungkit tentang ia menyelamatkan Rahman lalu pergi ke kamarnya.


Pak Brata tidak bisa menolong, ia berjalan ke arah Afnan yang hanya bisa menunduk. Malam ini ia begitu rindu dengan istrinya, rindu yang sudah lama tersirat bukan tersurat.

__ADS_1


"Maafkan mama, dia hanya tidak ingin jauh dari kamu," kata Pak Brata menepuk pundak Afnan lalu pergi meninggalkan Afnan sendirian di ruang tamu.


Dia duduk di atas sofa lalu menyalakan rokok. Asap mengepul terhembus keluar melalui mulutnya, kembali menghisap lalu kembali ia keluarkan. Dia begitu frustasi dengan semua ini, ia tidak mungkin tinggal disini tanpa istrinya.


Apa aku bawa saja dia kemari, dengan begitu aku bisa dengan dengan istri dan Mama tidak punya teman bermain.


Ah, sebaiknya aku kirim pesan saja pada Ratih.


[ Sayang, besok jam 08:00 pagi mas jemput kamu. Sekarang sudah malam, tidur ya ]


Afnan mengirimkan pesan untuk Ratih, berharap dia akan membacanya lalu berjalan bkr kamarnya untuk istirahat.


**** ****


Keesokan pagi, aku sudah siap-siap setelah membaca pesan dari Mas Rahman. Aku tidak tahu, dia akan membawa kami kemana? tapi intinya aku ingin terus bersama mas Rahman.


Weekend begini biasanya mas Rahman akan mengajak kami ke taman bermain tapi kali ini aku dan Rania hanya berada di rumah.


Deru suara mobil terdengar cukup jelas, aku berjalan ke depan berharap kalau itu adalah mas Rahman. Ternyata benar dia adalah mas Rahman, aku menyambut dengan bahagia.


"Apa sudah siap?" tanya Mas Rahman.


"Memangnya kita mau kemana, Mas?" tanyaku penasaran karena semalam mas Rahman menyuruhku untuk bersiap-siap.


"Untuk sementara, kamu dan Rania akan tinggal di rumah pak Brata karena mas tidak bisa keluar dari rumah itu begitu saja sayang," kata Mas Rahman sepertinya frustasi.


"Kenapa memangnya, Mas!" tanya ku penasaran.


"Bu Lidya tidak bisa jauh dari Mas karena ia menganggap mas putranya bernama Afnan yang sudah meninggal satu tahun yang lalu.


Aku tercekat kalau mendengar penuturan mas Rahman. Bagaimana bisa Bu Lydia menganggap mas putranya jika yang sebenarnya mas Rahman tetaplah Mas Rahman walaupun wajah sudah berubah.


"Lalu, apa mas harus bersama keluarga pak Brata lalu bagaimana dengan kami," kata Ku sedikit kesal.

__ADS_1


"Sementara kamu berhenti bekerja dulu dan tinggal disana, buat Bu Lidya mengerti kalau tindakan beliau salah," kata Mas Rahman lagi.


"Baiklah, aku setuju! tapi ingat Mas, jika Bu Lidya tidak mau mengerti juga kita akan pergi dari rumah itu," kata ku datar.


Rasanya amarahku sudah di ubun-ubun, ingin sekali aku mencaci dirinya tapi itu semu bukan sifat ku. Akan aku buat dia melepaskan mas Rahman dengan sendirinya tanpa menyangkut paut dengan pertolongannya.


"Apa kamu yakin membawa istri mu ke rumah itu, Man," kata itu tiba-tiba datang membawa segelas teh untuk mas Rahman, kami menoleh ke arah ibu lalu duduk bersama.


Setidaknya ibu harus tahu bagaimana kondisi mas Rahman sekarang, untuk saat ini aku meninggalkan ibu dan Silvi di rumah. Aku akan ikut mas Rahman tinggal bersamanya.


"Iya, Bu! Aku tidak bisa jauh dari Ratih lagi Bu. Sudah lama kami terpisahkan dan kini aku ingin bersama-sama Bu," kata Mas Rahman, aku hanya diam Mendengar percakapan antara ibu dan anak ini.


Aku pamit menaiki lantai atas dan berjalan ke kamar untuk menggendong memandikan Rania putriku yang sudah berumur 2, di sana aku harus beradaptasi dulu dengan orang-orang yang tidak aku kenal.


****


Kami sampai di pelataran rumah pak Brata, rumahnya sangat mewah dengan desain modern bercampur dengan klasik membuat rumah ini sangat menawan.


Aku di bawa masuk ke dalam bersama Rania, terlihat dua orang yang sedang cengkraman tapi tunggu bukankah wanita itu yang tempo hari bertemu di restoran.


"Afnan, siapa dia?" tanya Bu Lidya tak suka melihat ke arah Ratih.


"Dia istriku, Ma! namanya Ratih dan dia akan tinggal disini bersama kita," kata mas Rahman datar menatap Bu Lidya, aku hanya bisa diam dan mengikuti langkah mas Rahman.


"Afnan, Mama tidak...!"


"Keputusan ku sudah bulat atau tidak sama sekali," kata Mas Rahman membawa aku menaiki tangga, aku hanya mengangguk lalu ikut naik tangga bersama mas Rahman ke lantai atas.


"Tante, kok Afnan cuekin Widuri!" ujar Widuri.


"Sudah, kamu tidak sudah bersedih. Afnan biarkan menjadi urusan Tante, sekarang kamu pulang dulu ya?" kata Bu Lidya bukan niat mengusir tapi dia hanya ingin menanyakan seseorang yang di bawa Rahman bersama.


Sekalipun Afnan sudah mengatakannya tak cukup untuk Bu Lidya, Widuri pulang dengan wajah kesal dan membuat ia akan semakin gencar untuk mendapatkan cinta Afnan.

__ADS_1


__ADS_2